Keluarga (Baru) di Tahun Baru

Keluarga (Baru) di Tahun Baru

"Curu, bangun," sebuah suara memanggilku. "Kolip mau bawa renungan."

Aku membuka mata pelan-pelan, menengok ke arah suara tersebut. Duduk, tangan meraba mencari kacamata. Kak Nda berdiri di dekat pintu, menungguku bangun.

Aku sedang berada di rumah omku, yang dulu adalah rumah opung, panggilan Batak untuk orangtua papaku. Tahun ini, keluarga besar kami telah berkumpul untuk acara tahun baru setelah sekian lama.

Aku menghampiri kaca di ujung kamar dan merapikan rambutku. Di luar, Kak Oliv sudah berdiri di depan yang lain, siap menyampaikan renungan kebaktian tahun barunya. Aku mengikuti Kak Nda keluar kamar dan duduk di belakangnya.

Setelah kebaktian selesai dan kita saling mengucapkan tahun baru, kita duduk-duduk sambil makan camilan.

"Kasihan ya, anak-anak, gak bisa tidur," mamaku bilang.

"Iya nih, si Haikal dari tadi gak mau tidur di kamar, katanya ada orang, "jawab tanteku, sambil melihat ke arah cucunya, Haikal. "Tadi mamanya bawa ke kamar untuk tidur, eh dia tiba-tiba ngomong, "Hai opung", padahal kamarnya kosong."

"Kamar yang di ujung itu? Iya, itu dulu kamar opung kan?"

"Bukan, kamar yang di tengah. Tempat Chiara tidur tadi."

Hm. Hmmmmmmm. Yang kenal aku pasti tahu aku paling tertarik dengan segala yang berbau supernatural, tapi bukan berarti aku ingin mengalaminya secara langsung. Untungnya memang selama ini aku belum pernah sih. Atau, lebih tepatnya, belum pernah sebelum malam ini.

Tapi mendengar tentang hal itu tidak membuatku merinding, atau takut. Mungkin karena aku masih ngantuk, dan ingin kembali tidur di kamar itu. Tapi mungkin karena sebagai cucu yang tidak sempat bertemu dengan opung sebelum mereka meninggal, mendengar itu, aku merasa... dicintai. Dilindungi.

Tidak lama setelah percakapan itu, kantukku tidak lagi bisa ditahan. Aku masuk ke kamar. Di dalam ada sepupu-sepupuku, sedang membujuk para keponakan untuk tidur. Aku naik ke atas kasur, Haikal di depanku. Melihat mama Haikal yang dengan lelah mencoba menghentikan anak-anaknya yang sedang bermain, dan yang lain yang tertawa melihat kelakuan iseng mereka. Merasakan damai, yang ringan dan utuh, yang kembali untuk pertama kalinya sejak entah kapan.