Bonus Demografi atau Kutukan Demografi? Komunikasi Kuncinya

bonus-demografi-atau-kutukan-demografi-komunikasi-kuncinya-2088

Bonus Demografi atau Kutukan Demografi? Komunikasi Kuncinya

Berjuta isu kerap mengundang berbagai pertanyaan. Apakah Indonesia siap menghadapi tantangan bonus demografi? Atau justru hal yang tidak diinginkan akan terjadi? Akankah Bonus Demografi berubah menjadi kutukan demografi? seperti yang dirasakan negara Afrika Selatan dan Brazil yang gagal dalam tantangan bonus demografi sehingga harus menanggung perihnya kutukan demografi.

Semua jawabnya ada dalam artikel ini.

Komunikasi, kata kunci inilah yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan diatas. Rendahnya kemampuan berkomunikasi akan sangat berdampak terhadap kehidupan seseorang terlebih sebuah negara tak terkecuali Indonesia. Tahun 2020-2030 Indonesia mengahadapi sejarah baru dalam peradaban dunia, di proyeksikan pada tahun itu Indonesia akan mengalami bonus demografi yang ditunggu-tunggu jauh sebelumnya.

Namun, harus diketahui ancaman akan selalu ada dalam setiap perubahan, Kutukan Demografi menjadi bayang-bayang yang terus dipertanyakan, Akankah? Mungkinkan? Jika itu terjadi bagaimana dengan Indonesia? Apakah 2020-2035 akan menjadi tahun bersejarah yang mengecewakan? Semua masih dalam tanda tanya, bisa terjadi atau tidak akan terjadi adalah berbicara bagaimana kesiapan negara dalam menghadapinya.

Bonus Demografi Atau Kutukan Demografi?

https://arryrahmawan.net/

Bonus demografi (demographic dividend) adalah situasi dimana jumlah penduduk usia produktif (rentang usia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia yang tidak produktif. Plt. Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu mengungkapkan bonus demografi menjadi kesempatan emas bagi Indonesia dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan sebagai salah satu pendukung Indonesia menjadi negara maju. Tentu ini menjadi perihal yang sangat menguntungkan bagi Indonesia.

Namun, disamping itu mantan Rektor Universitas Padjajaran, Prof. Ganjar Kurnia, menyampaikan bahwa istilah “Bonus” seringkali menjadi problema. Karena konotasi dari kata “Bonus” adalah selalu kepada hal yang menguntungkan, padahal Bonus demografi bukanlah hasil instan melaikan investasi jangka panjang dari rencana kependudukan yang akan berdampak positif berupa peningkatan ekonomi masyarakat jika dikelola secara benar.  Sebaliknya jika tidak diatur dan diawasi sejak dini, maka akan menjadi petaka dan berubah istilah menjadi kutukan demografi.

Kutukan demografi adalah keadaan dimana banyaknya jumlah penduduk produktif suatu negara namun tidak diimbangi dengan skill dan SDM yang mampu bersaing dalam dunia digital. Hal terburuk ini juga disampaikan oleh Ketua Bidang Human Capital Development idEA Sofian Lusa, jika tidak dilengkapi dengan kemampuan digitalisasi maka penduduk produktif hanya akan menambah angka pengangguran saja dan Indonesia hanya akan menjadi penonton (konsumen) bukan sebagai pelaku dalam industri digital.

Belajar Dari Negara yang Gagal Menghadapi Bonus Demografi

www.kompas.com

Bercermin dari beberapa negara yang gagal dalam menghadapi bonus demografi tentu menjadikan negara ini lebih hati-hati dalam bertindak. Afrika Selatan dan Brazil dicap sejarah sebagai negara yang gagal menghadapi tantangan bonus demografi. Bahkan hingga saat ini Afrika Selatan termasuk tiga negara dengan permasalahan kemiskinan terbesar di dunia yang membelit masyarakatnya. Sementara itu, Brazil terjebak dalam middle income trap karena ketimpangan ekonomi antar masyarakat masih sangat tinggi. Kegagalan negara tersebut gagal menghadapi bonus demografi dikarenakan kurangnya perencanaan dan sistem komunikasi yang masih rendah dan tidak merata dalam masyarakat.

Dari negara tersebut Indonesia dapat belajar bahwa kurangnya perencanaan dan lemahnya sistem komunikasi akan berpengaruh besar dalam menghadapi tantangan bonus demografi. Bahkan kemungkinan terburuknya adalah berubah menjadi kutukan demografi.

Belajar Sistem Komunikasi dari Negara Yang Sukses Mengahadapi Bonus Demografi

https://www.arie.pro/

Negara yang penah jatuh bahkan terpuruk lebih parah daripada Indonesia kini menjadi negara maju yang mampu bersaing dengan negara-negara Eropa, sebut saja Korea Selatan.  Mereka berhasil memanfaatkan bonus demografi dengan sukses, padahal jika kita lihat kilas balik sejarah, kondisi mereka tidak berbeda jauh dari Indonesia. Korea Selatan pernah menjadi salah satu negara termiskin di Asia dengan keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki.

Selain itu, mereka juga baru bangkit dari perang saudara dengan Korea Utara. Namun, pada saat ini perkembangan dan kemajuan Korea Selatan jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia, karena mereka lebih dulu mengalami bonus demografi dan sukses akan hal itu. Salah satu kunci yang mereka pegang adalah kualitas dan kauntitan sistem Informasi dan Komunikasi serta kerja keras.

Forum Ekonomi Dunia (WEF) menilai adopsi tekologi informasi dan komunikasi (TIK) Korea Selatan sebesar 93,7 poin, menjadi negara dengan adopsi TIK paling tinggi di dunia. Dengan kesusksesan sistem komunikasi yang juga berimbas kepada meningkatnya kualitas SDM-nya. Menurut PBB pada tahun 2013 kondisi Korea Selatan dan Jepang dalam penilaian IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Jepang berada di ranking 10 dan Korea Selatan di ranking 12. Jauh berada di atas ranking Indonesia yang tercecer di rangking 111.

KOMUNIKASI Kunci Keberhasilan Bonus Demografi

https://yusrin.gurusiana.id/

Perkembangan sistem informasi dan komunikasi menjadi dasar utama dalam mengahadapi bonus demografi. Jejaring internet dalam media informasi dan komunikasi seharusnya menjadi fokus bersama dalam pemerataannya, terlebih di daerah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal). Komunikasi adalah proses, bukan sesuatu yang bersifat statis. Komunikasi memerlukan tempat, dinamis, menghasilkan perubahan dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan suatu kelompok.

Komunikasi yang apik antara pemerintah pusat, daerah, kabupaten dan kota terhadap masyarakat akan menjadi sinyalir yang efektif dalam mengahadapi tantangan bonus demografi. Komunikasi akan mudah terbentuk dengan adanya transparasi informasi dari pemerintah. Dengan transparansi informasi tersebut masyarakat akan mengertahui perkembangan pemerintahan terlebih dalam mengahadapi tantangan bonus demografi.

Komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat yang dimaksud adalah segala bentuk perencanaan pemerintah dalam menghadapi tantangan bonus demografi disampaikan kepada masyarakat baik secara verbal seperti kajian, seminar dan lembaga pendidikan maupun non verbal dalam berbagai media informasi jejaring internet seperti platfrom, sosial media, website, dsbg.

Spesifikasi strategi komunikasi dari pemerintah dapat melalu empat teknik dasar yang sudah dikaji efektivitasnya, yaitu: 1. mengenali sasaran komunikasi yang tidak lain adalah masyarakat terkhusus pada mereka yang menjadi subjek dalam bonus demografi, 2. Pemilihan media komunikasi, dalam hal ini tentu lebih utama secara non verbal melalui media digital terlebih dimasa pandemi seperti sekarang. Namun, juga tidak menutup komunikasi secara verbal.

3. Pengkajian tujuan pesan, hal ini menjadi strategi yang harus dijalankan karena sebagai dasar untuk menentukan langkah yang akan diambil masyarakat. Tujuan pesan yang disampaikan harus berkaitan atau sediktnya mendukung dalam menghadapi tantangan bonus demografi seperti keadaan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan dan aspek lainnya dalam pemerintahan, tak lupa informasi mengenai besarnya kemungkinan terjadi kutukan demografi, 4. Peranan komunikator dalam komunikasi, penting dilakukan dengan mendatangkan berbagai ahli sebagai bekal masyarakat guna menghadapi dan menyukseskan bonus demografi.