CINTA ROLLERCOASTER (Part 1)

CINTA ROLLERCOASTER (Part 1)

Entah sejak kapan aku bisa memiliki rasa kepada dia. Ahhh orang yang benar benar diluar prediksi ku. "Bagaimana mungkin?" gumamku dalam hati.
Orang yang hanya ku kenali wajahnya namun jarang untuk bercakap cakap.
Ya..dia teman satu sekolah ku..
Kami di dalam kelas yang sama.. tapi, rasa rasanya untuk berbicara padanya pun masih bisa dihitung dengan jari jemari.
2016 lalu, aku masuk ke sekolah menengah atas di salah satu kawasan sumatera utara, medan. Ya, aku jurusan IPA. Aku punya teman satu kelas namanya Adit. Orangnya kaku. Aku gak suka sama sekali. Untuk bertegur sapa pun rasanya enggan sekali.
Aku lebih suka bergaul dengan teman teman yang lain, yang asik di ajak ngobrol dan bercanda.
Adit, orangnya kurang bersahaja kala itu. Entah kenapa hanya untuk berteman saja aku enggan.
Suatu hari, sekolah kami mengadakan studi tour ke Museum Rahmat yang terkenal di kota Medan. Kala itu aku memakai jaket dari salah satu komunitas ku. Entah ada angin apa, Adit yang kala itu pun ikut studi tour menyapaku "Eh, jaketmu bagus ya? Boleh ku minta gak?" cetusnya.
"Ikut lah kau dulu komunitas ini baru bisa dapat jaket kayak aku" spontan aku menjawab dan langsung bergegas pergi untuk menghindari obrolan dengan nya.
Waktu terus berjalan, sampai tiba pada semester akhir. Tiba tiba Adit dapat beasiswa ke sekolah diluar provinsi. Ya, anak yang kaku itu berhasil meraih beasiswa. Kemudian dia pindah dan tidak lagi bersekolah di sekolahan ku. Saat dia pindah sekolah tak ada perasaan apapun saat itu, bahkan untuk mencari informasi tentangnya saja pun aku tak berniat sama sekali, justru aku sedikit merasa lega karena tidak sekelas lagi dengan dia.
Waktu terus berjalan hingga pada sampai aku lulus sekolah dan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
"Beepp".. bunyi ponselku.
Ternyata chat whatsapp dari Adit. Saat itu aku lupa chat yang pertama kali dia kirim padaku, yang jelas isi chat itu hanya pertanyaan seputar tugas akhir (skripsi).
Ya, kami berdua ternyata kuliah di universitas yang sama. Namun berbeda jurusan. Tapi entah kenapa Adit saat itu bertanya tentang skripsinya padaku meskipun dia tahu bahwa kami ada dijurusan yang berbeda. Aku menjawab chatnya dan berusaha menjelaskan padanya. Aku tipe org yang blak blakan kalau berbicara. Sampai pada akhirnya, suatu hari Adit mengajakku untuk berdiskusi langsung. Aku fikir fikir mungkin memang dia sedang dalam kesulitan menyusun skripsinya. Dan aku meng iyakan ajakan nya. Sampai di suatu cafe, kebetulan aku yang lebih dulu sampai. Adit datang sambil tersenyum. "Eh dit, apa kabar?" Kataku. "Baik syah" jawabnya.
Sambil memesan kopi dan makanan ringan, kami yang semula membahas skripsi tiba tiba aku mengalihkan cerita entah kenapa dan mengapa aku curcol alias curhat colongan. Aku cerita soal hubunganku yang kandas dengan kekasihku. Adit banyak memberi masukan dan menasehatiku tentang karakter pria. Adit tampak dewasa pada saat itu dan 180 derajat berbeda dari Adit yang aku kenal dulu semasa duduk di bangku SMA. Aku terkagum kagum melihat Adit. Sampai pada akhirnya. Suatu malam aku memberanikan diri untuk mengirim chat ke Adit melalui whatsapp "Assalamualaikum dit, mohon maaf sebelumnya dit, aku ganggu malem2 nih, gak tau kenapa ya dit, aku tu kok kayaknya ngerasa suka deh sama kamu, semenjak kita ketemu di cafe kemarin, wajah mu itu terbayang bayang terus dit di hidup aku, kamu mau gak dit menjalani hubungan yang serius dengan ku?"
Buseet....aku nungguin dia bales chat dengan hati dag dig dug..tapi mungkin Adit udah tidur karena chat itu aku kirim jam 11 malam. Esok paginya, Adit bales chat aku "Waalaikumsalam, maaf ya syah, aku udh punya pacar".
Jederrrr.....rasanya aku kaya disamber petir di siang bolong, ada rasa kecewa, malu, merasa ditolak mentah mentah, sedih, semua menjadi satu kaya sayur gado gado deh..
Akupun mulai mengasingkan diri dari Adit, sudah lama kami tak berkomunikasi, karena aku sadar aku gak mau ganggu hubungan orang.
Tapi...rasa rindu ku yang tak tertahan sudah membendung kalbuku, ingin aku menghubungi Adit. Akhirnya aku memberanikan diri dan menghubunginya kembali. Adit sangat merespon baik chatku, entahlah, rasanya Adit yang dulu aku kenal kaku kini menjadi sosok pria dewasa yang easy going dan humble serta ramah. Aku semakin terpikat dengan Adit. Wajah Adit yang manis membuatku semakin gila.
Pada suatu waktu, Adit bercerita tentang hubungannya yang kurang baik dengan kekasihnya, Ana. Ana tergolong tipe perempuan yang cuek, dingin, kaku, dan fokus pada kuliahnya hingga tak ada waktu untuk memberi perhatian kepada Adit. Hubunganku dengan Adit pun semakin lama semakin akrab. Rasa kagum ku pada Adit yang bersosok dewasa dan ramah kini berubah menjadi sayang. Aku sayang dengan Adit tapi aku sadar tidak bisa memilikinya sebab aku tau Adit sudah punya kekasih hati. Kami sering berkomunikasi via chat, telfon seluler bahkan vidio call. Suatu malam, saat kami bertelfon Adit mulai gelisah karena Adit takut perbuatannya ini menyakiti hati Ana, dari suaranya terdengar Adit seperti menangis dan dia berkata padaku bahwa dia tak ingin menyakiti siapapun diantara aku dan Ana. Kemudian, akupun menjelaskan bahwa aku tak berniat mengganggu apalagi merusak hubungannya dengan Ana yang kabarnya akan berlanjut ke pelaminan setelah mereka wisuda. Ya....aku tau tak ada harapan. Tapi aku hanya ingin sekedar dekat dan bersahabat dengan Adit. Hinga Adit menangis dan menutup telfon. Tapi di ujung pembicaraan Adit sempat mengatakan hal yang aneh. "Aisyah, kamu kenapa buat aku jadi gini, aku jadi nyaman sama kamu, aku suka sama kamu"....tut..tut...tut..
Haa....Adit suka sama aku? Batinku bergumam.
Mana mungkin..mustahil. Aku coba menghubunginya kembali tapi nomor nya sudah tidak aktif. Sepertinya Adit sengaja mematikan ponselnya agar tak diganggu.
Semalaman aku tak tenang memikirkan kalimat Adit, apa benar dia suka sama aku atau aku hanya halusinasi?
Aku tak tidur sampai menjelang subuh..karena kegelisahan yang melandaku.
Kemudian ponsel Adit yang aku coba hubungi sudah aktif, dan aku meminta penjelasan padanya apa yang aku dengar itu benar atau salah.
"Dit, kamu kenapa tadi malam? Kok tiba tiba matikan telfon dan langsung menonaktifkan ponsel?" Adit hanya menjawab "Aku gak papa kok syah". "Dit, yang kamu bilang tadi malem beneran?" tanyaku penasaran. "Yang mana?". "Kamu bilang tadi malam kalau kamu suka sama aku tapi kamu langsung matikan ponsel".
Suasana pun hening. Adit tak menjawab sepatah katapun.
Lalu..."iya syah aku suka kamu, gimana ya dengan Ana?"
Hatiku langsung berbunga bunga....semeriwingg....
Hembusan angin syurga dapat kurasakan melintasi wajahku...dingin...sejuk....
Adit yang aku sukai ternyata juga menyukaiku....
"Yaudah dit kita jalani aja, kamu ikutin aja kata hatimu, ikuti perasaanmu, perasaan kan tidak bisa dibohongi dit" rayuku..
"Iya...tapi aku gak bisa ninggalin Ana..kami berhubungan serius dan orangtua juga sudah merestui".
Hmm...rasaku batinku berkecamuk, antara senang dan kecewa juga.
"Memangnya apa buktinya kalau kamu itu miliknya Ana? Kan kalian masih pacaran dit, bukan suami istri yang sudah sah secara agama dan hukum, lagian hubungan kamu dengan Ana juga kurang berjalan lancar kan, Ana kok bisa tahan sih dit diemin kamu berhari hari" tegasku.
"Iya..Ana lagi sibuk banget sama penelitiannya, dia orangnya fokus syah, aku juga takut ganggu"
"Hmm yaudah dit aku gak mau memisahkan kamu dan Ana kok" jawabku.
Semenjak Adit menyatakan rasa sukanya padaku. Aku merasakan bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Kami selalu berkomunikasi, setiap hari dan setiap waktu tanpa sepengetahuan Ana.
Hingga Adit mulai memanggilku dengan panggilan "sayang".
Rasanya aku yakin kisah cintaku akan berjalan baik.
Semakin hari rasa cintaku semakin besar untuk Adit, rasa ingin memilikinya secara utuh pun semakin besar pula.
Ingin rasanya aku meminta Adit untuk melamarku. Tapi Adit sudah merencanakan masa depan bersama Ana sehabis wisuda nanti.
Aku selalu berdoa dan memaksa Tuhan bahwa harus Aditlah yang menjadi jodohku. Aku sudah tidak memikirkan logika lagi, aku hanya mengikuti hatiku, bahwa aku yakin Adit lah jodohku, Adit lah yang akan menjadi suamiku. Aku sangat yakin....Tuhan akan membantuku mendapatkan Adit.
Kami pun sering bertemu secara intens layaknya sepasang kekasih. Makan, minum, nonton bioskop, berbincang bincang adalag rutinitas kami.

Tiba tiba....

Saat aku meminta Adit untuk menikahiku dan menuntaskan kisahnya dengan Ana.. Adit memintaku untuk menemui orangtuaku dan Adit serius ingin mengakhiri hubungannya dengan Ana.. namun aku tak setuju bila Adit memulai hubungan serius denganku tanpa menuntaskan hubungannya dulu dengan Ana.. perdebatanpun terjadi hingga aku tak kuasa melihat Adit yang kebingungan memilih antara aku atau Ana..
Akupun menyadari dan tak ingin Adit semakin bingung, aku cemas kalau Adit nanti kenapa napa.. akhirnya aku mengatakan bahwa dia harus kembali kepada Ana dan menyelesaikan secara baik baik. Aku juga bilang kalau jodoh kita pasti akan dipertemukan kembali. Chat terakhirku tak mendapat sambutan hangat dari Adit.
7 hari sudah berlalu...tanpa komunikasi dengan Adit..
Rinduku sudah tak terbendung lagi, hingga akhirnya aku memberanikan diri mengirim chat kepada nya.
"Dit, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik syah, kamu apa kabar?" tanya nya.
"Iya aku baik dit, gimana kamu dengan Ana? Jadi lamaran?" tanyaku penasaran.
"Jadi syah, tapi waktunya belum pasti nih"
Hatiku rasanya hancur, saat Adit mengatakan lamarannya dengan Ana jadi..
Adit chat lagi "Habisnya kamu diajakin serius ketemu orangtua mu, kamu gak mau syah".
Aku mencoba menjelaskan "Aku bukan gak mau dit, maksud ku kamu selesaikan dulu dengan Ana dan tuntaskan hubunganmu dengan Ana baik baik, tapi kamu malah memperbaiki hubunganmu dengan Ana" tegasku.
Yasudalah sepertinya memang aku tak ada harapan..batinku.
Akupun mulai bersikap biasa biasa saja dengan Adit.. walaupun perasaan sayangku masih sangat besar dan dalam untuknya.
Suatu hari aku ingin bertemu dengan Adit, mungkin untuk yang terakhir kalinya..aku ingin memeluknya dan menggenggam tangannya. Aku ingin menatap bola matanya sekali saja untuk yang terakhir kali. Aku juga ingin mengusap pipi dan dagunya yang ada jenggot tipis tipis itu. Aku juga sudah menyiapkan kado kecil untuknya sebagai kenang kenangan dariku.
Kami sudah janjian ketemu di sebuah cafe.
Tapi entah mengapa hari itu Adit tak kunjung menghubungiku dan tidak menjelaskan apapun, apakah pertemuan kami jadi atau dibatalkan.
Hingga sore hari aku menunggu kabarnya.
Akhirnya aku coba telfon berkali kali..
Tapi telfon tidak diangkat..
Malam hari aku sedang buka Instagram dan terlihat Adit membuat history..
Dan aku melihat foto Adit merangkul pundak Ana sambil memamerkan cincin di jari manis mereka.
Hancur nya hatiku..ternyata hari dimana kami berjanji untuk bertemu adalah hari dimana Adit dan Ana bertunangan.
Rasanya aku tidak ingin hidup lagi.
Aku menangis dan menjerit di dalam kamar.
Memang Adit bukan jodohku "gumamku"
Tapi tetap saja perasaanku dengannya masih terbungkus rapi..
Aku masih sangat menyayangi Adit meskipun dia akan menikah dengan Ana..
Aku masih tergila gila padanya meskipun dia sudah melamar Ana..
Aku masih menyimpan perasaan padanya meskipun dia sudah melupakan kisah nya dengan ku..
Kini aku dan Adit harus mengakhiri hubungan yang sama sekali tidak pernah kami mulai..
Semua berjalan begitu saja seperti air yang mengalir di sungai..
Aku yakin bahwa Adit menyayangiku..aku bisa melihatnya dari kedua bola matanya yang dalam, sikapnya yang tulus dan selalu ada disetiap aku butuhkan, tapi keadaan memaksa kami harus berhenti berhubungan. Rasa tanggungjawab nya kepada Ana dan keluarga merupakan komitmen nya untuk lanjut dengan Ana.
Aku tak berniat sedikitpun melupakan Adit.
Meskipun dia adalah tunangan Ana.