OBROLAN PANJANG DI MALAM YANG PENDEK

OBROLAN PANJANG DI MALAM YANG PENDEK
Foto : Pinterest

 

Kepada Sang Penguasa hatiku.. 

Hai, Tuhan, mari berbincang-bincang. Di sini di bangku dekat jendela saja, di malam yang mendung, tapi aku tak peduli itu. 
Dua cangkir cokelat panas dan beberapa tangkup roti tawar manis sudah kusiapkan di meja. Janganlah terburu-buru berlalu, sebab nanti akan kubacakan sebuah sajak untukMu. 
Iya, sebuah saja. Aku tak ingin Kau bosan, Tuhan. Ah sebenarnya aku hanya ingin menumpahkan keresahan, tapi ini bukan kesedihan ya, aku tak bersedih, aku cukup bersyukur bahwa aku masih baik-baik saja sampai saat ini.

Tuhan, kedatangan dan kepergian telah Kau jatuhkan pada mereka, juga kepadaku jauh sebelum perasaan ini Kau hidupkan. 
Kau pasti mengerti, belasan tahun setelahnya rinduku tak juga surut.
Serupa lautan ia penuh menyeluruh dalam dada, kadang bergelombang membuat degub dada tak beraturan. Kadang menyesakkan. Kadang membuat riang. 
Pertemuan kami mungkin hanya sebatas lalu dan tak untuk saling menemukan seperti yang kupikirkan. Suatu waktu langkahku teramat berat, sebab segalaku memikul rindu yang kepadanya saja beralamat.

Tuhan, Kau tak menciptakan mata dan kaki kan pada rindu? Tapi dengan caranya ia tahu ke mana harus kembali. Melepaskan diri dalam sungai-sungai kehidupan yang Kau ciptakan. Berkelok-kelok diantara keras bebatuan dan licinnya lumut sepanjang jalan.

Tuhan, mencintainya apakah semacam karma bagiku? Mungkin, aku berbohong untuk mengatakan aku baik-baik saja. Telah tumpah segala dalam isak yang kusembunyikan pun dari diriku sendiri. 
Ini bukan hari terburuk kan, Tuhan, ketika rengkuhku hanya menemukan bayang-bayangnya? 
Serupa menenggak kopi tanpa gula, pahit. Akulah cangkir yang berdenting sendirian. Menanggung sepi yang paling sunyi.

Kumohon, Tuhan, jika waktu tak membawaku kepadanya, letakkan ikhlas sebagai alas. 
Kau pahamkan aku tak selalu sekuat itu menerima segala, apalagi memanggul rasa yang semakin hari semakin saja. Apalagi yang bisa kulakukan selain menangisi rindu yang herannya tak usai-usai. Aku benci mengapa aku harus selebay ini.

Tuhan, sungguh aku lelah, teramat lelah. Mungkin aku harus segera tidur tanpa memimpikannya, lagi. Dan sebelum Kau pergi, dengarkan sajak sederhana untuk perasaan yang rumit kepadanya.... 


ribuan malam yang tertinggal tetap tak menemukan jawab dari pertanyaan sederhana, kau di mana?
dingin jalanan aspal
lampu-lampu saling tatap dalam cemas sebab langkah menapak getir
gugurlah gugur, dedaunan
layulah layu, rekah kamboja merah muda, dan wangimu jatuh diantaranya
pelukan panjang, sayang, terlanjur kutukar dengan kehilangan yang kusiapkan sendiri
untuk esok yang entah, biarkan musim yang asing membawaku kepadamu, sekali lagi
maka atas nama kehidupan yang membawaku kepadamu, gugurkan sendu
takdir semesta
aku mencintaimu, selalu


*


Karena kelelahan aku tertidur. Lelap, tanpa bermimpi apa-apa.
Tapi semesta mencatat peristiwa; saat Tuhan tersenyum dan mengusap kepalaku berkali-kali seraya berkata "Kau lebih kuat dari yang kau sangka, anakKu. Ingatlah Aku mencintaimu selalu. Kuberkati kau dengan selembar cinta yang lebih abadi dari waktu."


***