Peran Filantropi Islam Terhadap Pencapaian SDGs di Indonesia

Seberapa pahamkah kita tentang filantropi islam? Lalu apakah filantropi islam memiliki peran yang signifikan terhadap keberhasilan SDGs di Indonesia? Bagaimana langkah tepat untuk pengoptimalan filantropi islam? Segera temukan jawabannya, dalam artikel ini!

Peran Filantropi Islam Terhadap Pencapaian SDGs di Indonesia

Fenomena melaju pesatnya pertumbuhan filantropi islam di Indonesia berhasil menarik perhatian dari berbagai macam kalangan untuk melakukan kajian mendalam baik dalam aspek ekonomi, politik dan juga sosial budaya. Hal ini disebabkan karena jumlah Gerakan filantropi berlabel sektarian agama islam di Indonesia tumbuh menjamur serta berkembang dengan optimal di tengah – tengah masyarakat, yang salah satunya dikenal sebagai LAZ atau Lembaga Amil Zakat. Berdasarkan data dari website baznas.go.id terkait hasil dari pengumpulan zakat, infaq, dan waqaf Indonesia di masa pandemi 2020 naik hingga 30% dari tahun sebelumnya, yang artinya semangat kedermawanan masyarakat muslim di Indonesia sangatlah tinggi walaupun pada masa pandemi seluruh elemen masyarakan merasakan dampak dari krisis ekonomi.

Apalagi jika kita bandingkan dengan data pengumpulan zakat dari tahun-tahun sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa selama 14 tahun yaitu tahun 2002 – 2016, pengumpulan ZIS pertumbuhannya terus meningkat drastis dan signifikan. Hal ini dapat digambarkan pada data statistik berikut ini :

Melihat pertumbuhan keberhasilan ZISWAF diatas, tidak heran jika filantropi islam memiliki perbedaan karakteristik yang sangat mendasar antara ekonomi islam dan konvensional. Hal ini menjadi wajar karena dalam prakteknya kita dapat melihat langsung bahwa  elemen-elemen dari filantropi islam seperti zakat dan wakaf terbukti memberikan manfaat serta berkontribusi nyata dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia melalui beberapa program seperti zakat produktif, mengentaskan kelaparan dengan program santunan kaum dhuafa, serta peningkatan pendidikan yang berkualitas dengan pemberian bantuan beasiswa.

Prinsip – prinsip filantropi islam yang berdiri diatas nilai taawun (tolong menolong) yang dalam praktiknya melibatkan seluruh masyarakatt islam menjadikan kontribusi ZISWAF sejalan dengan konsep SDGs yang bertujuan melibatkan semua pihak tanpa ada pengecualian yang dikenal dan telah dijadikan jargon utama yaitu No Left One Behind. Oleh karena itu filantropi islam sebagai instrumen pemberdayaan membutuhkan pengelolaan yang baik dari segi penghimpunan, pendistribusian, pendayagunaan hingga pada tahap pendampingan agar kontribusinya menjadi optimal untuk mewujudkan SDGs.

SDGs (Sustainable Development Goals) sendiri merupakan sebuah inisiatif global yang lahir dari hasil sidang umum PBB ke 70 di kota new york dan dibentuk untuk menciptakan kehidupan manusia di seluruh dunia menjadi lebih baik dalam aspek sosial, ekonomi serta dapat bersinergi dengan lingkungan. Agenda pembangunan berkelanjutan ini telah disepakati oleh kurang lebih 193 Negara di seluruh dunia, serta memuat 17 Tujuan dan 169 Sasaran yang ditargetkan sejak tahun 2016 hingga tahun 2030. Melihat perkembangan filantropi islam di Indonesia yang tumbuh signifikan, maka tak heran jika potensi sumber daya dari ZISWAF dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendukung tercapainya program SDGs. Kontribusi ZISWAF untuk mendukung SDGs diperkuat dengan Undang-Undang No. 23 tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, dan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang pengelolaan wakaf. Berdasarkan amanat dari kedua undang-undang tersebut, pemerintah ingin merangkul zakat, infaq, shadaqoh dan wakaf sebagai salah satu instrumen pembangunan bangsa.

unsplash.com

 

Selain melalui dukungan berupa regulasi pemerintah diatas, penguatan filantropi islam untuk menyongsong SDGs juga memerlukan banyak sekali perbaikan dan inovasi agar perkembangannya tetap Sustainable dan tepat sasaran. Yang pertama, seorang fundraiser dapat dikatakan sebagai kategori terbaik jika dia berhasil memahami visi misi dari progamnya secara detail. Penjabaran visi dan misi organisasi dapat membantu menumbuhkan rasa percaya kepada calon donatur, serta berfungsi meyakinkan mereka bahwa donasi tersalurkan dengan benar melalui institusi yang tepat. Tingkat keberhasilan lembaga pengelola ZISWAF dalam hal fundraising sangatlah dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan masyarakat pada lembaga yang bersangkutan. Jika tingkat kepercayaan masyarakat tinggi terhadap organisasi pengelola ZISWAF tersebut baik, maka secara otomatis dana yang terkumpul juga akan banyak dan berpengaruh terhadap kesuksesan program yang dicanangkan. Maka, upaya untuk meningkatkan kapabilitas serta integritas sumber daya manusia dari para amil ZISWAF merupakan sebuah keharusan untuk membangun lembaga filantropi islam yang profesional sehingga jalannya penghimpunan sampai penyaluran dana menjadi efektif dan efisien.

Kedua, kreatifitas dan inovasi pemikiran dari para amil ZISWAF dalam rangka ekstensifikasi dan intensifikasi penghimpunan dan penyaluran dana merupakan langkah yang amat penting untuk dioptimalkan pada saat ini. Program – program yang direncanakan harus memiliki nilai guna bagi para pemberi zakat , dan juga  penerimanya. Dengan optimalisasi ZISWAF, redistribusi kekayaan dari masyarakat dengan ekonomi sejahtera atau kaya kepada masyarakat dengan ekonomi lemah akan tercapai.

Pada prinsipnya, terdapat dua pendistribusian dana ZISWAF, yaitu distribusi pendapatan fungsional yang tercermin dari kepemilikan faktor produksi, dan distribusi melalui transfer pendapatan secara langsung seperti pemberian dana tunai pada para mustahik. Namun, jika ZISWAF didistribusikan dalam bentuk faktor produksi kepada mustahik contohnya seperti peminjaman modal, maka proses dari distribusi akan tersalurkan melalui peningkatan sumber pendapatan fungsional mustahik, sehingga dapat meningkatkan upah atau laba usaha yang akan diterima mustahik dari topangan ZISWAF.

Idealnya, pendistribusian yang diterapkan harus bisa menyelesaikan masalah kemiskinan dengan cara memberi peluang, pelatihan, pendidikan, motivasi dan modal riil untuk usaha. Dengan bekal-bekal itu, para mustahik diharapakan bisa mendongkrak ekonominya. Dengan harapan pada tahun-tahun berikutnya mereka sudah bukan lagi seorang mustahiq tetapi sudah menjadi muzakki yang menyisihkan sebagian hartanya untuk zakat, infaq, shadaqah dan wakaf. Dengan demikian zakat bisa berjalan secara sistematis dan dianggap sustainable.

Korelasi antara inovasi dan kekreatifan progam fundraising yang produktif dan distribusi yang tepat sasaran mampu menarik minat muzakki bahkan mustahik itu sendiri sebagai feed back dan pilot project. Harta yang terkumpul dari ZISWAF melalui pendayagunaan memerlukan keterlibatan lembaga pendistribusian yang kompeten guna menentukan arah dan tujuan distribusi untuk melaksanakan redivinisi asnaf. Kemajuan zaman menuntut ZISWAF dapat mendongkrak potensi masyarakat menjadi lebih berdaya dan berkelanjutan. Penyalurannya kini tidak lagi selalu bersifat konsumtif melainkan dikelola dengan produktif melalui perencanaan manajemen yang matang. Dengan demikian, diharapkan dengan optimalisasi lembaga filantropi islam maka tidak ada lagi masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, apalagi terdapat gap antara kaya miskin. Karena ZISWAF masa kini lebih dioptimalkan untuk mengarah pada keberpihakan dan tepat sasaran.­­

Referensi

-Andri Soemitra. (2018). Peran Pemberdayaan Masyarakat oleh Lembaga Keuangan Mikro Syariah dalam Perspektif Sustainable Development Goals (SDGs).

-Habibi, A. (2013). Strategi Pemilihan dan Peningkatan SDM Amil yang Inovatif dan Berdaya Maslahah. https://media.neliti.com/media/publications/177714-ID-strategi-pemilihan-dan-peningkatan-sdm-a.pdf

-Khanifa, N. K. (2018). Penguatan Peran Ziswaf dalam Menyongsong Era SDGs: Kajian Filantropi BMT Tamzis Wonosobo. Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 13(2), 149–168. https://doi.org/10.31603/cakrawala.v13i2.2329