Lelaki di ujung senja

Lelaki di ujung senja

Lelaki di ujung senja
Pentigraf
Seperti biasa aku duduk di dekat jendela kamarku ,setiap selesai membantu ibuku memasak sore hari. Ada rasa yang tak biasa bergejolak di batinku saat senja mulai kemerahan di ufuk barat. Aku menanti seseorang yang selalu berhasil menciptakan rona bahagia setiap dia melemparkan senyum padaku. Walau hanya sekejap saja pandangan kami saling beradu namun tetap saja aku setia di sini menunggunya .

Dari jauh kudegar desing motornya yang sangat familiar di telingaku, dengan balutan jaket berwarna biru serta topi yang senada dengan warna jaketnya , di atas kuda besi dengan gagahnya . seperti biasa dia berbalik sekilas saat melewati rumahku yang jendela kamarku berhadapan dengan jalan raya. Dia melemparkan senyum sekilas kepadaku kemudian berlalu tapi cukup membuat hatiku berdebar bahagia. aku menunggunya tiap senja menjelang ,tak pernah bosan aku menunggunya walau dengan imbalan seulas senyum darinya.

Hari ini kembali aku menunggunya dengan jantung berdebar , namun menjelang magrib aku tak mendengar  suara motornya yang sudah akrab dengan telingaku. Hatiku mulai gelisah, "aku pasti tak dapat tidur malam ini "bisikku dalam hati . Aku beranjak meninggalkan tempat dudukku dengan kecewa . Tiba-tiba seseorang menyapaku dari ujung jalan , dia melambaikan tangan mengisyaratkan aku untuk mendekat padanya. Aku berlari dengan semangat menemuinya , kini bukan lagi seulas senyum yang kudapatkan tapi bercakap langsung dengannnya seperti yang sudah lama aku sangat dambakan. Tiba di dekatnya dia menyodorkan sesuatu padaku, jantungku semakin berdebar kencang , surat cintakah? Setelah kuterima dia langsung melangkah pergi tanpa berkata apa-apa. Kutatap surat yang baru kuterima, aku tak mampu menahan air bening yang mulai menerobos keluar di pelupuk mataku "ah , undangan pernikahan" kecewanya hatiku membaca undangan pernikahan itu , kulemparkan itu ke got dekat rumahku sembari berlari pulang dengan air mata berderai.

Lelaki di ujung senja
Pentigraf
Seperti biasa aku duduk di dekat jendela kamarku ,setiap selesai membantu ibuku memasak sore hari. Ada rasa yang tak biasa bergejolak di batinku saat senja mulai kemerahan di ufuk barat. Aku menanti seseorang yang selalu berhasil menciptakan rona bahagia setiap dia melemparkan senyum padaku. Walau hanya sekejap saja pandangan kami saling beradu namun tetap saja aku setia di sini menunggunya .

Dari jauh kudegar desing motornya yang sangat familiar di telingaku, dengan balutan jaket berwarna biru serta topi yang senada dengan warna jaketnya , di atas kuda besi dengan gagahnya . seperti biasa dia berbalik sekilas saat melewati rumahku yang jendela kamarku berhadapan dengan jalan raya. Dia melemparkan senyum sekilas kepadaku kemudian berlalu tapi cukup membuat hatiku berdebar bahagia. aku menunggunya tiap senja menjelang ,tak pernah bosan aku menunggunya walau dengan imbalan seulas senyum darinya.

Hari ini kembali aku menunggunya dengan jantung berdebar , namun menjelang magrib aku tak mendengar  suara motornya yang sudah akrab dengan telingaku. Hatiku mulai gelisah, "aku pasti tak dapat tidur malam ini "bisikku dalam hati . Aku beranjak meninggalkan tempat dudukku dengan kecewa . Tiba-tiba seseorang menyapaku dari ujung jalan , dia melambaikan tangan mengisyaratkan aku untuk mendekat padanya. Aku berlari dengan semangat menemuinya , kini bukan lagi seulas senyum yang kudapatkan tapi bercakap langsung dengannnya seperti yang sudah lama aku sangat dambakan. Tiba di dekatnya dia menyodorkan sesuatu padaku, jantungku semakin berdebar kencang , surat cintakah? Setelah kuterima dia langsung melangkah pergi tanpa berkata apa-apa. Kutatap surat yang baru kuterima, aku tak mampu menahan air bening yang mulai menerobos keluar di pelupuk mataku "ah , undangan pernikahan" kecewanya hatiku membaca undangan pernikahan itu , kulemparkan itu ke got dekat rumahku sembari berlari pulang dengan air mata berderai.