Wabah Mengubah Rumah

Wabah Mengubah Rumah
https://pixabay.com/id/photos/cuci-tangan-kebersihan-bersih-sabun-4940239/

Pandemi mengubah segalanya. Kebiasaan-kebiasaan lama dikoreksi. Sebagian harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan: bermasker, jaga jarak, dan cuci tangan. Sementara sebagian kebiasaan yang lain bahkan harus ditinggalkan sama sekali.   

 

Berjauhan dengan lawan bicara, mengenakan masker ke mana-mana, dan mencuci tangan sesering mungkin, awalnya terasa aneh, janggal, dan boleh jadi tidak nyaman. Tapi lama-lama normal baru itu akan jadi normal (tanpa baru) juga.

 

Selain wajib bermasker dan jaga jarak, cuci tangan dengan sabun di air mengalir adalah salah satu dari 3 M yang gencar dikampanyekan tidak hanya oleh pemerintah, namun oleh hampir semua pihak.

 

Demi hal tersebut, hampir di semua tempat umum kini tersedia sarana untuk mencuci tangan berupa wastafel portable. Tak hanya pemerintah, sarana cuci tangan ini juga banyak disumbangkan oleh partai politik, organisasi masyarakat, dan lembaga lainnya. Di beberapa tempat, sarana cuci tangan bahkan dibuat permanen.  

 

Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa wastafel portable akan semenjamur seperti sekarang ini? Di pasar, di tempat ibadah, di kantor-kantor, di kafe, dan tempat-tempat lain, tersedia sarana cuci tangan. Di masa awal-awal pandemi merebak di Indonesia, di banyak tempat, bahkan disediakan bilik khusus tempat penyemprotan cairan disinfektan. Yang terakhir disebut ini kemudian dikoreksi setelah menuai banyak dikritik karena dinilai salah kaprah.

 

Sejauh ini, sarana cuci tangan di banyak tempat bersifat tidak permanen. Selain berupa wastafel portable, ada juga yang berupa kran air yang dibuat dadakan. Ada pula yang hanya menyediakan ember berisi air, gayung, dan sabun. Sebagian telah dilengkapi dengan saluran pembuangan air. Tetapi, masih banyak pula sarana cuci tangan yang tidak menyediakan saluran pembuangan air khusus. Jika dibiarkan terus menerus, lambat laun hal ini berpotensi menjadi persoalan baru.

 

Karena tak seorang pun bisa memprediksi dengan pasti kapan pandemi ini berakhir, tidak menutup kemungkinan keberadaan sarana cuci tangan nantinya akan jadi bagian tak terpisahkan dari desain suatu bangunan.  

 

Rumah, kantor, toko, restoran, hotel, tempat ibadah, dan lain sebagainya yang dibangun di masa pandemi dan setelahnya wajib dilengkapi dengan fasilitas cuci tangan permanen dengan sistem pengelolaan air yang terancang dengan baik.

 

Idealnya terletak di luar bangunan atau di sekitar pintu masuk. Tujuannya agar orang yang hendak masuk dapat terlebih dahulu mencuci tangan tanpa harus masuk terlebih dulu ke dalam bangunan. Jadi, yang masuk bangunan dapat dipastikan tangannya telah bersih dari kuman, bakteri, atau virus.

 

Tapi, mungkinkah pandemi Covid-19 sampai mempengaruhi dunia arsitektur?

 

Wabah Sampar/Pes Yang Mengubah Arsitektur

 

Wabah sampar atau pes yang terjadi di Hindia Belanda pada paruh pertama abad ke-20 dapat menjadi contoh bagaimana wabah penyakit memberi pengaruh besar terhadap hal ihwal membangun rumah.

 

Atep Kurnia, dalam buku Jaman Woneng: Wabah Sampar di Priangan, 1925-1935, sebagaimana dilansir detik.com, mencatat, demi memutus mata rantai penularan wabah yang berasal dari tikus ini, pemerintah Hindia Belanda membuat program “woningverbetering” atau “verbeterdewoningen”. Istilah Belanda tersebut dapat dimaknai perbaikan atau pembangunan kembali rumah.

 

Pemerintah Kolonial berasumsi bahwa bambu utuh, yang menjadi material utama rumah-rumah, berpotensi besar menjadi sarang tikus. Pada masa itu, kebanyakan rumah penduduk khususnya di wilayah Priangan, menggunakan bambu utuh sebagai tiang utama rumah, tiang atap, tiang jemuran, dan tiang kakus.

 

Selain bambu utuh yang dilarang penggunaannya, atap rumah yang tadinya berbahan alang-alang dan ijuk pun harus diganti dengan genting berbahan tanah liat agar terbebas dari hewan pengerat ini.

Dalam artikelnya berjudul “Jaman Woneng” yang terbit di ayobandung.com, berdasarkan risetnya, Atep Kurnia menyebut bahwa genting ini merupakan subsidi dari pemerintah Hindia Belanda, namun bukan berarti gratis. Warga hanya diberi keringanan mencicil pembayaran genting dan beberapa bahan lainnya yang dibutuhkan untuk membangun rumah yang telah ditetapkan oleh Pestbestrijdingsdienst atau Dinas Pembasmian Sampar.

 

Dalam kasus “woningverbetering”, perombakan rumah bukan perkara sepele. Sejatinya, yang rombak bukan hanya fisik rumah, namun tradisi urang Sunda dalam mendirikan rumah yang telah berlangsung ratusan tahun.

 

Demikianlah, dalam banyak catatan sejarah, terbukti wabah telah mengubah kebudayaan. Namun, karena “salus populi suprema lex esto” (keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi), mengubah suatu tradisi dan kebiasaan yang telah berlangsung ratusan tahun pun, bukan lantas menjadi kesalahan. Terlebih, budaya tidaklah kaku. Ia dinamis seiring ruang dan waktu yang terus berubah.

 

Bakteri Yersinia pestis (penyebab wabah sampar) memberi pengaruh signifikan terhadap arsitektur bangunan di masa lalu. Di masa kini (dan di masa yang akan datang), terbuka kemungkinan SARS-CoV-2 juga melakukan hal yang sama. Tentu dengan dampak yang tidak terlalu signifkan. 

 

Menambahkan fasilitas cuci tangan permanen di halaman rumah tidak akan sampai mengubah tradisi dan kebudayaan sedahsyat “woningverbetering”.