Walk the Talk

Catatan Seorang Ecofreak #4

Walk the Talk
Es kunyit asam dengan sedotan kaca yang ramah lingkungan, di Sitinggil Muncul. (Foto oleh: rase)

Pada suatu sore yang tepat, si ecofreak memergoki beberapa laki-laki duduk ngobrol dengan seru, lalu dengan santai mematikan serta membuang puntung rokok di pot tanaman di dekatnya. 

WHAT???

Ecofreak sampai mengucek matanya menyaksikan pemandangan itu. Ia mengira dirinya salah lihat. Mungkin pemandangan itu lumrah bagi orang lain, tetapi tidak bagi ecofreak. Apalagi para laki-laki itu bisa dibilang para aktivis lingkungan. Pendekar. Atau disebut juga SJW di kekinian, yaitu social justice warrior

Penampilan aktivis garang dan berapi-api di podium dan di depan kerumunan, ternyata langsung kempes di keseharian mereka. Kata-kata yang berbuih di bibir, ternyata hanya pemanis doang. Giliran praktek, BIG ZERO.

Tak hanya kejadian itu saja. Ada banyak yang disaksikan ecofreak setelahnya. Meredupkan semangat ecofreak yang awalnya menggebu ingin menyelamatkan dunia. Apalagi ibunya mencuci otaknya supaya jadi orang konsisten. Walk the talk.

Walk the talk adalah sebuah istilah yang menunjukkan bahwa orang melakukan apa yang dikatakannya. Seorang aktivis lingkungan, tentunya menyayangi tanaman dan tidak menjadikannya sebagai asbak. Begitu kurang lebih. 

Perlahan, ecofreak menjauh dari lingkungan seperti itu. Ia ingin hidup sesuai caranya. Meskipun tidak mudah, ia berusaha walk the talk. Dengan skala dan jenis yang ia bisa kerjakan. Kadang ia merasa menjadi abu-abu. Tetapi ia lakukan terus. Mulai dari diri sendiri.

Selamat Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2021.