Tawa

Seorang anak, adalah saksi utama kehancuran keluarga

Tawa

Hal yang paling disukai Kemal adalah suara tawa ibunya. Tawa ibu yang renyah, sambil memamerkan deretan gigi putih mutiara dan matanya yang seolah turut tertawa selalu menyenangkan hati siapa saja yang melihatnya, terutama Kemal.

Ibunya seorang perempuan pendiam dan terlalu serius. Jika sedang kesal, bukannya mengomel, ibu akan menyibukkan diri membereskan rumah mungil mereka. Merapihan perabot, menata lemari pakaiannya yang berantakan dan membersihkan meja dan kursi dari debu.

Ibu senang sekali beres-beres. Semakin sering jengkel, semakin rapih rumah mungil mereka. Belakangan, saking seringnya jengkel, maka rumah mereka jadi kelihatan selalu rapih dan bersih. Kadang Kemal iseng ingin mengganggu ibunya. Dia akan melemparkan tas dan seragamnya ke sembarang tempat. Meninggalkan jejak kedatangannya dari sekolah di mana-mana. Berharap ibu akan mengomel.

Tapi ibu hanya akan menggelengkan kepalanya lalu mulai membereskan barang barang Kemal.

Kemal akan bercerita tentang sekolahnya, dan ibu akan mendengarkan dalam diam. Dulu ibu tidak begitu. Ibu selalu mau menanggapi setiap kisah konyolnya lalu mereka akan tertawa bersama. Tapi belakangan ibu jadi semakin jarang tertawa. Bicara juga hanya seperlunya saja.

Sejak berhenti bekerja dan memutuskan untuk diam di rumah ibu jadi semakin pendiam. Dulu Kemal masih sering mendengarnya memutar lagu-lagu rock lawas dari group band Boomerang atau Slank kesayangan ibu, sambil mendengarnya berdendang mengikuti nyanyian sang vokalis, tapi sejak ibu tinggal di rumah ibu tak pernah lagi mendengarkan musik apalagi menyanyi.

Dulu ibu masih mengomel jika ayah tidak langsung mengganti pakaian dan mandi sepulang kerja, tapi kini ayahlah yang terdengar makin sering mengomel. Ada saja omelan ayahnya pada ibu. Lelah dan lapar sepulang kerja membuat ayah menjadi gampang naik darah. Masakan yang tak pernah tersedia di atas meja karena ibu memang tak hobi memasak. Pakaian kerja yang habis karena belum sempat di laundry atau uang belanja yang kurang karena menurut ayah, ibu terlalu boros.

Kemal berharap dia cepat besar dan bisa bekerja dan memberi tambahan uang belanja untuk ibunya. Dia ingat saat bekerja dulu, ibunya suka sekali mengajaknya makan di warung yang enak enak sehabis gajian. Ibu juga selalu membelikannya pakaian baru secara berkala sedangkan sekarang, dengan sedih dia memandangi kaus mainnya yang sudah kependekan dan celana panjangnya yang sudah berubah menjadi celana tujuh perdelapan yang tanggung.

Kemal ingat betapa senangnya ibu memakai pakaian baru. Dia akan berdandan dengan sangat cantik untuk menyambut kepulangan ayah dari kantor. Lalu Kemal juga mengingat binar di wajah ibunya saat ayah mengajaknya menonton konser Boomerang atau Slank bersama para penggemar lainnya.

Sayangnya hal-hal yang bisa membuat wajah ibu berbinar itu tak ada lagi. Ayahnya terlalu sering lembur guna mendapatkan tambahan uang untuk biaya hidup dan pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan kesal.

Dan wajah ibu sudah kehilangan gelak tawa yang akan selalu dirindukan Kemal.