Apa Bedanya Covid Dan Kolam?

Ide cerita ini dari lukisan aku.

Apa Bedanya Covid Dan Kolam?

 

“Sayang, buatin aku taman kolam Lily dong.” pintaku untuk kesekian kalinya.
“Aku kan sibuk, capek. Mana ada waktu?” kata Edward suamiku.
Aku cemberut.
Sudah bertahun-tahun aku meminta taman kolam Lily, tapi selalu ditolak Ed.

Hobiku melukis.
Aku ingin memiliki taman dengan kolam Lily seperti milik Monet, pelukis kesukaanku.
Agar aku bisa melukis di kebun dan mendapat inspirasi dari situ.
Pekarangan di belakang rumahku sebetulnya cukup luas, Tapi  kosong hanya ada rumput, tanpa ada tumbuhan lainnya.  Aku tidak bisa berkebun. Yang pintar berkebun adalah suamiku.
Hanya sayang Ed selalu sibuk kerja, tidak punya waktu luang untuk berkebun.

 

Aku lihat berita di TV, sangat banyak penghuni panti jompo yang menjadi korban Covid.
Ibuku mulai memperlihatkan gejala sakit. Tapi kata dokter di panti ibuku hanya flue, bukan Covid.
Lalu aku memutuskan untuk mengeluarkan ibuku dari Panti dan merawatnya sendiri di rumah ibuku.  Aku tidak mau ibu tertular Covid di Panti. Rencananya hanya sementara, setelah Pandemi Covid selesai, aku akan mengembalikan ibu ke panti jompo.
Kedua anakku sudah besar. Mereka kuliah di luar kota. Hanya Ed dan aku berdua di rumah. Ed selalu sibuk kerja. Jadi sebaiknya aku datang ke kota ibuku untuk merawatnya.
“Bawa saja ke sini ibumu.” kata suamiku.

“Aku tidak mau ibu naik pesawat, bahaya. Daya tahan tubuh orangtua kan lemah.” kataku.
Akhirnya Ed mengijinkan aku pergi merawat ibuku yang tinggal jauh di provinsi lain.


Ibuku sudah mulai pikun, sering ibu tidak mengenaliku lagi karena sakit dimensianya.
Tapi di saat ibu ingat aku, kami menikmati saat-saat kebersamaan kami.
Walau sibuk, sesekali Ed menyempatkan diri menelpon dan video call.
Begitupun kedua anakku sering menelponku. Jadi aku tidak terlalu merasa kesepian.
Aku mulai mengenal beberapa tetangga di sekitar rumah ibuku. Kadang kadang aku mengundang mereka makan siang. Mengenalkan masakan Indonesia.

Tapi Pandemi Covid berlangsung lebih lama dari yang kuperkirakan.
Tidak terasa sudah 6 bulan aku merawat ibuku.
“Kapan kamu pulang Ma?” tanya suamiku saat video call.
“Ah kamu nanyanya begitu terus. Sabar, aku pulang kalau covid sudah beres.” kataku.
“Aku kesepian di sini.” kata Ed.

“Sebentar lagi anak anak kan pulang, liburan musim panas, kamu nggak akan kesepian lagi.” kataku.
“Udah dulu ya, aku lagi mau masak Rendang buat ibu ibu nih.” kataku.
Aku mengundang teman teman baruku makan siang di sini lagi hari ini.
“Nanti malam aku video call lagi ya, kalau teman temanmu sudah pulang.” pinta Ed.
“Buat apa? kan udah?” tanyaku.
“Kan masih kangen.” kata Ed.
“Ah dasar, udah tua masih manja.” godaku.

Malamnya Ed mencoba menghubungi aku lagi. Tapi tidak aku angkat telponku. Aku sudah capek hari ini masak banyak masakan Indonesia untuk teman temanku.
Dan aku sedang  asik nonton drama Korea di Netflix.

Belakangan ini Ed kehilangan pekerjaannya karena pandemi.
Secara ekonomi tidak masalah, karena Pemerintah di sini mengganti gaji untuk semua yang terdampak pandemi.
Tapi karena iseng kesepian di rumah, Ed jadi makin sering menelponku. kebanyakan tidak aku angkat, karena aku sibuk mengurus ibuku. Juga sibuk berkumpul dengan ibu ibu teman baruku.
Sebentar lagi kalau anak anakku pulang liburan, dia tidak akan kesepian lagi, tidak akan telpon terus- terusan lagi, pikirku.

 

“Ma, cepat pulang Ma!” telpon anakku panik.
“Ada apa?” tanyaku.
“Pokoknya cepat pulang aja sekarang!” pintanya.
“Mama nggak bisa pulang, nanti nenek siapa yang jaga?” kataku.
“Titip di panti aja dulu sementara Ma!” kata anakku.
“Di Panti kan bahaya lagi covid!” kataku

“Pokoknya mama harus pulang sekarang juga!” katanya.
“Ada apa sih?”
“Aku jelasin kalau mama pulang!”
Aku heran kenapa anakku memaksaku pulang, kenapa tidak mau bercerita masalahnya di telpon.
Aku menitipkan ibuku pada tetanggaku yang mantan perawat. Aku memberinya sejumlah uang pengganti waktunya dan biaya hidup sehari-hari.
“Aku tak akan lama, aku akan cepat kembali lagi dalam beberapa hari.” kataku.

Untunglah aku mencoba mengenal tetanggaku selama aku di sini. Kalau aku tidak berteman dengan mereka, siapa yang bisa membantuku dalam situasi seperti ini?

 

Ketika aku tiba di rumahku, kedua anakku sudah berkumpul.

Ruang tamuku penuh orang.
“Apa-apaan sih kamu, lagi Covid gini ngundang-ngundang orang banyak!” kataku pada anakkku.
“Cuma kerabat dekat aja Ma, mereka perlu tahu.”
Kulihat ada peti di ruang tamu.
“Jangan kaget ya Ma.” anak sulungku memelukku sambil menangis.
Kulihat Edward di dalam peti.
“Waktu aku pulang, Papa sudah tergeletak di lantai. Rupanya sudah meninggal, nggak ada yang tau, tubuhnya sudah bau.”
“Dia kena covid, tapi dia melarangku memberitahu kalian.” kata sepupu suamiku yang dokter.
Aku meraung menangisi Edward.
Semua orang memandangku.
“Bawa ke belakang aja, biar dapat udara segar!” kata si sulung.
Mereka membawaku ke halaman belakang.

Tampak aneka tanaman hias dan bunga warna warni menghiasi halaman belakangku.
Kolam Lily berada di tengahnya dengan jembatan kayu kecil.
“Papa mau kasih kejutan ke Mama sebetulnya.” kata si sulung.

Rupanya diam diam Edward membangun Taman Kolam Lily impianku.
Tapi saat ini aku tidak bisa menikmati keindahannya.
Dadaku serasa sesak.
Menyesal aku sudah mengacuhkan dia selama ini, sering tidak mengangkat telponnya.
Lebih sibuk dengan para tetangga baruku.

“Walaupun dia sudah sakit, dia tetap berkeras menyelesaikan kolam itu.” kata sepupu suamiku.

“Sekarang mama bisa melukis di sini, Persis seperti Kolam Lily Monet ya Ma?” kata si bungsu.

Tapi aku tak suka kolam Lily lagi.
Bila boleh kupinta, Tuhan,
Kalau boleh tukar,  aku ingin suamiku kembali.
Aku tidak butuh kolam Lily, Aku butuh suami.
 

Apa bedanya Covid dan Kolam ?
Covid kuhindari, Kolam kudambakan,
Covid membawa kesedihan.
Kolam seharusnya membawa kebahagiaan.
Tapi keduanya sama sama mengejutkan dan menyedihkan untukku.

“Ini kenang-kenangan hadiah perpisahan suamimu!” kata seseorang.
“Jangan bersedih, nikmatilah kolam ini, sebagai tanda cintanya!” aku menghibur diri.

Kulukis wajah Edward dengan latar belakang kolam Lily.


Apa bedanya Covid dan Kolam?
Keduanya ciptaan manusia dan sekaligus ciptaan Tuhan.
Yang membedakan, bagaimana kita memaknainya.