Salam dari Mbah Putri

Salam dari Mbah Putri
Pohon salam di halaman belakang (foto: rase)

Awalnya Sisi hanya mematung di halaman belakang. Ia diam saja ketika nyonya dan nona datang delapan tahun lalu. Sisi selalu sendiri. Sepertinya dia sedih. Ia tak bergeming, bahkan ketika orang yang lalu lalang kadang menanyakan kabarnya.

Ia berdiri dekat pagar. Di sekitarnya penuh dengan dedaunan kering. Bahkan sebuah lubang sampah ada di dekatnya. Mungkin sebenarnya kakinya risi, tetapi dia tetap bertahan dalam kebisuannya. Tanpa senyum.

"Hai. Kenapa kamu bersedih?" tanyaku.

Entah berapa kali aku mencoba menyapanya. Sisi diam saja. Akhirnya aku menyerah, tak pernah mengajaknya berbicara.

"Boleh kan, Bu?"

Kudengar seorang asing datang menemui nyonya. Nyonya mengangguk. Ternyata akibatnya fatal!

Aku tidak tahu apa kesepakatan nyonya dengan laki-laki itu. Aku menyaksikan laki-laki itu membawa parang, dan melukai Sisi. Menyaksikan kebiadaban laki-laki itu, nyonya menyesal. Tapi ia tak bisa berbuat apa. Kesepakatan tetap kesepakatan.

"Maafkan aku. Aku tak tahu jika orang itu akan melukaimu," sesal nyonya. Sisi tetap diam. Hanya aku yang mendengarnya terisak di malam hari.

Sejak itu, nyonya mulai memberi perhatian pada Sisi. Rupanya nyonya benar-benar menyesal memberi izin pada laki-laki asing itu. Tubuh Sisi terluka parah akibatnya. Nyonya tak pernah lagi memberi izin siapa pun mendekati Sisi.

Perlahan Sisi luluh dengan perhatian nyonya. Dengan sabar nyonya membawakan minum dan makanan untuk Sisi. Sisi tetap mematung di dekat pagar. Nyonya akhirnya membersihkan halaman belakang itu. Perlu berhari-hari sebelum halaman belakang benar-benar bersih. Nyonya bahkan membongkar tanah, dan membersihkan semua sampah yang tertimbun di dalamnya. Berkarung-karung sampah dipindahkan ke tempat sampah umum. Halaman belakang jadi makin cantik.

"Hei. Senyummu manis sekali, Sisi," ujarku suatu pagi. Aku melihat Sisi tersenyum! Kesempatan yang super langka. Sisi hanya tersipu malu mendengar ucapanku.

Sejak itu, Sisi makin sering tersenyum. Ia bahkan berbunga-bunga. Ketika saatnya tiba, Sisi bahkan membiarkan burung-burung kecil riuh berkicau di dedaunan, berbagi buah-buah mungil kemerahan. Banyak buah dan biji yang berjatuhan ke tanah, dan tumbuh menjadi Sisi-Sisi kecil.

"Sisi, sepertinya nyonya kebingungan dengan bayi-bayi mungilmu," komentarku.

Nyonya mencoba memindahkan tunas-tunas berdaun dua itu ke polybag. Ia sempat ngomel ketika tuan maen cabut semua tumbuhan di halaman belakang yang tingginya di bawah sepuluh sentimeter. Nyonya juga sempat mengumpulkan buah-buah merah untuk ditanam.

"Pohon salam ini ditanam Mbah Putri," suatu hari nyonya menjelaskan pada nona. "Mama nyoba untuk memelihara tunas-tunas ini, tapi belum berhasil."

"Asyik ya, Ma? Pemberian Mbah Putri masih ada. Aku suka sama gerombolan burung mungil yang suka menciap seperti ayam, yang sering mampir di pohon salam Mbah Putri," kata si nona.

Iya. Sisi adalah pohon salam yang ditanam ibunda nyonya. Waktu itu aku masih muda, begitu juga ibunda nyonya. Ia seorang perempuan yang sangat mencintai alam. Ia menanam pohon di halaman belakang supaya aku, si rumah, sedikit ternaungi dari terik matahari. 

Sisi, yang terlihat cantik di usia senja, tetap setia menaungiku hingga kini, yang juga menua. Di usia kami sekarang, kami hanya ingin berbagi senyum dan kebahagian bagi siapa pun yang ada di sekitar kami. Juga pada lima pohon kelor, satu pohon kenanga, dan satu pohon mulberry, yang kesemuanya ditanam nyonya di halaman belakang menemani kami. (rase)

Nama latin pohon Salam adalah Syzygium polyanthum.