HYPNOTHERAPY MBAH MARDI

HYPNOTHERAPY MBAH MARDI

Keris Kyai Lali Rogo tertancap pada ujung kelapa hijau yang sudah dipapas. Bersebelahan dengan kelapa itu, sebuah Anglo gerabah dihiasi bara, sesekali memercik api dari arang batok yang terbakar.

Jemari kekar Mardi menari di atas api menabur remahan stanggi, api mengasapi Kyai Lali Rogo dengan wangi. Tak puas menggerayangi tubuh keris, asap meraba raba wajah Mardi, menelusuri untaian rambut masai yang tertutup blangkon merah putih.

Mardi menutup mata, menarik nafas panjang, menghirup aroma stanggi kemudian mencerna dalam rasa. Perlahan membuka mata, tersenyum tipis, sampai nyaris meluruskan garis bibirnya yang tebal. Kemudian bibir itu membentuk huruh 'O', meniup saripati asap ke tubuh wanita yang terlentang di atas kasur kapuk bau tengik.

"Tarik nafas panjang, perlahan, tahan sebentar lalu lepaskan, rasa rileks, dan tenang milik Kyai Lali Rogo perlahan meliputi tubuhmu, dimulai dari kepala, semakin rilek..."

Aksen jawa medok Mardi terus merapal, matanya menyipit mengikuti perubahan mimik wajah, tangan diposisikan di atas tubuh, diantara wajah dan dada Bu Charlie. Bergerak dari arah kepala ke kaki seolah jemari Mardi sedang mengelus elus rambut bidadari nan lembut.

Bu Charlie menikmati biusan aroma stanggi, menghisap setiap kata kata Mardi. Tiba tiba pikirannya terbang melayang layang di atas langit Nirwana, berkelana menembus dinding masa lalu, menuju tempat tempat bahagia.

Kepala Bu Charlie jatuh terkulai, sinar wajahnya terang, mulutnya tersenyum ringan menampakan gigi seri nan rapi. Sesekali masih menarik nafas panjang dari hidungnya yang mancung, udara mengisi rongga dada, dadanya membusung, menambah montok payudara yang memang montok.

Mardi masih merapal kata untuk memberi petunjuk jiwa. Hingga dirasa cukup pada kondisi yang diinginkan, Dia berdiri sambil membenahi sarung, lalu meninggalkan ruang tamu rumah kontrakan.

Bu Charlie dibiarkan sendiri menikmati perjalanan mimpi, ditemani keris, asap stanggi, sebaskom air bertabur bunga dan irama gending jawa yang diputar lirih pada Hp Android Ram 512 megabyte, merek vivo.

Sebelum pergi, kembali jari jari Mardi menjumput remahan stanggi dan menaburkan ke dalam Anglo, kali ini dia tambahi sebutir candu turki sebesar biji beras.

Ketika candu menyentuh api, asap wangi tebal mengepul memenuhi ruangan. Remang kumuh juga mistis, hanya kulit putih Bu Charlie yang menerangi.

***

"Bagaimana kondisi istri saya, Mbah?"

Pak Charlie menyambut Mardi dengan pertanyaan. Di sebelah Pak Charlie ada tiga orang lagi, turut bergerak mengangkat tubuh dari tikar yang digelar di teras, mengulurkan tangan untuk menyalami Mardi. Sebelum menjawab, Dia mengeluarkan sebatang rokok Jie Sam Su dan menyalakan lalu menyeruput sisa kopi yang sudah dingin.

"Istri Bapak, baik baik saja, sekarang ini sedang berhadapan langsung dengan Kyai Lali Rogo, mudah mudahan setelah ini akan jadi lebih baik"

"Syukurlah kalau begitu, Mbah"

"Coba Sampean tanya Pak Joni yang duduk sebelah Sampean, Istrinya ini juga begitu, sudah semua obat dokter dipangan*, semua omongan orang pinter dituruti, tapi yo ora mari*, karena sakitnya ada yang membuat sakit, faham,"

"Betul Pak, sakit istri saya ini ajaib, mosok tiap menjelang magrib uluh hati kayak di silet silet, tanya aja ini orangnya masih hidup,"

Pak Joni yang ditunjuk Mardi menjelaskan, sementara Pak Charlie manggut mangut.

"Maaf ya, penyakit sekarang ini aneh aneh, penyakit akhir jaman, makanya Kyai Lali Rogo ini tidak mengijinkan saya untuk ngobatin, semua langsung Beliau, istilahnya saya cuma ngenalin, kayak istri sampean sekarang ini, terus terang bukan saya yang ngobati, yang ngobati itu ya diri sendiri atas petunjuk Kyai, semua orang itu bisa ngobati, tapi kalo gak ada petunjuk yo ora mari, faham, jadi bukan saya, mangkanya saya nggak pernah minta bayaran, yang menentukan Kyai langsung, tanyak tuh Bu Joni, apa pernah saya bilang mintak, enggak kan? tapi tau sendiri, seperti dapet wahyu, serupiah ya masukin aja serupiah ke kotak, sejuta ya sejuta, pokoknya sesuai wahyunya aja, ibaratnya sampean faham ya,"

Mardi bicara sambil sesekali menghisap rokok.

"Maaf, lha ini Pak Joni ke sini lagi ngopo, apa ibuk kambuh lagi? "

"Oh, bukan itu Mbah, alhamdulillah istri saya sudah baik,"

Jawab Pak Joni, sementara istrinya juga mengiyakan.

"Maksudnya gini, Mbah, Arin anak perawan saya ini kan sudah lulus kuliah, tapi kok kelihatanya jodohnya masih jauh, minta tulung harus gimana gitu Mbah,"

"Owalah, gampang itu, dulu itu ada lho, yang baru duduk begini, tiba tiba ada telpon ngajak nikah, hahaha, maaf yo, saya tak isi bensin dulu, biar sudah jadi embah juga masih makan nasi, hahaha,"

"Monggo Mbah, monggo,"

Mereka berempat serempak menjawab.

Sementara Mardi makan di ruang belakang, mereka melanjutkan obrolan.

"Maaf Pak Joni, dulu istri berapa kali terapi?,"  tanya Pak Charlie sambil mengelap keringat dari wajahnya yang bersih.

"Dua kali Pak, percaya ga percaya, padahal terapinya ya gitu aja, suruh tidur, tapi coba tanya nanti istrinya Bapak, kalau abis terapi itu pikiran enteng, seger ya Mah, iya gitu, pokoknya nanti kita tau sendiri obatnya apa, percaya ga pak, obat istri saya cuma suruh berhenti maen henpon, lucu kan, tapi sembuh, hahaha,"

Pak Joni menjawab sambil membuka kancing baju batik paling atas, siang ini memang panas.

"Dulu barengan saya ada yang lucu lagi, katanya nggak boleh balik sini lagi malah suruh ke dokter penyakit dalam, karena itu bukan sakit buatan,"

"Yang ngomong gitu, Embah atau Kyai?"

Tanya Pak Charlie sambil kembali mengelap hidung berikut kumis tipisnya.

"Lho, bukan gitu Pak, nanti pasien akan tau sendiri harus ngapain, paling paling Mbah Mardi bantu bantu ngasih petunjuk, ga tau siapa yang ngasih tau, pokoknya jadi tau, termasuk masalah bayaran, pertama itu istri saya cuma dapat wahyu bayar sepuluh ribu, tapi istri saya masukin seratus, yang keduanya Lima ratus lapan puluh, tapi yang penting kan sehat ya pak,"

Pak Joni menjelaskan sambil mengendurkan ikat pinggang yang menekan perut buncitnya.

"Oh, gitu, kalau Pak Joni sendiri pernah terapi ga?,"

"Pernah sekali pak, gara gara saya ini kalau lihat istri saya jadi males, demi Alloh setelah terarapi wajah istri ini jadi kayak Via Valen, hahaha..."

Pak Charlie ikut nyengir melihat suami istri itu pukul pukulan mesra. Kemudian minta izin untuk ngintip istrinya yang sedang terapi.

***

Menjelang magrib Mardi sudah siap duduk di atas motor matic. Di punggungnya tergantung tas ransel polyester warna biru kombinasi coklat, isinya keris Kyai Lali Rogo, buku tentang psikologi, juga amplop berisi uang hasil hari ini.

Hari ini hasil uang cukup besar, satu juta lima ratus lima puluh ribu. Dua ratus lima puluh ribu langsung diberikan kepada Tobing, asisten sekaligus penerima tamu kalau dia ga ada di tempat.

Penampilan Mardi berubah drastis dari sebelumnya, sekarang dia pakai celana jeans, kaus oblong hitam berlogo nike, jaket parasut dan sneaker. Kelihatan usia asli Mardi, belum lebih dari tiga puluh lima tahun. Begitulah ritual Mardi setiap sore.

Kain sarung, baju surjan, blangkon merah putih ditinggal di kontrakan yang dia anggap kantor. Dua hari sekali akan di cuci Tobing.

Sebelum motor jalan, kembali dia pandangi spanduk ukuran satu meter yang di paku pada dinding kontrakan.

HYPNOTHERAPY MBAH MARDI
-Relaxation Magic
-Segala Macam Penyakit
-Sukarela

Sudah tiga bulan ini dia ganti profesi,  sejak istrinya kecelakaan usaha catering terlantar dan mandeg berikut tumpukan hutang.

Dia ga perduli dengan semua tuduhan orang, yang menipu lah, yang dukun lah, yang kafir lah, di pikirannya hanya satu. Apapun caranya hidup harus tetap survive.

Mardi meluncur di atas motor, menelusuri jalan di bawah cahaya remang remang lampu jalan nan kotor.

Dia menuju ke apotik untuk menebus obat istrinya yang lumpuh. Juga mampir ke warung Padang  membeli sebungkus nasi rendang untuk Ibunya yang pikun dan sepuh. Sekalian ke toko buku beli crayon dan buku gambar untuk balitanya yang rapuh.

Mardi masih meluncur, ketika dihantam Dump Truck pengangkut batu kapur.

Mardi sempat istigfar, namun harapannya terlanjur ambyar.

***

*dipangan : dimakan
*tapi yo ora mari : tapi ya tidak sembuh