FILOSOFI BANJIR : JIKA HUJAN BOLEH BICARA

Artikel yang akan memberikan sedikit gambaran akan memaknai hujan dan banjir yang berkaitan dengan kehidupan manusia

FILOSOFI BANJIR : JIKA HUJAN BOLEH BICARA

Filosofi Banjir : Jika Hujan Boleh Bicara

Seakan sudah menjadi suatu rutinitas tahunan di Indonesia yang memiliki iklim tropis, jika memasuki bulan Oktober sampai dengan Desember, musim penghujan mulai terlihat kesibukannya. Jika menurut cocoklogi kepercayaan orang jawa,  bulan Desember memiliki makna deres-derese sumber, yang memiliki maksud bahwa sepanjang musim hujan yang berlangsung, di bulan Desember lah intensitas hujan yang paling deras. Bahkan musim penghujan akan berlanjut diawal-awal tahun seperti bulan Januari hingga Februari dengan curah hujan yang fluktuatif.

Saat ini hampir semua daerah di Indonesia sedang mengalami musim penghujan, bahkan terdapat beberapa daerah, desa maupun dusun yang sudah terjadi banjir. 

Pengertian hujan jika kita lihat dengan kasat mata adalah sekumpulan air yang turun dari langit dan memiliki komposisi hanya air. Berbeda jika menurut ilmu ilmiah, hujan terdiri dari komposisi  Oksigen (O2) + H2O (Hidrogen). Tetapi bagi mereka yang sedang dilanda kegalauan hujan adalah 99% kenangan dan 1% air. Apakah memang begitu? Tentu saja setiap insan memiliki makna masing-masing untuk menafsirkan hujan.

Hujan seringkali dinantikan, ditunggu, diharapkan bahkan didoakan kehadirannya. Tetapi tidak sedikit pula yang membenci atau tidak menginginkan kedatangannya. Hujan sering dipersalahkan karena sudah membatalkan janji yang sudah direncanakan, menggagalkan kencan, membatalkan janji nongki malam mingguan, membuyarkan perkumpulan acara dilapangan,karena hujan pula para pedagang PKL dijalanan meliburkan dagangannya, hujan akan menjadi terdakwa karena sudah membuat tanaman di sawah atau dikebun  rusak dan busuk. Si hujanlah satu-satunya penyebab terjadinya tanah longsor, penyebab munculnya angin puting beliung.

Bahkan, hujan juga yang dipersalahkan karena membuat kondisi badan manusia mulai banyak yang meriang, batuk dan pilek. Seperti anak kecil yang selalu dilarang main hujan-hujanan, disitu seakan tersirat jika hujanlah yang menjadi penyebab munculnya rasa demam pada anak-anaknya selepas mereka riang gembira basah-basahan.

Hujan dan banjir jika sudah berkolaborasi, kehadirannya semakin dibenci karena menjadi musibah dan bencana. Mereka berdua dipersalahkan terus menerus, membuat rumah-rumah mereka terendam,toko-toko rusak, menghanyutkan bahkan merusak harta benda serta ternak kesayangan mereka. 

Apakah memang sesungguhnya hujan dan banjir adalah dua hal yang patut menjadi bahan salah-salahan?. Lantas, jika demikian kenapa Tuhan menciptakan hujan, bahkan memberikan musibah banjir dimana-mana saat ini?

Karena sesungguhnya hujan adalah rahmat dari Tuhan yang menguasahi jagat. Hujan adalah sebuah pembersih bagi kekeringan yang sedang melanda suatu tempat. Hujan mengajarkan kita untuk bersabar. Hujan pula yang memberikan kesuburan pada tumbuh-tumbuhan. Sehingga hingga saat ini kita bisa menikmati keindahan hamparan hijau pemandangan disawah ataupun pegunungan. Hujan pulalah yang selalu mengisi sumber mata air yang tersembunyi didalam bumi dan memasok kebutuhan air bersih manusia sepanjang waktu. Hujan pula yang akan menguatkan pepohonan sebagai penyangga bumi. Agar ekosistem alam tetap stabil. 

Hujan diciptakan Tuhan sesuai dengan tugas dan waktu siklusnya. Tidak ada yang salah dengan rancangan Tuhan,semua itu sudah diciptakan dan diatur  untuk menopang kelangsungan hidup makhluknya dimuka bumi ini.
Deras hujan yang turun…Mengingatkanku pada dirimu…Aku masih disini untuk setia….
(Lagu by Jikustik : Setia)
Yang, Hujan turun lagi…Dibawah payung hitam kuberlindung…..
(Lagu Ratih Purwasih : Antara Benci dan Rindu)
Aku selalu bahagia…Saat hujan turun…karena aku dapat mengenangmu..untuk ku sendiri…
(Lagu by Utopia : Hujan)

Dari penggalan bait lirik tiga lagu diatas, maka hujan juga menjadi sebuah inspirasi bagi para musisi ataupun seniman untuk menciptakan karya-karya yang masterpiece. Contoh lainnya lagu Hujanku (Flanella), November Rain (Gus N’ Roses), It Will Rain (Bruno Mars), dan lain sebagainya.

Lantas Bagaimana dengan Banjir ? apakah bukan musibah dan bencana dari Tuhan?
Pada zaman dahulu memang terdapat hujan dan banjir bencana dan musibah. Sebagaimana kita ketahui pada zaman nabi Nuh AS, terjadi hujan dan banjir besar terdahsyat didunia.dan terjadi selama enam bulan. Kisah tersebut diabadikan dalam Al Qur’an. 

Hujan tidak mengenal waktu dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan manusia. Pada kenyataannya, jutaan manusia merindu hujan. Jutaan orang pula lebih menyukai hujan ketimbang kemarau panjang.  Hujan akan selalu setia menjalankan tugasnya, tidak peduli omongan apapun. Entah ada yang cinta atau benci. Maka dari itu kita juga seharusnya dapat menerima kehadiran hujan dan hal baik-hal baik yang datang tanpa memaksakan waktu sesuai keinginan kita. 

Hujan akan tetap datang tiap tahunnya, mendinginkan bumi, dia sangat tahu banyak yang mengharapkan kehadirannya. Karena setelah hujan, akan terlihat pelangi yang indah sesudahnya. Yaitu keindahan dari sang pencipta alam semesta. 

Hujan bisa juga marah jika manusianya tidak ramah. ketika tidak ada lagi yang peduli kepada lingkungan sekitar, maka hujan akan menjadi bencana.  Hujan yang turun dengan lebat akan menghanyutkan tanah berkubik-kubik yang daya angkutnya sama dengan sungai. Jika diatasnya tidak ada pepohonan dan semak belukar, maka tanah ini tidak akan hanyut oleh air hujan. Tetapi jika tanah tidak terlindungi oleh pepohonan, maka dengan mudahnya akan hanyut oleh air hujan. 

Hujan tidak pernah turun dengan maksud yang buruk, waktu dan keadaanlah yang membuatnya terasa buruk. Jadi sangat jelas keramah tamahan dari manusia sangat menentukan kondisi lingkungannya. Pelajaran dari hujan, sebagai manusia biasa, kita pasti memiliki nafsu amarah, alangkah baiknya jika kita bisa menjaga perasaan satu sama lain.

Hujan dan banjir sangat menarik untuk dibahas. Tetapi sebagai manusia biasa, mampukah kita mengatakan jika banjir adalah anugerah Nya. Tentu saja sangat sulit untuk bisa mengatakannya dengan tulus.

Banjir itu hanya akibat, sebabnya adalah hujan. Terlalu banyak hujan memang tidak baik. Begitupun banjir yang berkepanjangan juga akan menjadikan kesedihan. Disini kita bisa mengambil nilai bahwa  patut kita renungkan kenapa manusia terus membenci dan mencaci satu sama lain, terus- menerus mengeluh dan pesimis dalam hidupnya?.

Banjir akan mengajarkan untuk apa manusia terus menerus dipenuhi “Banjir” amarah, “banjir” kebencian, “banjir” permusuhan, menghakimi dan saling menuding kesalahan kepada  orang lain berlebihan. Bukankah “banjir” akibat “hujan” bisa melanda setiap manusia?. Karena dari setiap peristiwa dan realitas kehidupan yang terjadi, manusia hanya bisa mengambil hikmahnya. Dan belajar untuk menjadi lebih baik.

Banjir juga mengajarkan manusia untuk selalu instropeksi diri dalam setiap langkah,  sebagaimana nasehat para leluhur tanah Jawa yaitu eleng lan waspodo. Eleng atau ingat, bahwa kita manusia harus selalu ingat kepada siapa yang telah menciptakan kita yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dan Waspodo yang berarti kita harus berhati-hati atas setiap keputusan dan tindakan yang akan kita lakukan.

Sebagaimana hujan yang tidak mengenal waktu dan tempat. Banjir pun juga tidak mengenal tempat, banjir menganut filosofi “Duduk sama rendah, bediri sama tinggi”. Banjir akan datang disetiap sudut tempat, dia tidak akan membedakan apakah tempat yang dilaluinya milik pejabat istana, pejabat pemerintah, pegawai kantoran, pedagang, petani, rakyat jelata, pekerja pabrik dan lain sebagainya. Semua tempat yang dilalui sesukanya akan sama rata tergenang dan terendam. 

Dari sini, banjir memberikan ajaran “Duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”. Dengan adanya banjir maka manusia akan berbondong-bondong mengingat saudaranya, berdatangan saling berbagi, saling membantu, saling mengulurkan tangan, saling menguatkan dan memberikan dukungan. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang memiliki nilai sama dimata Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak membedakan siapa yang mentereng duduk di istana atau siapa yang klesetan dan berdiri ditanah tanpa alas. Semuanya sama rendah dan sama tinggi dihadapan Iilahi Rabbi. 

Satu hal lagi pelajaran berharga untuk kita semua, yaitu banjir mengajarkan pentingnya “Bak Sampah” dan besarnya makna dibalik plakat-plakat yang berada difasilitas umum bertuliskan “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”.

Demikianlah artikel singkat mengenai filosofi hujan dan banjir ini dibuat, mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk kita semua.

Ifada