Diam yang Juga Butuh Bicara

Diam yang Juga Butuh Bicara
Sumber Gambar: Galeri Penulis

Selayaknya pepohonan yang terus tumbuh, seiring waktu cinta juga semakin meninggi dan utuh. Mulanya memang benar, jatuh cinta berjuta rasanya. Namun ternyata, cinta dalam diam tidak selalu berbunga-bunga. Kalau sebagian orang bisa baik-baik saja dengan perasaannya, tidak bagi orang-orang yang kesulitan mengutarakan rasa yang dipendam lama. Bukannya menjadi bagian dari bahagia, cinta dalam diam justru menimbulkan banyak perkara. Di bawah langit biru yang cerah, cinta dalam diam berubah rupa menjadi masalah. Hari demi hari, cinta dalam diam bukannya tenang, justru semakin meradang. Perasaan yang terasa rumit mengusik rangkaian kegiatan yang padat bertambah penat. Berharap dengan diam, cinta yang tumbuh bisa tetap dipendam. Namun ternyata, cinta malah merengek meminta ruang dan waktu untuk bisa bicara ke hati yang sedang dituju.

Tak jarang, cinta terkurung kokohnya gengsi, tetapi komunikasi bisa menjadi kunci. Walaupun bukan jurus paling jitu, komunikasi tetap akan sangat membantu. Beri kesempatan pikiran dan hati untuk berkomunikasi supaya gengsi, takut, malu, dan minder bisa terguncang. Biarkan pikiran dan hati saling menyampaikan pesan dengan leluasa, meski keraguan masih menjadi pengganggunya. Selepas pikiran dan hati bisa sama-sama saling mengerti karena telah berkomunikasi, cinta dalam diam pun bisa menuju ke hatinya dengan berbekal rasa berani. Belum cukup sampai di situ, komunikasi masih tetap akan sangat membantu. Melalui komunikasi kita tidak akan lagi terjerat dalam dugaan-dugaan yang kita buat sendiri. Berkomunikasi membantu kita mendapatkan jawaban yang selama ini dicari. Berkomunikasi lisan secara langsung memang lebih efektif, tetapi kalau menatap matanya saja sangat gugup, cinta dalam diam masih bisa bicara lewat tulisan dibubuhi tanda baca yang cukup. Cinta bisa dirangkai indah dalam bait-bait puisi, dikisahkan dalam novel, atau romantisnya sepucuk surat tanpa terlalu banyak basa-basi.

Meski bukan sebagai panasea, komunikasi telah menyelesaikan rumitnya cinta dalam diam. Perasaan berangsur menjadi lebih lega, sebab cinta sudah berani bicara ke hati yang dituju sejak lama. Terlepas dari akan mendapatkan balasan cinta yang sama atau malah bertepuk sebelah tangan, cinta dalam diam tidak perlu lagi dipendam. Selain itu, rangkaian kegiatan tidak lagi terhambat, kreativitas justru melesat. Dengan jenis komunikasi tertulis yang akhirnya kita pilih; entah dalam puisi, novel, atau surat tersebut, ungkapan soal cinta bisa lebih dari kata-kata "Aku cinta kamu", tetapi juga bisa menjadi karya yang tidak akan lekang oleh waktu.