K.I.T.A

Cerpen fiksi

K.I.T.A

K.I.T.A

Aku masih setia menanti janjinya bertemu di sini ditemani wangi espresso pekat masuk ke hidung. Belum mau kuseruput, cukup menikmati aroma saja dulu. Pandanganku terpaku pada poto yang terpampang di layar gawai. Poto sepasang anak manusia, mengenakan baju couple berwarna merah. Yang laki-laki merangkul sang wanita, mereka berdua tersenyum bahagia dengan latar bunga mawar yang bermekaran indah. 

***
“Sabar ya, Sayang,” Braga mencoba menenangkanku ketika kami harus menerima kenyataan ditinggal pesawat. Bukan karena terlambat datang ke bandara, atau terlambat melakukan check in, penyebabnya hanya karena tiket pulang kembali ke Indonesia sebagai salah satu syarat masuk ke negeri Singa itu belum di booked.

“Kamu yang tenang ya,” aku juga coba ikut-ikutan menenangkannya, karena dia pun sebenarnya sedang khawatir, resah kalau rencana liburan yang sudah kami susun lama batal hanya karena keteledoran. 

“Iya, Sayang. Kita pasti akan temukan cara. Kita pasti pergi liburan,” lanjutnya tanpa memalingkan pandangan dari gawai yang sedari tadi ditelusuri mengusahakan jalan keluar.

“Jangan terpancing emosi ya, Sayang,” kuelus lengan Braga karena ada perubahan pada air mukanya. Tidak mudah melakukan ini. Aku juga cemas. Detak jantungku terus berdegup kencang. Aku pun takut rencana ini batal.

“Kita cari tempat yang tenang, yuk. Kita pesan ulang tiket pesawatnya,” Braga menggandengku menuju sebuah kafe di sudut bandara. Kurasakan genggaman yang kuat. Dia mencoba mengalirkan ketenangan. Aku tahu dia akan melakukan sekuat hati untuk semua berjalan sesuai dengan rencana dan kemauan awal kami.

Sekian jam, kami masih memutar otak. Bagaimana caranya supaya tetap bisa terbang hari itu. Berulang kali mengecek tiket pesawat berangkat dan pulang dari berbagai portal penjualan tiket, semuanya menawarkan harga yang sangat mahal. Rute perjalanan selama mengunjungi negara jiran itu berulang kali harus diatur ulang. Sementara waktu sudah semakin malam. 

Entah karena sudah terlalu lelah mencari dan merombak rencana perjalanan untuk kesekian kalinya atau memang semesta sedang berpihak, akhirnya kami berhasil menemukan tiket berangkat dan pulang kembali ke Indonesia dengan harga yang memadai. Penerbangan malam pun dilakoni.

“Sesuai janjiku, kita berangkat dan akan tetap liburan, Sayang,” Braga menarikku mendekatinya dan mengecup kepalaku.

Aku senang mendapat perlakuan itu. Dia tidak sedang bermain-main dengan janjinya. 
***
Tepat tengah malam, pesawat mendarat di negara yang akhirnya kami putuskan menjadi tujuan pertama. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung menuju halte bus untuk menuju tujuan berikutnya. Ke kota yang sebenarnya menjadi tujuan utama. 

Tapi kecewa harus didapat lagi. Kami terlambat untuk melakukan pemesanan tiket bus dengan jadwal keberangkatan terakhir hari itu. Tiket yang tersedia untuk keberangkatan hari berikutnya pada pukul delapan pagi. Itu artinya ketibaan di kota tujuan pada pukul sebelas. Yang artinya lagi kami harus kehilangan satu hari dari empat hari liburan yang direncanakan. Hal itu yang sangat tidak diinginkan.

Harus putar otak lagi. Jelas emosi tidak seimbang, pukul satu pagi dipaksa mengatur ulang rencana perjalanan yang menurut perkiraan sudah cukup matang.

Kami saling tatap, tanpa kata memberikan senyum terbaik yang bisa diberikan. Untuk berujar sudah lelah rasanya. Cukup tahu bahwa senyum seadanya itu adalah sinyal bahwa kami masih saling menguatkan. 

Sekali lagi semesta berpihak. Akhirnya ada jadwal keberangkatan bus pada pukul empat dini hari. Meski melalui rute yang berbeda. Tapi setidaknya dengan perkiraan jarak tempuh, pada pukul tujuh pagi kami sudah sampai di kota tujuan. Tidak akan ada kehilangan hari seperti yang ditakutkan.
Rute yang berbeda itu pun terpaksa dijalankan.

Dengan rasa kantuk yang sangat, ditambah dengan beban carrier di pundak, kami berpindah dari satu halte ke halte berikutnya. Memilih sebuah bangku panjang kosong, Braga menyuruhku untuk tidur. Sementara dia terus berjaga menunggu bus tiba. Dia tidak mau ketiduran dan menyebabkan kerugian lagi bagi kami.

Akhirnya pukul empat lewat, kami bisa ada di dalam bus dan melanjutkan perjalanan. Braga menarik napas lega. Dan sebelum menyuruhnya untuk tidur di sepanjang perjalanan, kukecup pipinya sebagai tanda bahwa perjalanan ini akan menjadi momen liburan yang tidak terlupakan.
***
Pukul tujuh pagi, sesuai perkiraan, kami tiba di kota yang terkenal dengan warisan sejarahnya. Aku merasa sudah berada pada titik terlelah. Sementara Braga masih berusaha menutupi lelah dan kantuk supaya tetap bisa melindungiku. 

Masalah ternyata belum selesai. Kecerobohan tidak memesan paket internet yang dipakai di negeri ini, berhasil menyulitkan memesan kendaraan online untuk menuju hotel tempat menginap. Sementara menggunakan kendaraan umum, kami tidak tahu harus menuju ke arah mana. Dan rute mana yang harus ditempuh. 

Berkeliling gedung halte bus yang masih sunyi sepagi itu, kami mencoba mencari jaringan wifi gratis. Aku ingin menyerah. Lelah dan kantuk menyerang secara bersamaan. Aku memilih duduk selonjoran di teras halte. Tidak kupedulikan lagi Braga sibuk sendiri. 

“Sayang, ayo mobilnya sudah datang,” Braga berteriak dan tersenyum ke arahku. Dia berdiri tegak dengan carrier di pundak, di sana, di tepi jalan. Ntah bagaimana caranya dia sudah berhasil  memesan kendaraan online.
***
Memasuki kamar hotel, aku ingin segera tidur. Braga juga begitu. Berantakannya rencana sedari awal benar-benar membuat kami kelelahan secara fisik dan mental.

Aku terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Perut sudah memberontak ingin segera diisi. Kulihat Braga di tempat tidur sebelah, masih nyenyak. Ah ... sungguh tidak tega membangunkan. Wajahnya masih terlihat lelah. 

Kuperhatikan lekat wajah laki-laki itu. Laki-laki dengan sejuta kelemahan dan kekurangan, tapi selalu menyembunyikannya untuk mencoba menjadi yang terbaik. Tidak pernah menolak apa pun yang kuminta. Meski sedang letih dari pekerjaan dan kesal karena aku tidak mau tahu situasi itu, dia akan mencoba tersenyum, meminta menunggu beberapa saat, kemudian melakukan keinginanku. Weekend, waktu yang seharusnya di pakai beristirahat, dia akan relakan untuk menemaniku traveling atau hanya sekedar menonton di bioskop.

Laki-laki yang sifat manjanya cukup dipuaskan hanya dengan masakanku yang ala kadarnya.
Laki-laki yang tanpa basa-basi selalu berusaha ada untuk memenuhi janji, mengabulkan ingin dan mewujudkan mimpiku. Termasuk perjalanan kali ini.
Iya ... liburan ini adalah mauku. Aku mengutarakan dengan sedikit penekanan pemaksaan pada Braga. Padahal, dia sendiri sedang dalam masa-masa menanti. Menanti panggilan untuk kelengkapan berkas-berkas karirnya. Sedikit saja salah atau terlambat melengkapi berkas itu, bisa berakhir pada terancamnya kenaikan jabatan. 

“Nggak apa-apa, Sayang. Berkas-berkas itu bisa menunggu, kok. Yang penting kamu senang,” jawabnya saat itu.

Lihatlah, yang dipikirkannya hanya bahagiaku. Padahal sering ketidakmampuanku untuk mengendalikan amarah selalu melukai perasaannya. Jika marah, aku seperti kehilangan akal sehat, mendiamkannya berhari-hari. Tapi laki-laki ini tetap datang, memeluk dan membisikan kata cinta menenangkan.

Braga tiba-tiba membuka mata. Aku terkejut. Malu merasa tertangkap basah sedang memperhatikannya.

“Jam berapa, Sayang?” 

“Jam tiga,” jawabku singkat sembari menutupi kegugupan.

“Aku lapar. Kamu nggak?”

“Lapar juga. Tapi kamu masih tidur nyenyak tadi, takut bangunin.”

“Mandi, gih. Kita keluar cari makanan ya. Sekalian jalan-jalan dekat-dekat sini,” Braga tersenyum ke arahku. Ah ... manis sekali senyum itu.
***
Usai makan malam, kami memilih untuk berjalan menyusuri kota kecil ini dan menikmati tenangnya malam. Braga terus menggenggamku erat. Sesekali menyeka keringat di keningku. Mengusap lembut kepalaku, jika aku berhenti untuk sekadar menarik napas. Dia tahu aku lelah. Dan usapan itu seperti panyalur energi supaya aku kuat lagi.

“Duduk sebentar di sini yuk, Sayang,” Braga menarik lembut tanganku duduk di sebuah bangku di tepi sungai yang benar- benar tenang. Sementara di langit, bulan bersinar dengan cerah.

“Nggak nyangka, bisa juga kita sampai di kota ini dengan selamat,” Braga menyapu pandangannya ke sepanjang aliran sungai.

“Iya. Kalau ngingat ribetnya awal perjalanan kita kemarin di bandara, rasa-rasanya nggak mungkin kita sampai sini. Aku pikir kita bakal batal liburan,” ujarku sembari tetap menatap ke seberang sungai.

“Nggak bakal batal, Sayang. Aku kan udah janji,” sekali lagi Braga tersenyum manis ke arahku.
Aku membalas senyumannya. Braga kini menatap bulan di langit sana.

“Na .... ,” dia memanggil namaku sendu. Tanda bahwa Braga ingin mengatakan hal serius. Dia selalu seperti itu, kata sayang akan berganti panggilan nama jika ada yang ingin diutarakan.

“Kenapa kamu masih tidak mau menikah denganku?” tanyanya yang kembali membuatku terkejut.

Aku terdiam tidak mampu memberikan jawaban.

“Keraguan apalagi yang menghinggapi hatimu, Na. Aku sudah berusaha menunjukkan segala yang terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Aku bahkan tidak memperdulikan orang-orang di sekelilingku demi bersama kamu. Bahkan karirku, aku singkirkan sejenak hanya demi melihatmu tersenyum, Na,” dia masih tidak memalingkan pandangan dari bulan di atas sana.

“Aku tahu kota ini adalah tujuan yang ingin kamu kunjungi sedari dulu. Itulah kenapa aku juga bersikeras kita berangkat. Aku tidak ingin melihatmu kecewa,” kali ini dia melihatku yang masih terdiam.

“Ayolah, Na, tetap bersamaku. Menikahlah denganku. Berdua kita kelilingi dunia. Kita wujudkan mimpi kamu menjelajah setiap jengkal tanah yang ada di bumi ini. Aku janji, Na, jika kamu berkata iya untuk pintaku, aku akan tetap ada di sisimu, bersama  menggapai setiap inginmu, inginku, ingin kita. Karena aku yakin, Na, tidak ada yang tidak mungkin kita lakukan jika itu kita, Na. Bukan aku, bukan kamu tapi kita,” Braga meremas jemariku.

Aku masih terdiam, tertunduk menatap kaki yang kuayun-ayunkan.

“Atau kamu nggak bahagia jika bersamaku?”

Aku menatapnya lekat demi mendengar tanya itu. 

“Aku bersama kamu bukan hanya sekedar bahagia. Aku merasa aman. Aku juga yakin dengan apa yang kamu lakukan. Dan itu cukup bagiku. Aku juga tahu, semua bisa kita lalui jika itu kita. Bukan aku atau kamu tapi kita. Memang harusnya kita .... ”

Braga masih menunggu kata-kata selanjutnya. Tapi tidak ada lanjutan. Aku menyandarkan kepala di dadanya. Dia melingkarkan tangan ke pundakku dan mengecup kepalaku beberapa kali. 

Waktu berlalu dengan kami menikmati alunan sayup-sayup nyanyian dari kafe seberang. Larut dalam damai dan tenangnya malam itu. Tidak ada lagi kata. Anganku melambung untuk menghentikan berputarnya waktu. Biarlah selamanya seperti ini. 

I  love you more than anything, Sayang,” bisikku tepat di telinga Braga.

I love you too,” balas Braga dan lagi-lagi mengecup kepalaku.
***
“Hai, melamun aja,” Braga tiba-tiba muncul dengan senyum manisnya. “Lagi mandangin apa sih? Dari tadi nggak berkedip gitu?” wajahnya di condongkan ke arahku.

“Nih, lagi melototin poto liburan kita kemaren,” kutunjukkan poto di gawai.

“Cie ... kangen liburan lagi ya?”
Aku tersenyum dengan pertanyaan menggoda Braga.

“Setelah acara besar kita selesai, kita berangkat liburan lagi ya, Sayang.”

Aku mengangguk dan meletakkan gawai.  Tersenyum bahagia memandangi cincin yang kini melingkar manis di jemariku.

Medan, 11 Maret 2020