Jembatan Kenangan (Bagian Ketiga)

Ini adalah cerita bersambung, ada 3 bagian. Terinspirasi dari sebuah foto tua bersejarah.

Jembatan Kenangan  (Bagian Ketiga)

 

Bagian Ketiga.

 

“Jack marah marah ke Kong kemarin” kata Ma.
“Jack bilang dia yang ingin menikah denganmu.” katanya.
“Jangan bodoh, Bule tidak boleh menikah dengan Asia. Kalian bisa dipenjara, bahkan bisa dibunuh!” katanya.
“Masa sih?” tanyaku. Aku hidup di Jaman modern. Aku tidak tahu kehidupan di jaman ini.
“Jack bisa mengulang kesalahan dia yang dulu lagi. Kalau kamu peduli sama Jack, jangan mau menikah dengan dia!, kamu akan membuat hidupnya sengsara!” kata Ma.
“Maaf ma, aku tidak siap menikah dengan siapapun. Aku masih belum ingat keluargaku. Aku ingin menikah dihadiri keluargaku.” jawabku diplomatis, walau berbohong.


Hari minggu ini, sepulang dari gereja, Kami diundang ke rumah Tom, sang mandor.
“Kenalkan ini Ruth, istri Tom, dia ini bidan yang dulu membantu persalinan mantan istriku.” kata Jack. 
Ruth tersenyum.
“Ruth ini pintar memasak, bahkan masakan Chinese juga dia bisa!” Tom memuji istrinya.
“Saya sering main ke Chinatown, saya suka minta diajarin masak sama ibunya Kong.” kata Ruth.
“Minggu depan orangtuaku akan datang untuk menghadiri pernikahan kita.” kata Jack.
“Tom dan istrinya akan menjadi saksi di pernikahan kita.” kata Jack kepadaku.
“Apa nanti kamu tidak akan bermasalah?” tanyaku.
“Jangan khawatir, kita akan menikah di gereja dulu. Proses di pemerintah akan lebih lama, tapi kita bisa bersabar” kata Jack.
“Selamat ya buat kalian berdua!” kata Ruth.
“Mau hadiah apa untuk pernikahan kalian?” tanya Tom.
“Ah tidak usah repot repot.” kata Jack.
“Kau sudah seperti adik kandungku sendiri Jack, mintalah, apa saja pasti kuberikan.” kata Tom.
“Istrinya dia dulu juga sudah seperti saudaraku sendiri, kita sangat akrab. Sekarang kamu yang akan menjadi sister baru saya.” kata Ruth tersenyum manis.

 

Beberapa hari menjelang hari pernikahan kami, aku datang ke Centre Street bridge. Membawa bekal makan siang, Shepherd's pie kesukaan Jack. Ingin memberikan kejutan.
“Jenny!”
Aku berpaling. Ternyata Tom, sang mandor yang memanggilku.
Para pekerja sedang sibuk bekerja di bagian bawah jembatan. Hanya Tom dan aku di bagian atas yang hampir sepenuhnya selesai.
“Hi Tom, apa kabar?” kataku.
“Jenny, apa kau sudah mantap menikah dengan Jack?” tanyanya
“Ya tentu saja.” jawabku.
“Pikirkanlah sekali lagi, saya tahu kalian saling mencintai, tapi pernikahan campuran kalian itu terlarang, kasihan Jack nanti. Kamu tahu apa yang terjadi dengan pernikahan pertamanya?” tanya Tom.
Aku agak heran, hari minggu lalu Tom terlihat ikut senang dengan rencana pernikahan kami. Tapi hari ini dia berbeda.
“Saya tidak mau Jack menderita. Dulu sudah saya nasehati berkali-kali, tapi dia tetap nekat menikah. Akhirnya akibatnya fatal.” kata Tom.
“Istrinya dulu meninggal karena melahirkan, itu nasib buruk, tidak ada hubungannya dengan pernikahan interracial.” kataku.
“Istriku bidannya!” Jawab Tom.
Maksudnya apa?
“Maafkan aku Jenny, aku terpaksa melakukan ini!” kata Tom.
Tiba tiba kulihat Tom mengayunkan batu yang sangat besar ke kepalaku.
Kepalaku terasa sangat sakit, aku tersungkur jatuh. Tiba tiba gelap.

 

Sinar terang dan suara percakapan orang membangunkan aku.
Kulihat sekelilingku. Seorang berpakaian perawat berdiri di sampingku.
“Dokter, dokter, dia terbangun!” ujarnya.
Dokter yang dipanggilnya menghampiri aku.
“Anda tahu anda berada di mana?” tanya dokter.
“Sepertinya rumah sakit.” kataku.
“Siapa nama anda?” tanyanya.
Kusebutkan namaku.
“Bagus, anda masih ingat. Cocok dengan kartu identitas yang kami temukan di tas anda!” kata dokter itu senang.
“Anda sudah koma selama beberapa bulan!” kata dokter itu.
Aku terkejut.
“Sekarang tahun berapa dok?” tanyaku.
“2021, Kamu dibawa ke sini summer tahun lalu, ditemukan pingsan di Centre Street Bridge.” kata dokter.
Oh ternyata aku koma berbulan bulan. Apakah semua kejadian di tahun 1916 hanya mimpiku saja selama aku koma?
“Mereka menemukan tas kamu ini.” Suster menyodorkan tasku.
Kubuka tasku. Ada tempat makanan berisi Shepherd's pie dan secarik surat yang kutulis untuk Jack. “Selamat makan sayang!, Love, Jenny.
Aku tahu namaku bukan Jenny. Bila semua ini cuma mimpi, bagaimana mungkin tulisan ini ada di sini?
Kucium Shepherd's pie itu. Tidak basi. 
Bila aku pingsan berbulan bulan, mana mungkin Shepherd's pie ini tidak basi?
Aku ingin bertanya pada dokter, tapi kuurungkan. Aku tidak mau dianggap gila dan dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa.

Beberapa bulan kemudian, aku sudah sehat dan pulang kembali ke rumahku.
Seringkali aku teringat pada Jack.
Apa kabarnya Jack? Walaupun sekarang 2021. Dia pasti sudah meninggal. Tapi apa reaksinya saat tahu aku meninggal? 
Jack tidak akan pernah tahu bahwa Tom, teman kepercayaannya, ternyata membunuhku.  Bahwa Ruth, istri Tom yang bertanggung jawab atas kematian istri pertama dan bayi mereka.
Kejahatan memang selalu ada dari masa ke masa. Technology berubah, jaman berubah. Tapi sifat manusia tetap sama.
Ya Tuhan, jauhkanlah aku dari sifat jahat seperti mereka. 
Tiba tiba aku merasa ingin pergi ke gereja. Sudah lama aku tidak ke gereja.


Aku berjalan ke gereja melalui Centre Street Bridge.
Sambil kunikmati pemandangan yang indah, tak kuasa kenangan tentang Jack dan semua kejadian di tahun 1916 kembali terbayang.
Aku merasa bersalah sudah pergi tanpa pamit. Untuk kedua kalinya Jack kehilangan istrinya.
Oh seandainya bisa kubawa Jack ke masa ini….

Tak terasa, aku sudah sampai di gereja.
Rupanya aku terlambat lima belas menit. Misa sudah dimulai.
Penyanyi kur baru saja selesai bernyanyi.
Seorang Pastor maju ke mimbar. Sepertinya Pastor baru. Karena Pastor yang lama sudah tua hampir pensiun, gemuk dan botak. Walau mataku kurang dapat melihat jauh, bisa kulihat pastor yang ini tinggi dan tegap. Terlihat lebih muda dan berambut blonde. Kuraih kacamataku dari dalam tas, agar aku dapat melihat lebih jelas.
Pastor sudah memulai kotbahnya. Kacamataku sudah terpasang, kuperhatikan wajah Pastor itu. Tampan, senyumnya manis berlesung pipit.
Mirip Channing Tatum. Jantungku berdentum.
“Jack!”  seruku.
Tiba tiba badanku lemas, jatuh terhempas.
“Tolong, tolong, ada yang pingsan nih!” terdengar teriakan di sebelahku.
Suara suara panik mengelilingiku.
Lalu semuanya gelap. Lalu senyap.


Tamat