Cuitan yang Menjadi Tulisan

Cuitan yang Menjadi Tulisan
Foto oleh rase

Bayangkan, sekumpulan cuitan bisa diolah menjadi … sebuah tulisan? Kang Maman memberitahu caranya dalam buku terbarunya: Aku Menulis Maka Aku Ada.

Batas karakter per cuitan di Twitter sejak tahun 2017 menjadi dua kali dari sebelumnya, yaitu menjadi 280. Batasan yang tetap terhitung pendek. Tetap cuitan, tetap berupa ‘suara’ burung biru. Namun Kang Maman memberi contoh cara mengolah cuitan-cuitan itu dan membuatnya menjadi panjang, serta layak menjadi bagian sebuah buku, yang diterbitkan oleh DIVA Press pada November 2020.

Dengan ukuran 15,5 x 24 sebanyak 444 halaman, buku ini mencapai ketebalan hampir tiga sentimeter. Cukup tebal dan lebih besar dari buku kebanyakan. Meskipun merupakan buku tentang menulis dengan berat hampir 500 gram, buku ini jauh dari kesan ‘berat’. Badan utama yang berupa teks, justru dilengkapi dengan foto-foto. Ada pula ilustrasi-ilustrasi yang khusus dipesan untuk melengkapi tulisan di bab enam. Selain itu, ada 27 lembar kosong bertanda garis putus-putus dan logo gunting. Lembar-lembar kosong dijadikan simbol produktivitas, dengan syarat tidak boleh dibiarkan kosong. Ada juga lembar-lembar bertuliskan huruf berukuran besar supaya pandangan mata tidak lelah.

Kang Maman, dengan seabrek pengalaman kerja dan hidupnya, adalah seorang yang sangat mencintai dunia literasi. Ia mendapat atmosfer luar biasa yang mendekatkannya dengan dunia buku. Betapa tidak? Dalam kata pengantarnya, Kang Maman menulis bahwa ayahnya mengenalkan dia pada bacaan saat usianya tiga tahun. Bahkan ibunya selalu menasihati untuk terus menulis. Kang Maman sendiri kerap mengingatkan banyak orang tentang Iqra yang adalah perintah pertama-Nya.

Kang Maman mengawali bukunya dengan mengajak pembaca untuk mulai menulis, bahkan sependek apapun itu. Tulisan-tulisan itu ditabung, yang nantinya diolah menjadi sebuah tulisan lengkap. Di bab kedua, Kang Maman bercerita tentang proses kreatif yang dilakukan oleh sembilan penulis, antara lain PAT, SDD, NH Dini dan Arswendo Atmowiloto. Bab ketiga menegaskan bahwa membaca adalah bagian yang tak dipisahkan dari menulis. Pengalaman sebagai jurnalis membuat Kang Maman mengisi bab empat dengan prinsip jurnalisme dalam menulis, yang tidak cukup dengan 5W1H tetapi ditambah dengan ++.  Bab lima berisi proses menulis yang dilakukannya. Bab enam berisi cara ia bertemu dan menangkap ide-ide yang muncul. Bab tujuh menutup buku ini dengan tulisan-tulisan yang merespons tulisan dan buku Kang Maman. 

Buku ini sungguh istimewa. Dalam buku ini, Kang Maman selalu mengingatkan bahwa menulis itu sangat personal. Bahwa cara atau metode yang ia terapkan bukanlah sebuah harga mati yang harus diikuti. Tiap orang memiliki caranya masing-masing. Di sisi lain, dengan terbuka ia menjelaskan metode yang ia lakukan. Tentang caranya yang sangat rajin menabung tulisan. Termasuk memperoleh 100 ide selama 24 jam yang disajikan berbentuk poster ukuran A2 sebagai bonus sisipan.

Dalam jurnalisme, sudah jamak dikenal rumus 5W1H, yaitu Who (siapa), What (apa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), serta How (bagaimana). Sebagai seorang yang berpengalaman sebagai pewarta dan jurnalis sekian puluh tahun, Kang Maman menjelaskan bahwa 5W1H saja tidak cukup. Ia mengingatkan adanya dua unsur lagi, yaitu So What (lantas apa) dan Verification (verifikasi). Kesemua itu tidak hanya berguna untuk menulis, tetapi juga ketika Kang Maman menyusun notulen, epilog, termasuk ketika menjadi moderator dan narasumber. 

Banyak tips yang ia bagikan dalam buku ini. Tidak sekadar menuliskan caranya, tetapi juga menunjukkan contoh-contohnya. Pembaca dengan mudah menangkap dan memahaminya. Yang tak kalah menarik adalah, cara Kang Maman menyertakan semua acuan yang dipakainya dalam badan teks. Tidak ada catatan kaki. Referensi, baik itu berupa penggalan dari tulisan-tulisannya di buku lain maupun dari berbagai sumber, dicantumkan. Ini membuat pembaca fokus terus membaca, tanpa harus ‘mencari-cari’ ke tempat lain. Pembaca otomatis mendapatkan bonus ‘mencicipi’ tulisan-tulisan Kang Maman (yang lain) serta tulisan orang lain dalam buku ini. Konsekuensinya: Buku menjadi tebal. 

“Baca tulisan secara keseluruhan, bisa jadi berulang-ulang …,” begitu tulis Kang Maman. Rupanya ia punya kebiasaan mengulang-ulang membaca, serta tertib membuat ringkasan dan mencatat hal-hal penting dari buku-buku yang dibacanya. Dengan begitu, ia memperoleh gagasan dan sudut pandang dari berbagai bacaaan yang dilahapnya. Berbagai gagasan dalam pikiran nantinya akan dijodohkan satu sama lain, sehingga menjadi sebuah tulisan baru.

Salah satu bahasan yang menarik dalam buku ini adalah pernyataan Kang Maman, bahwa tidak ada beda antara fakta dan fiksi ketika sudah ditulis. Ia berpatokan pada SDD, gurunya, yang mengungkapkan bahwa “ … barangkali dunia nyata boleh tidak masuk akal, tetapi dunia rekaan harus masuk akal.” Agak sulit menangkap hal ini, namun buku ini menyediakan contoh dan penjelasannya. 

“Aku adalah editor paling sadis bagi tulisanku sendiri,” begitu Kang Maman mengakui dalam proses menulisnya. Ia pernah membabat habis naskah setebal 400 halaman menjadi sekitar setengahnya. Kesadisannya itu dilakukan demi mendapatkan tulisan yang memiliki ruh, sederhana, dan yang fokus pada isi atau gagasan  yang ingin disampaikan. Namun demikian, Kang Maman menyimpan kalimat-kalimat yang disuntingnya itu di tempat lain. Jadi tetap saja ia menabung kalimat-kalimat, yang nantinya akan disambanginya lagi untuk dijodohkan dengan gagasan-gagasan berikutnya.

Buku ini cocok sebagai panduan menulis sekaligus pemberi semangat bagi pembaca. Inspirasi dan ajakan menulis itu kental terasa dalam buku ini. Cara kreatifnya menabung tulisan dan menggali sejumlah ide secara terus-menerus mungkin dimiliki oleh banyak penulis. Namun tak banyak yang dengan murah hati menuliskan (dalam sebuah buku) contoh dan tahapan-tahapan berupa tulisan, yang tidak cukup hanya satu melainkan banyak sekali. Ketika contoh-contoh diberikan, pembaca tentunya lebih mudah mengerti metodenya. Meskipun, berkali-kali juga Kang Maman mengingatkan bahwa tiap orang memiliki cara tersendiri sesuai dirinya masing-masing. 

Buku ini memperlihatkan betapa Kang Maman menuruti nasihat bijak ibundanya supaya berbagi pengalaman. Ia sekaligus mengabadikan pemikirannya. Dalam bahasa Latin disebut scribo ergo sum, yang artinya: Aku menulis maka aku ada.

Sepotong cuitan? Tidak apa-apa. Mulailah menabung tulisan, sependek apapun itu. Begitu ajakan Kang Maman kepada pembaca bukunya.


***
Judul: Aku Menulis Maka Aku Ada
Penulis: Kang Maman
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, November 2020
Tebal: 444 hal
ISBN: 978-623-293-126-8

​​​​