Nasi Liwet dan BMW

Jatuh cinta pada keduanya sekaligus

Nasi Liwet dan BMW

 

Sekitar tahun 1990 an, saya baru mulai berkecimpung di dunia kuliner. Pada saat itu pun saya memulai perjalanan kuliner dari mancanegara. Saya belum mengambil keputusan untuk memperdalam kuliner Nusantara.

Pada suatu ketika saya harus mengadakan perjalanan melalui darat ke Jawa Tengah, salah satu itinerary perjalanan singgah dan menginap di Solo satu malam. Saya ingat punya seorang teman yang ketika dulu saya sekolah di San Fransisco dia tinggal di Solo. Untung saya menyimpan alamat dan nomor telepon rumahnya. Setiba di hotel sekitar jam 4 sore, saya menelepon rumahnya. Ibu teman saya  mengatakan kalau teman saya itu masih di kantor. Sang Ibu lalu memberi nomor telepon kantor.

Ketika saya mendengar suara saya, ia bukan main gembiranya. Ia setengah berteriak mengatakan harus berjumpa. Harus bertemu. Saya pun setuju, memang tujuan saya mencari dia supaya kami dapat bertemu. Tetapi ia baru selesai kerja sekitar jam delapan malam. Saya pun mengiyakan untuk bertemu, tidak apa-apa malampun jadi kata saya kepadanya.

Hampir jam sembilan ia datang menjemput saya di hotel. Ketika bertemu di lobby langsung kami berpelukan erat. Seperti orang yang sudah puluhan tahun tidak bertemu.

“Yuk kita cari makan sambil makan, lapar nih.”

Kami berjalan menuju tempat parkir. Begitu memasuki mobilnya saya langsung berteriak dengan spontannya.

“Wihhhdiiihhh mobil baru euy.”

“Sok tau,” katanya

“Lah ini, bau kulitnya aja belum apek. Masih seger.”

Teman ku itu hanya tersenyum, sepertinya senang dapat pujian dari saya.

Lalu ia memberitahu kalau rencananya, ia mau mengajak saya makan nasi liwet. Katanya nasi liwet itu ramai, baru buka sekitar jam sepuluh. Karena menurutnya harus antre lebih baik langsung kesana dan bisa tunggu di mobil sambil ngobrol.

Saya hanya mengiyakan saja. Saya tidak ada bayangan nasi liwet itu seperti apa. Saya pun tidak bertanya nasi liwet itu seperti apa. Lebih asyik bercakap-cakap menjemput semua cerita yang tertinggal selama ini. Dan juga berbagi cerita apa yang terjadi pada diri saya selama kita berpisah.

Sampailah kami pada suatu daerah, seperti daerah pertokoan. Berderet toko-toko di kiri dan kanan. Suasana sangat sepi. Pada saat itu toko-toko masih memakai tutup pintu dengan papan satu per satu disusun berdempetan sepanjang etalase toko. Hampir semua toko disana tutup. Dalam hati saya pasti salah satu diantara toko yang tutup itu segera buka dan di sanalah kami akan menyantap nasi liwet. Beberapa mobil sudah parkir di sana.

Sambil bercerita kesana-kemari, sesekali ia melihat kaca spion. Tiba-Tiba ia mengajak turun katanya sudah hampir buka. Kami turun dari mobil. Dan berjalan menuju ke arah belakang mobil. Saya melihat seorang wanita setengah baya berpakaian kebaya, bersanggul kecil diatas kepalanya yang hampir penuh dengan uban, duduk di depan emperan toko. Di depannya terdapat gelaran berbagai macam lauk-pauk. Suasana gelap remang-remang, ada beberapa lampu minyak tanah menerangi makanan yang digelar di lantai. Di depan pajangan makanan ada kursi pendek. Pendek sekali, kalau di rumah saya kursi itu yang dipakai oleh si mbak untuk mencuci baju.

Jujur saya lumayan kaget, tetapi pura-pura tenang, kok saya bisa dibawa ke tempat seperti ini. Sebelum giliran kami, sudah ada beberapa orang yang sudah menunggu terlebih dahulu. Satu per satu mereka mengambil kursi pendek itu. Lalu berjejer duduk berhadapan dengan Ibu penjual makanan.

Hebatnya sang Ibu itu tahu siapa yang harus dia layani terlebih dahulu dan siapa yang berikutnya. Salah satu dari tamunya memesan 8 bungkus nasi liwet untuk dibawa pulang. Pada saat itu saya melihat cara Ibu ini melayani penuh kelembutan dan sangat telaten. Tangannya pindah dari satu lauk ke lauk yang lainya dengan kecepatan sangat perlahan. (menurut ukuran saya) Iya saya mengatakan sangat perlahan sepertinya saya sedang menonton film slow motion gitu.

Suasana tenang-tenang saja, tidak ada seorang pun yang terkesan tergesa-gesa. Saya berpikir saat itu saya sebagai orang Jakarta apa-apa serba ingin cepat. Agak gedebak-gedebuk. Jujur rasanya melihat gerakan tangan Ibu itu saya sudah agak tidak sabar.

Giliran sampai pada kami. Teman saya dengan Bahasa Jawa, memesan dua nasi liwet.

“Ly, komplit ya.”

Saya hanya mengiyakan saja.

Sepiring nasi di atas daun, ada ayam opor suwir, telur pindang, dan sambal goreng pepaya muda. Lalu teman saya menawari tempe-tahu bacem, dan aneka lauk pendamping lainnya yang ditusuk dengan tusukan sate. Seperti telur puyuh, usus, hati, dan lainnya.

Itulah pertama kali saya makan Nasi Liwet Solo. Saya langsung jatuh hati pada suapan pertama. Benar-benar menyesal kenapa tadi saya hanya memesan satu piring. Kalau tahu bakal tahu seenak ini harusnya langsung pesan dua piring, karena kalau mau tambah pasti lama sekali. Antriannya sudah panjang.

Gurihnya nasi bercampur dengan kelembutan areh (yang baru saya tahu juga namanya areh pada saat itu) ditambah sedikit pedas rasa lemak santan yang ringan meliput sempurna dengan irisan-irisan tipis pepaya muda. Wah, luar biasa seperti supper yang sempurna untuk mengantar mimpi indah pada malam itu.

Yang membuat saya terkagum-kagum adalah konsiten tempo gerak sang Ibu. Ia tidak gugup atau pun mempercepat pelayanannya melihat antrean sepanjang itu.

“Cocok Ly?”

“Gila, aku serasa seperti orang jatuh cinta.”

“Terima kasih.”

“Hush, jatuh cinta pada nasi liwet itu.”

 “Oh”

 “Dan juga jatuh cinta pada BMW baru mu ini”