Camer Idola (Bagian 1)

Camer Idola (Bagian 1)
Gambar oleh: Eli DeFaria di unsplash.com

Namaku Bita. Aku anak piatu. Ibuku meninggal dunia saat melahirkan aku. Ayahku membesarkanku sendirian. Ia tak menikah lagi. Hanya saja, aku curiga nyonya tetangga tampaknya berusaha mengambil hati ayah. Untung ayah tidak memedulikannya. Aku tak ingin punya ibu tiri macam nyonya tetangga, yang bermuka dua. Jika ada ayah, dia akan menyapaku dengan manis. Jika kami berdua bertemu, hanya dengus dan punggung yang disodorkannya.

 

"Bita, besok tolong beli kue di bibimu di pasar. Berangkatlah pagi dan langsung pulang. Sri Ratu akan mampir seperti biasa untuk minum teh sore bersama kita," pesan ayah kepadaku.

 

Setiap bulan, Sri Ratu menyempatkan mampir ke rumah kami. Rutinitas dari perjalanan Sri Ratu mengunjungi desa-desa di sisi timur kerajaan. Meskipun kami rakyat biasa, dan bukan bagian dari kerajaan Sri Ratu, tetapi itu tak menghalanginya datang. Seingatku, ayah pernah sekali menyebutkan, bahwa ia pernah menolong Sri Ratu pada masa mudanya. Hanya saja, ayah tidak menjelaskan secara lengkap kisahnya.

 

Setiap Sri Ratu datang, kami selalu menyuguhkan kue kering berhiaskan bunga violet sebagai teman minum sore. Bibi Edna, adik ibuku, yang membuatnya. Ia menjual beberapa jenis kue kering di pasar. Ia juga memiliki koleksi bunga dan daun yang dikeringkan untuk diseduh sebagai tisane. Bibi menanam beberapa jenis bunga dan daun untuk ia olah. Ada chamomile, krisan, dandelion, mint, basil, mawar, dan masih banyak lagi.

 

Aku suka sekali jika Sri Ratu datang berkunjung. Suasana jadi hangat di rumah kami yang mungil. Ayah, meskipun nampak canggung, selalu berwajah cerah ketika Sri Ratu berkunjung. Sri Ratu bahkan sesekali mengajakku bercakap-cakap. Aku ingat, wajah ayah tegang sekali pertama kali aku menjawab pertanyaan Sri Ratu. Sebenarnya ayah tidak perlu khawatir. Aku telah melatih diriku menjawab pertanyaan jauh-jauh hari, tanpa sepengetahuan ayah. Ada satu hal lagi yang ayahku tidak tahu. Aku bahkan menginginkan Sri Ratu menjadi ibuku. Lebih tepatnya: Ibu mertua.

 

Pertama kali aku berjumpa Pangeran Orens, aku langsung jatuh cinta. Well, mungkin itu yang dinamakan jatuh cinta. Aku tidak tahu. Karena umurku sepuluh tahun ketika itu. Pangeran Orens dua tahun lebih tua. Wajahnya tampan dan ramah. Hanya saja dia pemalu dan pendiam. Sedangkan aku, sudah diperingatkan ayah untuk tidak memulai percakapan. Sebenarnya ayah tak perlu khawatir, karena aku juga pendiam. Hanya saja, aku memang ingin mendengar suara Pangeran Orens yang merdu.

 

"Bunda Ratu, kue ini enak sekali. Hiasannya pakai bunga apa ini?” Begitu pertama kali aku mendengar suara pangeran. OMG, seperti orang sedang bernyanyi.

 

Aku mati-matian menahan lidahku untuk tidak menjawab pertanyaan yang bukan ditujukan untukku. Untungnya, Sri Ratu seperti mengetahui isi hatiku.

 

"Coba kamu tanyakan pada Bita. Sepertinya dia tahu, karena dia yang biasa ke pasar untuk memesan kue ini pada bibinya," begitu Sri Ratu memberiku kesempatan berbicara. "Bita, kau tahu, kan, nama bunga ini?" sambung Sri Ratu memberiku lampu hijau untuk menjawab. Namun aku menunggu sedetik lagi.

 

"Apakah engkau tahu nama bunga ini, Bita?" tanya Pengeran Orens memandangku. Olala, merdunya...

 

Aku memang mengerti banyak jenis bunga, daun dan tanaman. Aku sering berlama-lama di rumah Bibi Edna, kadang menginap di sana. Aku takjub melihat semua tanaman yang ditanam Bibi Edna. Bahkan dia akan pergi ke hutan di pinggir desa, mengambil akar atau batang beberapa tanaman liar yang dibutuhkan untuk ramuannya.

 

Bibi Edna tidak menikah dan hidup sendiri di rumahnya. Tidak hanya ahli membuat kue-kue, ia sangat ahli meracik obat-obatan. Aku paling suka mendengarkan  penjelasan dia tentang berbagai ramuan. Aku mencatatnya baik-baik dan rapi di ingatan. Ketika usiaku limabelas tahun, Bibi Edna meminta izin ayahku, agar aku tinggal bersamanya dan membantunya berjualan kue. Sejak itu, tiap pagi hingga sore aku bertugas memanggang kue kering dan roti. Malam hari aku habiskan belajar meracik ramuan, atau membaca buku-buku Bibi Edna.

 

***

"Jangan, Ayah. Ayah tidak boleh menikahinya," bisikku tersendat. Aku sesenggukan tanpa bisa berkata-kata lagi.

 

Ayah baru saja memberitahuku, bahwa ia akan menikahi nyonya tetangga itu. Rasanya hampir pingsan aku mendengar keputusan ayah. Ketika itu usiaku menjelang tujuh belas.

 

Rupanya selama aku tinggal bersama Bibi Edna, nyonya muka dua itu makin gencar mendekati ayah. Aku menyesal meninggalkan ayah sendirian di rumah.

 

"Bita, sebentar lagi kamu dewasa. Kamu harus mandiri tanpa dibebani dan memikirkan Ayah," begitu penjelasan ayah yang tak pernah bisa kumengerti.

 

Tanpa banyak kata, aku mengemas semua barang milikku, dan benar-benar pindah ke rumah Bibi Edna. Waktu itu Bibi Edna sudah wafat sekitar setahun sebelumnya. Ia memang punya penyakit menahun yang makin lama makin menggerogoti tubuhnya. Rumah diwariskan kepadaku, termasuk peralatan membuat kue dan buku-bukunya. Jadi sekitar setahun aku tinggal berdua dengan Bibi Edna, lalu aku tinggal sendirian di rumah itu sambil meneruskan berjualan kue. Sesekali aku mengunjungi ayah, sampai terakhir kali ketika ayah memberitahuku soal nyonya muka dua itu.

 

Tiap malam, berhari-hari kemudian, aku duduk melahap buku tebal yang dulu Bibi Edna melarangku membacanya. "Kumpulan Ramuan Dahsyat" begitu judul tertulis di sampul buku berwarna hijau tua. Buku lusuh yang sangat tebal. Bibi Edna menyimpannya di kotak kayu di rak buku paling atas. Kuakui, seluruh isinya memang resep-resep  ramuan dahsyat. Bibi Edna belum pernah menyebutkan satu ramuan pun dari buku itu. Bahkan sepertiga buku itu, pada bagian belakang, berisi ramuan-ramuan super dahsyat. Aku memilih satu, yang ingin kusajikan pada nyonya muka dua itu. Sayangnya, keesokan harinya ternyata ada perubahan rencana.

(bersambung)