Makna yang Tersembunyi

Ketika sore hari, di saat matahari bersiap untuk bersembunyi, ibuku meminta kakakku untuk membeli mie ayam. Karena aku juga ingin membeli alat tulis, akhirnya aku ikut. Kami pergi mengendarai sepeda motor yang usianya sudah cukup tua. Kami pun berangkat. Di perjalanan kakakku berkata "Beli alat tulis aja dulu !!" "Oke" Jawabku singkat. Sebenarnya aku ingin langsung ke warung mie ayam tapi karena ia meminta, ya sudah tidak apa - apa. Setelah alat tulis lengkap dibeli, aku segera pergi menuju warung mie ayam. Aku mengendarai motor dengan santai sambil membayangkan rasa mie ayam yang katanya paling top itu. Namun tiba - tiba sekitar 500 m sebelum kami sampai, motor kami mogok. Baru saja kami menepi, seorang bapak ojol menghampiri membantu. Namun sudah berkali kali dicoba, ternyata motor tetap tidak bisa hidup. Akhirnya kami pergi ke bengkel terdekat sekitar 200 m dari tempat motor kami. Sayangnya, bengkel itu sudah tutup. Kami di sana bertemu dengan saudara dari tukang bengkel langganan itu. Bapak itu pun juga tidak bisa berbuat apa - apa karena pekerjaan itu bukan bidangnya. Dengan perasaan kecewa kami kembali sambil berharap pada Allah agar motor tua itu bisa dihidupkan. Tapi, semuanya tidak sesuai harapan, motor itu tetap tidak bisa hidup. Ibu - ibu disekitar kami mulai bertanya - tanya. Tapi percuma saja semua usulan tidak bisa membantu. Singkat cerita kami memutuskan untuk mendorong motor tua itu sampai rumah. Di perjalanan, ada dua orang yang menawarkan kami bantuan tapi kami tolak. Kami terus berjalan sampai bertemu dengan saudara tukang bengkel langganan kami. "Capek Pak, nyampe mandi keringet" kata kakakku basa basi. "Hahaha, mau nyampe rumah kayak gini?" "Iyalah Pak" "Tak pinjemin motorku po?" "Nggak usah Pak lagian udah deket" jawabku. "Yo wes ini air minum, capek to" " Hehehe, makasih pak" Di tengah percakapan kami, tukang bengkel itu datang. "Piye Mbak, mogok?" "Nggih Pak, Aku minta tolong dibenerin" kata kakakku memelas. Tukang bengkel itupun segera mencoba menstater motor tua itu. Tidak sampai sepuluh menit, motor itu sudah hidup. Kami merasa lega. Usai berterima kasih dengan bapak tukang bengkel, kami segera pulang karena langit sudah mulai gelap. Kami pulang dengan kecewa. "Hhmm, capek dapat kenyang tidak" kataku dalam hati. Tapi tak apa, aku bisa masa mie instan nanti di rumah. Pikirku menenangkan hati. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah sampai. Cerita keluhan sudah kami siapkan untuk ibu yang dari tadi sepertinya sudah membayangkan mie ayam top itu. Baru selangkah aku masuk, aku sudah mulai bercerita. Belum selesai aku bercerita, ayahku yang entah sejak kapan ada di rumah berkata "Ngapain beli mie ayam, tuh liat" katanya sambil menunjuk meja. Melihat martabak tiga bungkus di meja, rasa kecewaku hilang. Mie ayamku sudah tergantikan. Dari situ aku sadar semua hal yang aku jalani tadi, semua rencana kakakku untuk membeli alat tulis terlebih dulu sampai motor mogok yang prosesnya lama tak lepas dari rencana Allah. Meski aku manusia sebagai makhluk sempurna sekalipun tidak bisa menghendaki. Aku hanya bisa memilih. Meskipun itu hanya sekedar urusan perut. Kadang aku juga kecewa beberapa hal tidak sesuai harapan. Tapi meski begitu hal - hal yang tidak sesuai itu justru membawa kebaikan yang berlimpah. Seperti pengalamanku sore ini. Alur dari Yang Maha Kuasa menghendaki agar motor ku mogok agar menjauhkan ku dari kekenyangan yang tidak baik untuk tubuh. Dari situ juga orang - orang di sekitarku mendapat pahala dengan hanya menawarkan bantuan. Begitulah skenario Allah yang menyimpan berbagai kebaikan.

1.

Dapatkan reward khusus dengan mendukung The Writers.
List Reward dapat dilihat di: https://trakteer.id/the-writers/showcase.