Let’s SPEAK and HEAR

Let’s SPEAK and HEAR

Selama kita hidup di dunia ini kita tak akan pernah lepas dari masalah. Masalah yang sering terjadi  biasanya dikarenakan adanya komunikasi yang tidak tepat. Penyampaian penjelasan yang ambigu, tidak tepat dan kurang lengkap bisa mengakibatkan penangkapan maksud yang bias yang menyebabkan kesalahpahaman yang akhirnya berujung menjadi sebuah masalah. Namun demikian, jika kita bisa memperbaiki cara berkomunikasi, maka masalah yang terjadi bisa diuraikan sehingga pesan awal yang ingin disampaikan tertangkap jelas.

Secara sederhana komunikasi terjadi karena ada yang berbicara dan ada yang mendengar. Komunikasi haruslah bersifat baik dan efektif yang mana pembicara mampu menyampaikan pesan atau isi dengan baik dan pendengar menangkap mampu maksud pembicara dalam pemahaman yang sama.

Konteks pembicara disini tidak hanya tentang seseorang dengan kemampuan public speaking yang menjangkau puluhan bahkan ratusan orang, namun juga seseorang yang hanya berbicara dengan seorang lainnya yang dianggap mampu mendengar apa yang dibicarakan. Di saat yang lain kita beralih peran menjadi pendengar, seseorang yang akan mendengar orang lain berbicara dengan tujuan menangkap maksud yang sedang dibicarakan.

Tentunya tak mudah untuk menjalin komunikasi yang baik secara terus-menerus. Banyak faktor yang bisa mengakibatkan sebuah komunikasi menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Miss komunikasi bisa terjadi karena ada yang salah dari yang disampaikan pembicara atau ada yang salah dari penangkapan pendengar. Karenanya baik pembicara maupun pendengar haruslah memahami suatu formula agar komunikasi yang dilakukan tidak menimbulkan masalah. Let’s SPEAK and HEAR.

Sumber:https://www.clipartkey.com/downpng/TxJRiJ_talking-stick-figures-two-people-talking-animation/

 

 

Seni Berbicara

Tujuan seorang berbicara tentulah untuk menyampaikan pesan baik berupa menyuarakan pendapat, berbagi informasi, meneruskan berita bahkan berbagi cerita baik kepada orang lain. Pembicara yang baik hendaklah memperhatikan beberapa hal agar apa yang diutarakan tertangkap dengan baik. Berbicarapun ada seninya agar pendengar merasakan dan mendapatkan maksud serta tujuan pembicaraan yang jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

S/ Siap. Upayakan berbicara dalam keadaan siap. Pahami apa yang akan dibicarakan. Jika masih dalam keadaan emosi atau belum siap, berdiamlah diri dulu atau jika pesan tersebut tidak tertahankan untuk disampaikan pastikan untuk berbicara dengan orang yang tepat atau yang benar-benar dipercaya karena mereka orang yang akan mengerti inti cerita yang berusaha disampaikan.

P/ Perhatikan pendengar. Tujuan seseorang berbicara memang untuk diperhatikan, namun seorang pembicara pun harus memperhatikan pendengar. Lakukan kontak mata agar pendengar merasa dihargai.

E/ Empati.  Perhatikan situasi dan kondisi pada saat berbicara. Gunakan bahasa yang baik, tidak muluk-muluk atau berputar-putar serta pakailah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pendengar. Lontarkan 1-2 lelucon di saat suasana relaks atau untuk memecah ketegangan. Tapi ingat jangan lakukan ketika anda dalam situasi duka. Pergunakan empati dalam melihat situasi pada saat berbicara.

A/Apa Adanya. Sampaikan apapun informasi,berita ataupun cerita secara jujur apa adanya. Jika tentang berita sampaikan dari sumber terpercaya. Jika tentang opini jelaskan bahwa yang anda sampaikan adalah dari perspektif pikiran anda. Jangan melebih-lebihkan atau menyembunyikan sepenggal informasi jika tidak ingin ada kesalahpahaman di kemudian hari.

K/Kendali Diri. Ketika berbicara tetaplah melakukan kendali diri. Janganlah terlalu dominan dalam pembicaraan. Pancinglah orang sekitar untuk berbicara atau mengeluarkan pendapat serta hindarilah membicarakan diri sendiri tanpa henti.

Bagaimanapun jadilah pendengar yang baik jika ingin menjadi pembicara yang baik

Seni Mendengar

Sering kita mendengar jika kita ingin menjadi pemimpin yang baik maka harus dimulai jadi pendengar yang baik. Tapi tak perlulah jadi pemimpin, jadilah terlebih dulu teman yang baik, caranya ya jadilah pendengar yang baik. Sebuah pribadi dikatakan tidak egois ketika pribadi tersebut mampu berperan sebagai pendengar yang baik. Sebuah kepercayaan dan kenyamanan dapat dihadirkan ketika kita mampu mendengarkan apa yang dibicarakan seseorang kepada kita. Tentunya mendengarkan tidak hanya sekedar mendengarkan namun memahami.

H/ Hargai. Hargailah isi pembicaraan bukan cara penyampaiannya. Tidak semua pembicara mampu untuk menyampaikan pesan dengan baik. Pendengar yang baik mampu menyaring informasi yang didapat sebelum ia beralih menjadi pembicara untuk meneruskan informasi yang didengar kepada orang lain.

E/Empati. Tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Pemikiran netral dan objektif serta tanpa prasangka sangat diperlukan dalam upaya memahami yang sedang diinformasikan pembicara secara utuh. Dengarkan pembicara dengan penuh empati dan tanpa menghakimi. Kunci mendengarkan yang baik adalah bersifat peka, menahan diri, mencoba memaknai dan menghargai sudut pandang pembicara alih-alih menyela karena pendapat pembicara  dirasa tak sesuai dengan pemikiran pendengar. Pendengar yang baik tahu waktu untuk menyampaikan sudut pandangnya. Tunggulah hingga pembicara usai menyampaikan pesannya.

A/Amati. Dengarkan dengan tulus, penuh perhatian. Tataplah mata pembicara.

R/Responsif. Pendengar mampu memberikan respon yang sesuai pada lawan bicara. Bicaralah ketika diminta oleh pembicara atau cukup dengarkan saja bergantung situasi pembicara. Berikan pendapat yang penuh dukungan ketimbang menjatuhkan.

Menjadi pendengar adalah belajar mendengar hal-hal yang terkadang tidak menarik bagi pendengar namun disitulah kemampuan empati pendengar diasah. Perlu kita tanamkan bahwa bisa jadi masalah yang diutarakan bukanlah urusan pendengar atau masalah yang disampaikan terkesan sepele, namun betapa berartinya bagi pembicara untuk meluapkan uneg-uneg, melampiaskan sedikit beban kepada orang yang dipercaya untuk mendengarkan. Mereka yang sedang berbicara terkadang bukan untuk mencari solusi, hanya ingin teman berbagi cerita, maka itu luangkan waktu anda untuk mendengar mereka.

Percayalah komunikasi akan berjalan dengan sangat efektif apabila kita mampu menjadi pembicara serta pendengar baik. Risiko salah paham menjadi minim serta jika ada permasalahan akan lebih mudah mencari solusi karena kedua pihak saling memahami. Apalagi jika komunikasi ditambah dengan secangkir kopi hangat

 

 

Daftar Pustaka

Warhol, Andy. “Seni berbicara”. Diakses melalui https://www.academia.edu/29349282/seni_berbicara pada tanggal 22 Desember 2020.

Noer, Nita Kris. 2020. “Pentingnya sebuah seni mendengarkan”. Diakses melalui https://www.kompasiana.com/nitakristantinoer/5eba91ef097f3620b46c86d2/pentingnya-sebuah-seni-mendengarkan?page=2 pada tanggal 21 Desember 2020.

Tosepu, Yusrin Ahmad. 2019. “Listening skills: mendengar adalah seni yang terlupakan”. Diakses melalui https://www.google.com/amp/s/yusrintosepuabdikarya.wordpress.com/2019/06/27/listening-skills-mendengar-adalah-seni-yang-terlupakan/amp/ pada tanggal 20 Desember 2020.