Kena omelan bos lagi huft

Rani seorang karyawan di perusahaan swasta, yang proposalnya dapat penokalan terus menerus

Kena omelan bos lagi huft

Brakk!..... 

Suara kertas yang di lempar dengan keras ke atas meja.

“Rani kamu gimana masa bikin proposal untuk ke client begini sih, anak SD juga bisa kalau gini caranya!” Pak Genta meneriaki Rani. “Saya gak mau tau kalau besok proposalnya masih begini, saya gak akan approve. Besok kesempatan terakhir kamu Ran.” 

“Baik Pak Genta” Aku menghela nafas lemas, ini sudah kedua kalinya proposal yang kubuat ditolak oleh Pak Genta, jika besok proposal ini ditolak kembali, bukan tidak mungkin aku akan di keluarkan dari kantor. Aku perlahan keluar dari ruangan Pak Genta dan berjalan dengan lemas menyusuri lorong kantor untuk kembali ke meja kerjaku. 

“Hei Ran, kenapa kok lemes banget?” tanya sinta teman sebelahku. “Proposal gue ditolak lagi Sin, bingung banget padahal gue udah ikutin apa yang dia mau.” jawabku “mungkin lo kurang riset Ran, ini deh gue kasih berkas-berkas Hotel Lime yang baru, tadi mereka baru kasih ke gue, siapa tau bisa nambah riset lo” ucap Sinta sambil menyodorkan tumpukan kertas yang merupakan berkas Hotel Lime. “Ah Sinta makasih banget, gue emang kayaknya kurang riset nih”, “iyaa sama-sama Ran, oh iyaa itu berkas belum gue salin, jadi take care yaa Ran cuma satu-satunya itu”, “Siaap Sin” jawab ku antusias.

Titut… titut….

Alarm jam ku sudah berbunyi, yang menandakan ini sudah jam 4 dan waktunya pulang.

Aku merapikan meja kerja ku, bersiap untuk pulang. “Ran lo udah mau pulang? Ini mendung loh, bentar lagi ujan gede nih. Gak nantian aja pulangnya Ran?” tanya Sinta yang masih duduk dengan tenang di kursinya “nggak Sin, gue mau buru-buru pulang, mau ngejar proposalnya nih, kalo besok ini proposal ga di approve juga, bisa-bisa gue dipecat Sin.” Ucapku sambil bergegas merapikan meja “Hah serius lo?, yaudah Ran hati-hati yaa” ucap sinta terkejut mendengar hal itu “Iyaa serius, gue pulang duluan ya Sin. Bye” semua sudah dirapikan aku memakai tasku bergegas keluar. Aku berlari menuju halte busway yang jaraknya lumayan dari kantor. Baru setengah jalan aku berlari, tiba-tiba petir menggelegar dengan kencang, dan rintikan air hujan mulai turun, semakin lama rintikan nya pun semakin besar..

Aku lupa membawa payung, aku terus berlari menuju halte dengan tas yang kugunakan untuk melindungi kepalaku agar tidak terlalu basah..

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya aku sampai di halte, kepala dan badan ku tidak terkena tetesan air karena aku tutupi oleh tasku. Sesampainya di halte aku langsung membuka tasku dan mengecek apa berkas yang Sinta berikan kepadaku terkena air dan syukurlah ternyata berkas dari Sinta aman, tanpa terkena tetesan air sedikit pun ini berkat Tas Jansport Waterproof ku ini, tas yang menggunakan material tarpaulin sebagai lapisan luar nya yang sanggup menahan tetesan air yang banyak, tanpa harus khawatir benda di dalamnya basah terkena air, aku pun tenang karena hal ini. Lalu aku melanjutkan perjalanan pulang ku. Sesampainya dirumah aku langsung mengeringkan Tas Jansport ku yang terkena hujan tadi di depan kipas angin, dan aku membersihkan diri kemudian mulai untuk menyusun proposal kembali.

Keesokan pagi nya aku bersiap untuk pergi ke kantor, aku mengambil Tas Jansport yang kemarin malam ku angin-anginkan di depan kipas, ternyata sudah sangat kering bahan pada Tas Jansport ini jika terkena air akan mudah sekali mengeringnya, karena air tidak terserap kedalam tas melainkan hanya di lapisan terluar.

Tas Jansport ini menambah kepercayaan diri ku untuk mempresentasikan proposal ku ke Pak Genta. Semoga kali ini berhasil!