I Wish I Knew

Dalam ingatanku, ia nyaris tak ada. Sepanjang hidupku, aku membencinya.

I Wish I Knew
https://pixabay.com/photos/old-boat-old-man-sea-boat-ship-2845813/

"Siapa kamu mengatur-atur hidupku? Memintaku untuk segera menikah? Punya hak apa kamu? Aku tidak akan pernah memenuhi permintaanmu itu, tahu! Supaya kamu tahu, aku tidak sudi ditinggal seperti yang telah kamu lakukan!" Rentetan kemarahan kutumpahkan kepada lelaki yang duduk di hadapanku. Wajahnya memucat, mungkin tak mengira aku akan sekasar itu padanya. Perlahan aku menenangkan diri, menyesap secangkir latte yang baru saja diantarkan. Aku malas melihat ke sekelilingku, wajah-wajah yang penuh ingin tahu urusan orang lain. 

Laki-laki itu menunduk dalam. Aku meliriknya malas, tak terkesan dengan drama meminta belas kasihan yang ditunjukkannya. "Sekarang , mau apa lagi? Aku sudah menemuimu hari ini, dan sebaiknya ini untuk yang terakhir kalinya! Sekarang aku harus kembali ke kantor. Jangan pernah menghubungiku lagi!" ujarku kejam. 

"Nadia..," ucapnya lirih, namun tak kuhiraukan. Aku tak ingin mendengar kata-kata apapun lagi dari mulutnya. Sudah kuputuskan ia adalah orang asing bagiku, tak pernah berarti dalam hidupku. Benar kata ibu, seorang laki-laki hanya peduli akan kepuasan seksual. Setelahnya, mereka pergi menorehkan luka yang dalam pada sanubari. Tapi, kurang ajar juga, berani-beraninya ia memintaku bertemu, lalu menyarankan agar aku segera menikah. 

Aku menggertakkan gigi sembari kembali ke kubikel tempatku bekerja. Kuhabiskan energi marahku untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini. Akhir bulan ini aku cuti, ingin pergi pesiar ke pulau komodo. Masih belum kuputuskan apakah aku ingin mengajak Ibu dan Nisa atau tidak. 

------------------------------------

Pemakaman itu masih ramai, aku mengambil tempat berdiri paling belakang bersama Ibu dan Nisa. Kami datang hanya karena Ibu masih menghargai orang yang dimakamkan itu. Orang yang dua minggu lalu meminta bertemu denganku, dan berlagak seolah-olah menjadi ayahku. Aku meredam amarah agar tidak menimbulkan keributan. Kutulikan telingaku mendengar puji-pujian yang disampaikan oleh entah siapa. "Saya bersaksi Adi adalah orang yang baik selama hidupnya, tak pernah tega mengabaikan kesulitan siapapun yang bahkan tidak dikenalnya". Aku tertawa sinis di dalam hati, bagaimana mungkin ada orang yang demikian, sementara darah dagingnya sendiri ditelantarkan.

Dari kejauhan seorang laki-laki berpakaian necis datang menghampiri kami. "Ibu Riana?", tanyanya memastikan. Ibu menoleh ke arahnya dan menjawab, "Betul, saya sendiri. Dengan siapa ya?" tanya Ibuku dengan raut penasaran. "Perkenalkan Bu, saya Budiman dari Amir and Associates Law Firm." ujar lelaki necis tersebut. Ibu menelaah wajahnya, seperti mengenali, "Teman dari mantan suami saya kah?" tanya Ibu. "Bisa dibilang demikian, Ibu Riana. Tapi saya lebih tepat disebut sebagai pengacara dari Bapak Adi", jelasnya. 

"Untuk mempersingkat, saya ingin meminta waktu Ibu Riana dan keluarga untuk mendengarkan surat wasiat dari Bapak Adi," ujarnya menambahkan. Kulirik wajah Ibu yang seperti menunjukkan binar, lalu hilang dalam sekejap berganti dengan raut dingin yang biasa ia tampilkan untuk menutupi isi hatinya. "Bisakah nanti malam Pak Budiman berkunjung ke rumah kami? Saat ini saya merasa letih sekali mendengar kabar tiba-tiba yang sangat mengejutkan tentang Adi, bapak dari Nadia dan Nisa", jawab Ibu. 

Aku memandang Ibu keheranan, mengapa ia tiba-tiba menjadi penuh cinta pada mantan suaminya itu? Lalu, jarang sekali ia menyebut lelaki itu sebagai ayah kami. Kemana perginya hari-hari saat ia menyebut tidak ada laki-laki yang bertanggung jawab dan hanya mengincar kegiatan seksual? Aku sungguh bingung melihat perubahan sikap Ibu. Kualihkan pandangan ke arah laki-laki tadi. Dia menyambut pandanganku dengan senyuman dan berkata, "Nadia, putri sulung dari Bapak Adi?" tanyanya mengkonfirmasi. "Betul." ucapku acuh. "Bapak Adi juga menitipkan sepucuk surat untuk Nadia. Nanti malam akan saya bawa bersama dengan surat wasiat dari Bapak Adi"

"Saya turut berduka cita atas kehilangan yang menimpa Ibu dan anak-anak. Semoga Bapak Adi mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Saya permisi dulu, Ibu Riana, Nadia dan Nisa. Sampai bertemu nanti malam", ucap Budiman mengakhiri pertemuan singkat itu. Aku memandang Ibu dengan penuh tanya, namun beliau hanya mengangkat bahu dan segera mengajak kami pulang.

(BERSAMBUNG)