The Eyes of Gosh

Cerita Perth & tentang film

The Eyes of Gosh
Koleksi: Padmi Kramadibrata
 
 
Film pendek The Eyes of Gosh bercerita tentang pertarungan mental seorang gadis Pakistani-Australia bernama Amina. Di mana pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya, Amina mempertanyakan lagi keputusan itu—tak lagi penting apakah rencana pernikahan itu adalah keputusannya sendiri atau karena perjodohan. Yang pasti, calon suaminya, Farhan, bukan orang yang tak dikenal Amira.
 
Dalam kepanikan, Amina lalu memutuskan untuk kabur dari venue pernikahan. Di mobil yang dikendarainya, tiba-tiba saja muncul ibunya, Sherrif, yang sudah meninggal. Hasil dari percakapan antara ibu dan anak ini akhirnya menghentikan Amina dari kaburnya. Sampai ia bertemu dengan ayahnya dan Farhan yang menyusulnya. Film selesai di sini.
 
Penonton melihat bahwa Amina akhirnya berhenti lari dari kenyataan. Tapi, bagaimanakah keputusannya tentang pernikahannya itu? Akankah ia tetap menikah, ataukah tidak? Tentang hal ini, film tidak membeberkannya. Penonton silakan menafsirkannya sendiri.
 
Sebagai orang yang sangat suka menonton film-film pendek seperti The Eyes of Gosh, saya selalu suka dengan film-film pendek yang berakhir tanpa ada kepastian atau keputusan yang pasti. Maka, tak salah rasanya bila saya mengangkat topi tinggi-tinggi untuk film karya para mahasiswa Curtin University di Perth, Australia Barat ini. Film kalian menarik, dalam banyak hal!
 
Di lain sisi, film yang berakhir secara cliffhanger seperti ini, sekaligus juga membuka kesempatan bagi para filmmakers-nya untuk, siapa tahu, melanjutkan film ini ke jenjang berikutnya.
 
Ada lagi satu detil menarik dalam film yang berdurasi 15 menit ini. Nama ibu dari Amina adalah Sheriff. Ia dihadirkan sebagai sherif sang penjaga keadilan seperti pada masa wild west di Amerika. Lengkap dengan topi koboi dan bintang sherif-nya sebagai atribut yang menjelaskan peranannya. Dengan demikian, ada makna ganda yang terkandung pada nama Sheriff. Dan, dengan jeli pembuat film ini memainkan hal tersebut.
 
Memang betul bahwa ini film Australia, bukan terjadi di tanah Amerika. Tapi, pas saja rasanya ada koboi di situ. Tak terasa janggal. Salut buat para filmmakers-nya!
 
Film pendek yang dilabeli dengan genre komedi, drama, fantasi, dan Western—menurut data di IMDb—ini, disutradarai oleh Claudia Dickson. Sebagai produser sekaligus penulis skenarionya adalah Syarisa Yasin.
 
Di akhir film, tercantum bahwa film ini dipersembahkan untuk Koukab Iqbal. Dalam catatan yang lebih personal, sosok tersebut adalah sosok ibu kedua untuk Syarisa Yasin, si penulis skenario dan produser. Dari tokoh tersebut Syarisa, yang berdarah Indonesia (ibu) dan Pakistan (ayah), antara lain mengenal budaya dan bahasa ayahnya tersebut.
 
Selamat ya, Syarisa dan teman-teman di Curtin University. Kutunggu film-film kalian yang berikutnya. Panjang maupun pendek. Semangat!   =^.
 
 
 

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.