JALAN-JALAN SAMA PAPAH

JALAN-JALAN SAMA PAPAH

Siang itu papah menjemputku. Ia menunggu di warung bakso seberang sekolah. Kemeja abu-abu yang biasa dikenakan waktu masih gendut sekarang terlihat longgar. Celana panjangnya juga kedodoran hingga harus dikencangkan dengan ikat pinggang. Badan papah menyusut sejak sering sakit. Papah menderita diabetes.

Aku masih ingat bulan Oktober 1980 di siang yang panas, aku dan papah berdesak-desakan naik bis kota dari terminal Cililitan ke blok M. Mungkin karena kembung, Papah kentut melulu di dalam bis. Di tahun delapan puluhan suara kentut lebih mengerikan daripada suara batuk. Kebalikan dengan masa kini. Meski kala itu TOA belum populer, tapi suara kentut papah sangat dahsyat. Dolby stereo banget dengan tambahan subwoofer, sehingga rada ngebas. Baunyapun aduhai. Haduh papah... kebiasaan, semoga ngga kecipirit. Semua penumpang bis kontan menutup hidung. Ibu-ibu yang berdiri di sebelahku melotot ke arah papah. Aku salut. Papah nggak ikut-ikut akting tutup hidung pura-pura heran dan menuduh orang lain yang kentut. Papah malah minta maaf.

"Ngapain sih pah ke blok M?" Tanyaku sambil menutup hidung

"Mamahmu yarech. Papah mau beliin kado. Kamu bantuin yaa..." Jawab papah sambil tersenyum. Aku manggut-manggut. Belum pernah papah mengajakku pergi berdua. Jadi aku senang sekali.

Papah menggandengku melewati pertokoan Aldiron. Genggaman tangan papah makin kuat ketika hendak menyeberang jalan. Ketika sampai di depan toko yang menjual pakaian wanita, papah berjalan pelan.

"Kamu liat-liat deh mana yang cocok buat mamah." Ujar papah

Aku memperhatikan baju-baju yang dipakai manequin. Hampir semua berpotongan mini, backless dan tanpa lengan alias you can see. Belum ada model kedombrongan seperti gamis zaman sekarang. Penutup kepala pendek atau panjang alias jilbab juga belum in.

Aku bergerilya dari toko ke toko. Papah mengikutiku. Tiba di satu toko, papah melihat gaun panjang setengah betis bermotif daun berwarna biru langit model lengan setali. Gaun itu terlihat santai dan segar. Cocok dipakai mamah yang berkulit putih.

"Bagus itu pah! Mamah suka warna biru." Seruku bersemangat.

"Iya. Itu aja yaa.... berapa harganya?" Tanya papah setengah berbisik

"Mahal pah! Ada duitnya ngga?" Aku berbisik sambil memperlihatkan label harga.

"Ada! Ambil deh. Buat mamah harus yang bagus." Kata papah. Aku tahu papah pasti kerja mati-matian supaya bisa beli hadiah buat mamah. Sebenarnya uang itu bisa untuk keperluan yang lain.  Kami bukan keluarga kaya. Yang penting bagiku papah bahagia. 

Hari sudah agak sore ketika kami keluar dari toko. Papah mengajakku jajan bakso di pinggir jalan. Aku menolak. Aku ingin papah makan di tempat yang lebih keren. Aku tahu uang papah hanya tersisa sedikit. Tapi kami belum makan siang dan aku khawatir perut papah makin kembung sehingga memicu kentut di dalam bis. Maka kuajak papah ke satu tempat. Pasar kaget blok M. Aku biasa kelayapan disitu saat malam minggu.

Tempat itu adalah tempat dimana aku dan kakak biasa mengamen. Aku juga menawarkan jasa mencuci piring di warung-warung tenda yang berjejer di tepi jalan. Bayarannya terserah yang punya warung. Aku bekerja dengan rajin sehingga banyak pemilik warung yang mengenalku dan memberi tambahan upah berupa makanan untuk dibawa pulang.

Aku masuk ke sebuah warung tenda milik Pak Mamat. Kuminta papah duduk dulu sementara aku bicara ke pemilik warung. Kuberanikan diri meminta tolong supaya dijinkan membeli nasi tiga piring, seekor ayam goreng plus tahu tempe dan sambel terasi tapi bayarnya ngutang. Aku berjanji akan membayarnya dengan upahku sebagai tukang cuci piring. Demi supaya papah bisa makan enak di tempat yang nyaman. Kukatakan pula bahwa kami belum makan sejak siang dan tiba-tiba suara kukuruyuk dari dalam perut meyakinkan curhatanku kepada Pak Mamat. Ia tertawa.

"Kamu makan aja sama bapakmu yaa, neng...! Makan yang kenyang. Bikinin bapakmu teh anget biar perutnya nggak kembung."

Aku terharu. Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih dan berjanji pasti akan aku bayar nanti.

Ketika makanan dihidangkan, papah ragu-ragu.

"Nduk, mbayare piye? Uang papah nggak cukup buat bayar ini."

"Makan aja pah. Papah belum makan dari siang. Aku juga laper banget. Kalau nggak makan perut kita kembung terus kentut bareng-bareng bisa dikeroyok orang se-bis. Soal bayar papah nggak usah pikirin."

Aku berusaha meyakinkan papah yang masih nampak ragu-ragu tapi akhirnya percaya setelah pak Mamat mengatakan bahwa ini hadiah. Papah makan dengan lahap dan menghabiskan nasi dua piring. Aku senang melihatnya makan dengan semangat.

Setelah makan, kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada pak Mamat. Tak disangka beliau memberikan bungkusan berisi seekor ayam goreng untuk dibawa pulang. Rejeki nomplok. Mamah, kakak dan adik-adik bisa ikut mencicipi ayam goreng. Akan ada pesta ulang tahun kecil-kecilan nanti malam buat mamah.

Itu adalah kali pertama dan terakhir aku jalan berdua papah. Sebab setelah itu papah jatuh sakit lumayan parah dan sering menginap berminggu-minggu di rumah sakit. Hingga akhirnya kanker liver merenggut papah di bulan Maret tanggal dua belas tahun berikutnya. Aku kehilangan papah. Tapi episode jalan-jalan bersamanya selalu kuingat. Hingga setua ini aku selalu ingat nasehat papah sewaktu makan di warung Pak Mamat. 

"Jangan pelit kasih makanan sama orang yang butuh makan ya, nduk..."