Yoyo Si Pengembara Kehidupan

Yoyo Si Pengembara Kehidupan

Pesan "Be a traveler, not a tourist," dari papanya baru dipahami Yoyo sepenuhnya, setelah dirinya menjadi seorang tour leader. Seperti papanya, Yoyo pun memilih menjadi seorang traveler alias pengembara, bukan turis.

Pengembara itu sinonim dengan pengelana, yang artinya orang yang pergi ke mana-mana tanpa tujuan dan tempat tinggal tertentu. Bukan karena hidupnya tanpa tujuan, tetapi pengembara ini hidupnya ngalir bagai air. Ia menjalani kehidupannya, baik gembira maupun derita, dengan tetap tenang terus melangkah. Keren dan gila banget, kan? Ada banyak jagoan seperti ini di film-film dan buku-buku.

Di kehidupan nyata, kita bisa nemuin ada orang-orang model begini. Namun sepertinya tak banyak yang menuliskan dalam buku seperti Yoyo ini!

Tulisan Yoyo saya baca pertama kali di thewriters.id, berupa tulisan-tulisan lepas, belum berbentuk buku. Tulisan yang langsung memukau! Cara dia bercerita sungguh luar biasa! Kita otomatis terseret masuk ke dalam ceritanya. Mungkin Yoyo punya semacam silvertongue seperti Mo di Inkheart? Atau silverpen kali, ya? Entahlah. Yang jelas, pembaca macam saya, sangat menantikan tulisan-tulisannya. Tak cukup membaca di thewriters.id, saya ubek-ubek internet sampai nemu akun kompasiana Yoyo dan akun FBnya, demi mbaca tulisan-tulisan lainnya (haha... pengakuan dosa, nih, Yo).

Awalnya saya mikir, benarkah ini cerita tentang kehidupan yang ia alami? Ataukah ini fiksi berdasar kisah nyata? Atau bagaimana?

Bukan kenapa-kenapa. Jika itu semua adalah pengalaman hidup Yoyo, saya tambah respek dan salut pada dia. Berarti dia ini bukan orang sembarangan. Dia ini... itu tadi... termasuk kaum pengembara. Pengembara kehidupan. Ia yang dengan tegar terus melangkah no matter what. Bahkan ia dengan ikhlas dan enteng menceritakan kisah-kisah pahitnya.

Sepertinya tidak ada niatan selain berbagi kisah. Ia sepertinya ingin membagikan yang ia ketahui. Seperti ketika dia memandu rombongan turis: Ia bercerita tentang sejarah menara Eiffel, kampung nelayan di Volendam, salju (yang sekarang sudah tidak) abadi di Gunung Titlis, dan seterusnya.

Tulisan-tulisan Yoyo itu akhirnya dia kumpulkan dalam sebuah buku: Namaku Yoyo. Dalam buku  ini, Yoyo memandu pembaca berkeliling dunia. Ke Amerika, Perancis, Belanda, Jerman dan Italia. Rasanya seakan kita masuk di dalam cerita-cerita itu, bahkan berjarak sekian cm dari orang-orang yang dikisahkannya.

Selain itu, ada kisah-kisah yang lebih berat dan mengaduk-aduk perasaan: Cerita cintanya, cerita kasih sayangnya pada papanya, juga hubungan ibu-anak dengan putri semata wayangnya, termasuk persahabatannya dengan Kakek Raoul. Siapkan tisu pokoknya.

Ya, kita bisa mengangguk dan bilang, bahwa buku ini adalah sebuah memoar. Kisah pengembaraan seorang Yoyo dalam kehidupannya. Ia dengan jujur, berani dan apa adanya menuliskannya. Sekarang, tergantung kita sebagai pembaca: Apakah kita bisa memetik pelajaran dari kisah-kisah kehidupan Yoyo?

Setidaknya mari bungkukkan badan sejenak, memberi salut kepada Yoyo. Terima kasih telah membagikan secuil kisah kehidupanmu, Yo. Teruslah mengembara, menulis, bercerita dan membagikan kisah. Kami belajar lebih dalam tentang kehidupan darimu. Kami juga menantikan buku berikutnya. Hehe. (rase)

 

Judul Buku: Namaku Yoyo

Penulis: Yo Tung Hay

Penerbit: Bravebooks

Tahun: 2020

Dimensi: 13,5x20, soft cover, 328hal