Cincin Kawin

Cincin Kawin

  "Maafin Deden, Mah. Belum bisa belikan kulkas baru, sekarang," Deden terpekur di kursi, tak berani menatap wajah ibunya.
   "Memang gaji Deden sekarang berapa? Bukannya udah naik?" ada nada tak percaya di suara ibunya.
    "Ehm, Alhamdulillah naik, Mah. Tapi, pas lahiran si Neng, kan harus operasi. Peraturan dari kantor, kalau operasi cuma ditanggung separo. Sisanya Deden pinjam uang koperasi di kantor, potong gaji tiap bulan," jawab Deden lirih, mencuri pandang ke arah Ratna, istrinya.
Sejak tadi, Ratna hanya diam dan menunduk. Memainkan ujung blusnya.
    "Bulan ini, Deden kan bayarkeun uang les bahasa Inggris Dian, Mah," Deden menelan ludah, tapi tak mampu membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
     Dian adik bungsunya, dan Dodi, pengais bungsu, juga masih ia tanggung kebutuhan sekolah dan kuliahnya. Deden memang yang meminta mereka agar mengikuti berbagai kursus, untuk melengkapi keterampilan di luar pelajaran sekolah. Supaya adik-adiknya nanti memiliki nilai lebih saat harus masuk dunia kerja.
    "Mamah dulu lahiran, nggak ada yang operasi. Mungkin karena tau diri jadi orang nggak punya, anak-anak Mamah nggak ada yang manja. Si Teteh, A' Didi sama Deden aja, dulu lahirnya di paraji. Yang kecil-kecil aja, baru di bidan," ucap ibunya datar.
    Dari dalam kamar terdengar suara tangis bayi, Ratna bangkit dari duduknya, "Punten, Mah. Mau nenenin Neng dulu."
    "Kesepian kali, dipisah tidur begitu di box. Biar atuh, tidur sama bapak ibunya. Mamah, anak lima. Sampai umur lima tahun juga masih tidur bareng, SD baru pisah tidurnya."
    Deden berdiri sejenak memandang ke dalam kamar. Ratna balas menatapnya, sejurus kemudian menutup pintu tetapi tidak dirapatkan. Deden kembali duduk di hadapan ibunya, seperti seorang pesakitan.
    "Terus, Deden minta surat beli cincin kawin, buat apa?"
    Deden tercekat.
    "Kacamata Deden ini, kemarin nggak sengaja keinjak, gagangnya patah. Jadi harus ganti segera. Ini ada pegangan cuma buat makan dan ongkos kerja aja, sampai gajian lagi. Minggu lalu, si Neng habis vaksin ke rumah sakit," jawabnya sambil menunjukkan kacamata yang sedari tadi dipegang.
    "Ehm, Ratna bilang, kalau Mamah memang butuh kulkasnya mendesak banget, cincin kawinnya dijual dulu, aja. Buat ganti kacamata dan beli kulkas," lanjut Deden dengan getir.
    "Ooh, maksudnya cincin teh, mau dijual dulu gitu? Makanya minta suratnya ke Mamah?"
Deden mengangguk dengan senyum kaku.
    "Bayi, mah, vaksin nggak perlu ke rumah sakit. Bawa aja ke posyandu, sama aja. Rumah sakit pasti mahal, atuh Den!"
    "Iya, Mah," Deden mengangguk pelan.
Dari semua anak, Deden yang paling tidak pernah membantah kedua orang tuanya. Dia juga selalu menuruti permintaan orang tuanya, walaupun kadang harus mengorbankan kepentingan pribadi. Apalagi kepada ibu, Deden takut menjadi anak yang durhaka.
    Deden sangat paham, sang ibu berharap lebih padanya. Di antara kakak-kakaknya, hanya dia yang bisa kuliah di perguruan tinggi, itu pun dengan mencari beasiswa ke sana sini. Beruntung dia dikaruniai otak yang cerdas. Meski untuk makan saja mereka susah, namun untuk urusan sekolah, dia selalu mendapat banyak bantuan karena prestasinya.
    Lulus dengan nilai memuaskan, membawanya bekerja di tempat yang baik dan bergaji lumayan. Nilai yang fantastis untuk dirinya saat menerima gaji pertama. Jumlah yang paling besar dari seluruh pendapatannya saat kerja sambilan yang sudah ia lakukan sejak usia anak-anak.
    Deden ingat betul saat SMA, papah menikah lagi diam-diam. Sejak itu tak jelas nafkah mereka sekeluarga. Hidup yang dari dulu jarang senang, jadi terasa sekali makin susah. Mereka akhirnya berjuang untuk bisa bertahan hidup dan sekolah. Hadirnya papah antara ada dan tiada, sampai detik ini.
    Sekarang Teh Dini sudah menikah dan bekerja menjadi guru sebuah SD negeri, A' Didi juga sudah menikah, kadang bekerja tapi lebih sering menganggurnya. Mamah dan kedua adiknya, otomatis adalah tanggungan Deden. Bahkan papah, yang kadang menghubungi atau datang ke rumahnya, hanya untuk minta uang.
    Deden tak menduga, kalau Ratna harus operasi ketika melahirkan anak pertama mereka. Posisi bayi melintang dan terlilit tali pusat. Gajinya yang sudah dipotong cicilan rumah dan motor, menanggung orang tua dan adik-adiknya, ditambah potongan untuk biaya operasi yang hanya bisa dicicil selama 10 bulan plus bunganya. Sungguh mencekik!
    "Memang nggak bisa pinjem uang dulu ke temen-temen? Apa ke keluarga Ratna dulu, gitu?" suara ibunya membuyarkan lamunan Deden.
    "Deden malu, Mah. Waktu si Neng pulang dari RS, sudah dipinjemin Kang Hari 1,5 juta. Waktu itu kan, tiba-tiba Mamah minta uang buat bayar hutang ke Bu Haji Atet. Uang buat pelunasan RS kurang," Deden lagi-lagi berusaha menelan ludah. Ingat saat detik-detik kepulangan bayinya dari RS. Dengan menahan malu yang sangat, Deden meminjam uang pada Kang Hari, kakak iparnya.
    "Kalau begitu, biar cincinnya mamah yang jualin aja sekalian. Mamah cari-cari suratnya belum ketemu. Kalau jual ke toko langganan Mamah kan, Engkohnya udah kenal, nggak pake surat juga nggak apa-apa."
    Deden tergagap, bingung mau berkata apa.
    "Maksud Deden kalau Mamah bawa suratnya sekarang, mau Deden bawa segera ke toko emas. Jadi Deden bisa langsung ke optik. Mata Deden nggak enak, Mah. Pakai kacamata yang lama, minusnya sudah beda," katanya terbata-bata.
    "Cincinnya berapa gram?" tanya ibunya.
    "Lima," jawab Deden singkat.
    Ibunya membuka tas, lalu mengeluarkan dompet.
    "Ini Mamah ada 1 juta, buat Deden pesen kacamata. Cincinnya Mamah bawa, sekarang. Mamah mau pulang, takut keburu sore," perempuan paruh baya itu meletakkan sepuluh lembar uang berwarna merah muda di meja tamu.
    Deden semakin tak bisa berkata-kata. Ia berdiri dan seperti orang linglung berjalan ke dalam kamar. Tubuhnya yang gempal, seperti tak bertulang. Lunglai.
   Terdengar dari kamarnya, mamah menelfon A' Didi yang sedang mengobrol di pos satpam. A' Didi yang memang sedang ada keperluan ke kota, tadi pagi mengantar mamah dulu ke rumah Deden, lalu kembali setelah habis Zuhur.
    Ratna yang mungkin mendengar obrolan di ruang tamu, sudah menyiapkan cincin emas 24 karat miliknya dalam kotak kecil berwarna merah. Wajahnya tersenyum, tapi ada gurat pedih yang dalam di sana.
    Mereka berjalan beriringan keluar kamar, lalu duduk bersebelahan dalam diam. Menunggu mamah yang sedang ke kamar mandi.
Tak lama, terdengar motor A' Didi datang. Deden membantu ibunya naik ke boncengan. Motor tua itu pelan-pelan meninggalkan halaman, melaju pelan di jalanan dalam komplek, lalu menghilang dari pandangan Deden dan Ratna.
     "Maafin Aa, ya..." bisik Deden sambil mengusap air mata yang mulai mengaliri pipi istri yang baru satu tahun lima bulan ia nikahi itu.
Ratna tergugu. Perjalanan masih sangat panjang ke depan.