Women Support Women

Sebuah pengingat, bahwa saling dukung antar perempuan itu adalah sebuah kebutuhan.

Women Support Women

Dulu waktu kecil, aku paling males temenan sama perempuan. Bukan kenapa, aku termasuk anak yang suka olah raga, dan suka dengan hal-hal baru. Jadi, ketika guru olah raga waktu SD nyuruh kami sekelas maen sepak bola di lapangan sepak bola di kampus sini, aku tuh, seneng banget

"AYO! Kenapa kalian cuman berdiri di situ?!" Begitu aku berteriak, dalam hati tapi. Temen-temenku perempuan tidak antusias. Mereka malah memilih berdiri diam saja di pinggir lapangan. Sementara aku sudah berkeringat mengejar bola bersama teman laki-laki. Sudah bisa kutebak, beberapa menit kemudian, mereka kena semprot guru kami. Kurang lebih seperti teriakan dalam hatiku itu.

Zaman dulu, kulihat banyak anak perempuan tidak bersemangat pas pelajaran olah raga. Entah apa alasannya. Mungkin memang tidak suka. Atau tidak dibiasakan untuk setidaknya mencoba hal baru. Atau mungkin saja akunya yang sedari kecil sudah ada gejala ke arah adrenaline junkie. Aku ingat, waktu SD itu juga, diajarin berbagai kegiatan olah raga, termasuk yang namanya lompat harimau. Meskipun sebenarnya deg-degan, aku ga sabar tuh nunggu giliran. Hahaha.

Sekian puluh tahun setelahnya, ternyata kurang lebih sama saja. Namanya anak-anak perempuan, kebanyakan tidak nyaman dengan kegiatan olah raga, apalagi yang cukup menantang. Aku perhatikan, kejadian yang kurang lebih mirip, terjadi di kelas anakku! Pada ekstra berenang, anak-anak perempuan cenderung memilih takut nyemplung ke air. Untungnya, anakku ternyata juga pecandu adrenaline. Dia menyukai air, bahkan menikmati sensasi prosotan dari ketinggian di wahana taman air.

Yang bikin perempuan ga asyik, tuh, juga kebiasaan ghibah. Nggosip. Ngomongin keburukan orang di belakang. Di depan sih terlihat baik, tetapi ternyata .... Sebuah pengalaman terburukku adalah: Ditikam dari belakang oleh seorang perempuan, yang tak kusangka bakalan berlaku seperti itu. Kalo nurutin emosi, pengen rasanya kutantang dia kelahi. Aku ga belajar ilmu bela diri, dan kalaupun harus babak belur kelahi, rasanya aku tetep bakalan puas bisa melampiaskan marahku. 

Tetapi waktu itu aku memilih diam. Waktu itu aku memilih untuk tidak melakukan hal buruk, karena sedang hamil anakku. Yang kusesali adalah, meskipun aku berhasil tidak membalas apapun yang dia lakukan, tetapi hampir setiap saat, waktu itu, ada kata 'why?' di otakku. Cukup lama aku memelihara pertanyaan itu di kepala, tanpa pernah tahu jawabannya. Mengapa dia, yang kupikir adalah seorang teman, memperlakukan aku sedemikian buruknya. Padahal, ngapain coba aku mikirin, ya? Kata Mark Twain: Apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu itu bukan urusanmu.

Semakin tua, aku makin mengenali pola-pola yang ada di dalam hidup ini. Anehnya, aku justru lebih banyak punya teman perempuan. Teman-teman yang menurutku asyik. Dari perempuan-perempuan, aku belajar banyak tentang kehidupan. Tentang seni bertahan hidup, tetap semangat, pantang menyerah, . Mereka adalah guru-guruku.

Salah satunya, seorang perempuan yang usianya sebenarnya jauh di atasku. Ternyata aku nyaman berteman dengannya. Aku ingat betul, aku memberanikan diri yang duluan mengontaknya.

"Bu, nanti ada acara, ngga? Saya maen ke situ, boleh?" Aku menghubunginya via sms. Zaman itu belum ada Whatsapp.

"Ya, ke sini saja, kita bisa ngobrol sambil berenang," balasnya.

Surprise! Ketika tak banyak perempuan, yang kukenal setidaknya, menyukai berenang, eh dia malah nawarin berenang.

Ketika aku tiba di hotel tempat dia menginap di daerah Sanur, dia sudah ada di kolam renang. Dia beneran berenang.

Tentu saja aku senang mendapatkan teman baru dengan kesukaan sama! Kami berdua menikmati kolam yang sore itu jadi milik kami berdua karena tidak ada orang lain yang berenang. Usai mandi dan berganti pakaian, kami melanjutkan ngobrol. Lebih tepatnya sih dia yang banyak bercerita, dan aku pendengar yang baik. 

Darinya, aku makin terbuka wawasan. Terutama soal isu perempuan. Juga soal ketahanan pangan. Dia, pada waktu itu, bercerita bagaimana dia membuat kecap sendiri. Keren banget, ya? Sebuah tindakan nyata dari semua yang dia bicarakan di forum-forum. Ya, aku selalu menjura pada orang-orang yang walk the talk.

Meskipun intensitas komunikasi tak banyak, tapi beliau adalah teman yang selalu asyik. Dia tahu persis bagaimana berinteraksi dengan terutama perempuan. Meskipun dia tetap keras dan gigih berpihak pada keadilan untuk perempuan, untuk masyarakat adat, serta kaum yang terpinggirkan. Sering dia berbicara sangat keras dan lantang di forum demi keberpihakannya itu. 

Ketika dia membuat akun di Facebook, komunikasi kami kembali terjalin. Dia selalu memberi dorongan ketika aku menulis sesuatu. Karena dia adalah seorang penulis. Aku yang hampir selalu mendapat insight dari tulisan yang sering dia bagikan di akunnya. Aku salut dengan aktivitasnya yang luar biasa, yang ia lakukan demi nilai-nilai yang dipegang dan diperjuangkannya.

Perjuangan yang dia lakukan hingga akhir hayatnya. Iya, sebuah berita duka menyambar bagai petir di siang yang cerah. Sangat mengagetkan! Padahal aku berjanji maen ke rumahnya di Solo yang hanya berjarak satu jam perjalanan. Padahal aku ingin sekali ikutan kelas yang dirintisnya sebagai kelas perempuan. Kelas yang super asyik menurutku. Padahal aku kangen dengan pelajaran-pelajaran kehidupan yang dia bagikan. Pemikiran-pemikiran yang dia ungkapkan.

Yang pasti bakalan membuat dia tersenyum di alam keabadian adalah, teman dan sahabat dia, ramai-ramai bertemu melalui Zoom untuk mengenangnya. Mengenang pemikiran dan aksi-aksi nyatanya. Mengenangnya sebagai pribadi yang luar biasa. Mengenang cara dia mendukung sesama perempuan. 

Aku berada di balik screen hitam ponselku supaya koneksi Zoom lebih lancar. Mematikan audio supaya tak terdengar isakan yang menyertai air mata yang meleleh. Tenggorokan tercekat. Mendengar dan melihat sahabat-sahabatnya, kami semua, mengenangnya. Persis seperti yang aku rasakan. Sebuah kehilangan, duka, tetapi juga sebuah pengingat, bahwa yang namanya saling dukung antar perempuan itu adalah sebuah kebutuhan. Women support women. (rase)

Happy International Women's Day, 8 Maret 2021, sekaligus mengenang Ibu Maria Rita Roewiastoeti yang berpulang tanggal 9 Januari 2021. Kaswargan langgeng, Bu.