Mimpiku yang Terbunuh Orang Tua, Belajar dari Record of The Youth

Mendalami Masalah Pelik antara Orang Tua dan Anak dalam Membahas Mimpi dan Keinginan Anak beserta Solusinya

Mimpiku yang Terbunuh Orang Tua, Belajar dari Record of The Youth
Gambar sepenuhnya diambil dari Google dengan menyertakan link masing-masing gambar.

 

            Menjadi remaja adalah fase sesudah anak-anak dan sebelum dewasa, dimana banyak dari jiwa-jiwa muda dengan rentang umur 13 sampai 19 tahun berpetualang, mencoba banyak hal-hal menarik dalam hidupnya. Ingin melakukan ini, berpergian ke kota nan jauh atau mendatangi konser musik yang diadakan oleh sekolah seusai penutupan lomba sekolah. Mengikuti berbagai macam kompetisi, pertukaran pelajar, dan bergabung dengan ekskul yang diminati di tempat menimba ilmu.  Masa remaja adalah masa dimana semua mimpi setiap individu mulai lahir dan berkembang menjadi sebuah gerakan realistis untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Saya yakin sekali tak terhitung jumlah keinginan yang ingin dilakukan oleh, bukan hanya saya saja, tetapi pemuda-pemudi di luar sana. Sayangnya, orangtua seringkali menjadi faktor penghambat dalam melakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Kenapa sih, bisa seperti itu??

 

Pola Asuh Orangtua Terlalu Mengatur, Ini 4 Dampak Buruk bagi Psikologis  Anak : Okezone Lifestyle

 

            Pola asuh orang tua adalah jawaban nya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Diana Baumrind (1971), psikolog klinis dari Amerika, pola asuh orang tua yang sering dijadikan bahan penelitian dapat dibagi menjadi tiga, yaitu otoritatif (authoritive), otoriter (authoritarian), dan permisif (permissive). Walaupun semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, seringkali pola asuh otoriter disebut sebagai pola asuh yang buruk dikarenakan punya dampak yang cukup besar pada tumbuh kembang psikologis anak baik sekarang maupun di masa depan. Hal ini juga berpengaruh ke depannya terhadap penyesuaian diri anak-anak dan tentunya, cara dia memutuskan hal-hal yang akan dia lakukan untuk masa depannya. Kebanyakan anak remaja yang hidupnya terlalu diatur dan dilarang untuk melakukan banyak hal, ke depannya kebingungan mau menjadi apa dan siapa dalam masyarakat. Pada kasus viral di Twitter tahun lalu, terdapat seorang anak laki-laki yang dilarang ibu nya melakukan hobinya, merajut, hanya karena itu bukanlah hal lumrah untuk anak laki-laki. Terlepas dari norma sosial atau agama yang membelenggu masalah ini, komunikasi bisa menjadi peran penting untuk memecahkan masalah yang terjadi antara semua jenis tipe orang tua (tidak hanya otoriter) dan keinginan anak dalam melakukan hal yang mereka suka.

 

Image

 

            Sulit rasanya untuk berkomunikasi dengan orang tua,belakangan ini. Apalagi orang tua yang otoriter, sehingga muncul rasa takut atas penolakan karena sudah berkali-kali mendengar kata “tidak” tanpa tahu alasannya atau bahkan ancaman untuk tidak melanggar apa yang orang tua bilang. Saya pun kerap merasakannya. Dengan pemanis “semua ini untuk kebaikan kamu”, sebagian anak merasa bahwa mereka tidak bahagia karena tidak menjalani hidup sesuai passion mereka. Padahal, tidak ada yang tahu kemungkinan terbesar dari seseorang jika teguh dan konsisten menjalani mimpi nya. Siapa tahu, anak laki-laki yang viral karena gemar merajut itu bisa mengembangkan hobi nya menjadi profesi, fashion designer atau perajut terkenal. Takdir anak tidak bisa ditentukan dengan menjadi over-protektif kepada anak remaja.

 

Record of Youth - Wikipedia

          

  Saya sangat terinspirasi untuk tetap melanjutkan mimpi saya setelah menonton cuplikan dari drama Korea “Record of The Youth”. Pemain utama karakter itu, Sa Hye-jun, sangat teguh dalam mengejar mimpinya menjadi aktor, walau tidak mendapat dukungan dari ayah dan kakaknya. Saya membahas drama ini karena komunikasi yang ada sangatlah nyata dan terbukti dalam kehidupan sehari-hari. Sa Hye-jun, sebagai model yang ingin beralih ke aktor yang merupakan mimpinya sejak dulu, sangat kesulitan untuk berbicara dan terbuka ke keluarganya dikarenakan tidak mendapat dukungan yang pantas dari keluarganya sendiri, apalagi dengan latar belakang ekonomi yang lemah dan panggilan wajib militer yang tertunda. Sempat beberapa kali putus harapan, akhirnya Sa Hye-jun berhasil meraih mimpi nya walau hampir pergi wajib militer karena ayahnya yang pesimis akan masa depan anaknya. Hal yang mencolok dari drama ini adalah komunikasi antara Sa Hye-jun dan ayahnya yang tidak komunikatif. Sa Hye-jun terlalu sibuk mencari cara untuk bertahan diri di dunia luar tanpa memberi kabar pada keluarganya, sedangkan Ayahnya mengkhawatirkan anaknya dengan cara yang salah yaitu marah-marah di rumah dan di depan keluarga lainnya, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk Sa Hye-jun. Di episode terakhir, komunikasi menjadi kunci masalah antara ayah dan anak tersebut. Ditunjukkan bahwa sebenarnya Sa Hye-jun hanya ingin pengakuan dari ayahnya, sesuatu yang selama ini ia tidak dapatkan. Sedangkan, ayahnya merasa inferior kepada anaknya karena tidak bisa membantu banyak anaknya dalam berkarir sehingg marah pada diri sendiri dan tak bisa menahannya.

 

 

            Memang hal tersebut hanya terjadi di dalam drama, tetapi kita bisa melihat dengan jelas bahwa semuanya akan berakhir baik jika diselesaikan dengan komunikasi yang jujur dan tulus. Kita, baik orangtua maupun anak, harus belajar untuk memberikan pemahaman terbaik tentang apa yang kita pikirkan tentang masa depan. Berikanlah alasan-alasan masuk akal, disarankan dengan SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunity, Threat) tentang hal yang ingin kita jalankan ke depannya, tentang mimpi dan ambisi yang kita para remaja inginkan sejak lama. Perlu kita tahu bahwa semua orang punya perspektif nya masing-masing, terlebih lagi orang tua kita. Mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tetapi jangan salah tasfirkan antara keinginan terbaik untuk anaknya di masa depan dengan menjaga anak agar tetap berada di zona nyaman dan membiarkan diri sang anak tidak berkembang. Saya pun pernah melakukannya, ayah saya enggan melepas saya untuk ikut pertukaran remaja satu tahun ke luar negeri tetapi saya berhasil meyakinkannya bahwa ada manfaat, kesempatan dan peluang untuk saya bisa berkembang, belajar bahasa asing dan memperluas cara pandang saya terhadap apa yang ada di dunia.