Fiksi

Fiksi

Rahasia Sahabat dan Kekasihku

#innakuberdongeng 
#21+

Rahasia Sahabat dan Kekasihku

Ini kisah tentang sahabat baik dan kekasihku dulu. Seorang sahabat yang telah bersama selama bertahun-tahun. Dia sangat lembut, penuh pengertian, bersifat keibuan. Senyumnya menawan dan mempesona. Terlebih dia wanita kuat. Berbagai masalah dalam hidupnya dihadapi dengan kepala tegak. Namun, yang terutama yang membuatnya sangat disukai dan begitu gampang dicintai semua orang adalah keramah tamahannya. Dia juga wanita cantik dan seksi.

Bersama teman-teman yang lain, kami sering bercanda dan tertawa, berbagi cerita duka dan saling menguatkan. Berkumpul menikmati kudapan yang suka dibelikannya untuk kami dengan secangkir kopi atau teh manis panas di sore yang lelah.

Tidak jarang aku sering membantunya mengerjakan hal-hal kantor. Dia juga suka memberiku barang-barangnya yang bagus dan cantik. Kadangkala kami akan duduk-duduk santai di sebuah kafe pada penghujung Minggu. Aku akan bermain dengan anaknya yang paling bungsu. Dia akan mengambil sejenak waktu itu untuk bercengkerama dengan teman lain. Begitulah persahabatan kami berdua.

Dan seorang kekasih yang kupilih. Baru kukenal setahun tapi telah kucintai dengan sepenuh hati. Kulimpahi kasih sayang meski saat itu 95% teman-temanku yang lain menentang dan mempermasalahkan hubungan kami. Aku tidak perduli telah digosipkan berulang-ulang karena keputusan memilih kekasih tersayangku itu. Acuh dijauhi sahabat terbaik lain demi sang kekasih. Banyak masalah bersama kekasih, kuceritakan ke sahabatku itu, karena dia termasuk golongan 5% yang masih mengatakan, “Itu pilihanmu. Asal kau baik-baik saja, itu tetap menjadi kehidupanmu sendiri. Kau yang jalani.”

Di suatu sore saat aku dan sahabatku itu duduk di sofa di kantor, dengan tersenyum genit dia menunjukkan status kekasihku yang dibacanya di media sosial.

“Apaan ini pacarmu? Sok bijak gini kata-katanya,” ujarnya sembari tersenyum. Aku hanya membalas dengan senyum termanis juga. Tidak ada terbersit apa pun di hatiku saat itu.

Malam saat aku dan kekasih tersayang sedang berkencan, aku mengeluhkan lemak perutku yang semakin menggelambir. “Perut Kakak itu rata, Sayang,” balasnya kala itu.

“Kok kamu tahu?”

“Yah, kan kelihatan dari cara dia berpakaian,” alasan kekasihku tersayang yang terlihat gugup. Sialnya aku menelan alasan itu bulat-bulat tanpa curiga. Karena kami bertiga memang sudah saling mengenal.

Berbagai sinyal pujian antara sahabat dan kekasihku yang dulu itu terlontar tanpa sedikit pun menghadirkan prasangka buruk.

Hingga suatu ketika aku mendapati hal yang menampar kesadaran. Mereka berdua ternyata menikamku dari belakang. Dengan alasan pertengkaranku dengan sang kekasih, mereka menjadi sangat dekat dan sering bertukar keluh kesah. Saling memanggil sayang di chat, sering video call dengan pakaian menggoda, sering bertelepon manja. Dan saling memberi pesan-pesan di media sosial. Hanya sebatas itu yang ketahui saat itu.

Ketika sahabat dan kekasihku yang dulu itu tertangkap basah, mereka memasang tameng perlindungan masing-masing. Entah sudah berkompromi atau memang insting untuk berlindung, mereka berdua berpisah dengan alasan yang dibuat semeyakinkan mungkin.

Sahabatku itu dengan wajah belas kasih dan topeng ketegaran berbalut kekecewaan mencuri hati 95% temanku yang memang di awal sudah berseberangan pendapat denganku. Dia pura-pura sedih karena aku yang emosi, marah menjadi salah paham dengannya.

“Dia cemburu buta karena aku menghubungi pacarnya itu. Padahal aku menghubungi karena urusan profesional kerja,” katanya mengiba ke mereka. Dan mereka pun semakin membela. Lebih memberi simpati lagi karena dia juga sedang menghadapi masalah rumah tangga yang sangat berat.

“Dia aja yang baperan. Pacarnya itu suka sama penampilanku. Karena itu dia mencontoh dan meniru semua gaya-gayaku. Dia juga bermanis dengan anakku karena pacarnya yang suruh,” penjelasannya yang blak-blakan semakin membuatku tersudut. Meski begitu aku memilih untuk diam dan tidak memberikan konfirmasi apa pun karena aku juga bersimpati dengan masalahnya dan tidak mau menambahi lagi dengan hal-hal ini.

“Dia perempuan yang keras. Dulu juga aku pernah didiamin tanpa ada sebab.” Semakin jauh sahabatku itu mencuri perhatian yang lain supaya tetap terarah kepadanya.

Di sampingku, “Sayang, dia cuman meminta aku untuk membuat suaminya cemburu, biar suaminya juga tahu rasanya diselingkuhi itu seperti apa.” Kekasih yang sangat kusayangi mencoba menjelaskan. “Tidak ada rasa apa-apa diantara kami. Itu semua hanya settingan.”

Aku percaya kekasihku dulu. Meski sahabatku itu semakin membuat aku disalahkan dan dipandang hina di sekitar kantor dan 95% temanku itu semakin manjauh. Mereka semua menganggap aku berlebihan dan tidak tahu diri menuduh sahabatku itu berkhianat dan memusuhinya. Aku hanya berkepala batu yang susah diberitahu.

Aku diam dan semakin diam dengan kerlingan menghakimi juga sindiran-sindiran halus mereka. Biarlah aku tanggung semua beban sakit hati, luka karena pengkhianatan mereka berdua. Dan kekasihku yang tersayang itu masih memilih setia di sampingku.

Hingga sekian lama telah berlalu. Aku, sahabat dan kekasihku yang dulu itu tidak lagi saling sapa. Kami bertiga telah memilih jalan kehidupan masing-masing. Setelah hatiku menemukan tenang, kebenaran yang sebenar-benarnya tentang cerita yang dulu terpampang nyata di mata dan telingaku. Kebenaran yang bagai godam menghantam hati, otak dan diriku sendiri.

Aku teringat dengan pujian kekasih yang dulu tentang perut rata sahabat yang kutanggapi tanpa curiga. Ternyata kekasih yang dulu itu tahu karena telah melihat sahabatku telanjang tanpa malu.

Dulu dia juga pernah bilang, “Tempat tidur Kakak itu besar dan nyaman, Sayang.” Ketika kuceritakan sahabat itu menjual berbagai perabotan rumah tangganya , yang kutanggapi tanpa curiga juga. Ternyata kata-kata itu terlontar karena sahabat dan kekasih yang dulu itu telah bergulat dengan nafsu di sana. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali.

Jantungku terus berdegup sangat kencang mendengar cerita itu. Kekasih yang dulu itu ternyata berulang kali mendatangi rumah sahabat itu saat suaminya tidak ada. Maka dia akan menyambut dengan manja dan berpakaian yang sengaja terbuka. Mereka bercinta di atas tempat tidur yang sama dengan yang dijualnya.

Lalu kemana anaknya? Dibiarkan bermain sebentar atau menonton televisi di ruang tengah. Perbuatan bersetubuh itu mereka lakukan selama beberapa lama. Kecurangan dulu yang aku ketahui hanya sebatas settingan ternyata menyimpan rahasia lebih. Mereka menikmati tubuh masing-masing dengan si wanita berstatus istri dan ibu, si pria berstatus kekasihku.

Setelah sekian tahun, kenyataan ini masih bisa meremukkan hatiku. Meski kami bertiga tidak lagi saling terikat, tapi sungguh mereka berhati tega melakukan itu di belakangku, kemudian menyudutkan demi menyelamatkan diri mereka masing-masing. Sementara aku telah kehilangan 95% temanku.

Kini aku berpikir cerita tentang suami sahabat itu yang selingkuh, benarkah demikian? Atau itu hanya akal-akalannya saja. Suaminya sebenarnya pergi meninggalkannya karena telah mengetahui terlebih dahulu perbuatan mereka. Dia hanya ingin mendulang simpati.

Hay kalian yang membaca ini, jika kalian mengenal sahabat dan kekasih yang dulu itu, katakanlah ke mereka, aku sudah tahu cerita yang selama ini mereka sembunyikan. Semua yang terjadi aku tahu.

Kalau kalian bertanya bagaimana aku tahu fakta ini, tidak perlu kujelaskan. Bukankan ada pepatah yang mengatakan bagaimana pun caranya kau menyembunyikan bangkai, bau busuknya tetap akan tercium. Lalu sampaikanlah ke 95% temanku yang lain tadi, bahwa aku juga adalah hasil pengkhianatan dari sahabat yang berwajah polos dan bertopeng ketegaran itu. Aku pun tidak meminta 95% temanku tadi kembali padaku. Cukuplah punya 4% saja teman, tapi masih percaya dengan tingkah dan ujarku.

***

Medan, 17 Juni 2020