VAKSIN SAJA TIDAK CUKUP

"Bokap positif bro, Subuh tadi gue terima email hasilnya," Anto tertunduk lesu di hadapanku. Gurat kesedihan membuat kerut di dahinya spontan bertambah. Kawanku ini adalah orang paling cerewet di muka bumi. Jangankan lupa bawa, masker kawan melorot aja bisa membuatnya tiba-tiba murka.

VAKSIN SAJA TIDAK CUKUP

Air kali itu kini tampak begitu keruh dan berbau, padahal belasan tahun yang lalu jadi sudut terbaik buatku memancing. Duduk bersila sambil sesekali bersandar di samping beton jembatan, menikmati gerakan pelampung mungil berujung merah andalanku. 

Membayangkan ada seekor ikan besar yang bisa kubawa pulang untuk ibu olah jadi makan siang yang lezat.

Namun sejujurnya aku tak suka duduk diam seperti itu. Menunggu ikan menyambar dengan sabar, seolah dialah sang penentu. Teman-teman bahkan sering bilang kalau batas sabarku itu cuma sebatas jarak alf*mart dan ind*mart. Jadi tak mungkin betah berlama-lama menunggu yang tak pasti. 

Seperti pagi ini, secangkir kecil kopi gayo arabika favoritkupun tak mampu membuatku bergeming. Pikiranku berkecamuk melihat pergerakan teks di layar televisi. Data korban meninggal terus saja melaju dengan kencang. Sejuta lebih menurut data, lantas bagaimana dengan yang tak terdata? 

Entahlah, berita pandemi disana-sini seolah tak mampu mengerem laju massa. Sebagian tetap saja merasa ini tak ada. Iya, kamipun sama. Sama-sama berharap jika ini semua hanya sebatas candaan belaka. Tapi faktanya, pandemi ini nyata. Bukan rekayasa atau sekedar cerita. 

"Bokap positif bro, Subuh tadi gue terima email hasilnya," Anto tertunduk lesu di hadapanku. Gurat kesedihan membuat kerut di dahinya spontan bertambah. Kawanku ini adalah orang paling cerewet di muka bumi. Jangankan lupa bawa, masker kawan melorot aja bisa membuatnya tiba-tiba murka.

"Ada atau tidak ada komorbid, yang namanya Covid tetap saja beresiko", begitu seringkali dia bersuara. Apalagi buat mereka yang usianya sudah banyak. Wong yang muda aja bisa tumbang apalagi yang senior. 

Pertengahan tahun lalu, saat pandemi mulai merebak. Kisah tentang sedihnya isolasi mandiri tanpa subsidi, kuanggap hanya sekedar gurauan. Tapi nyatanya, kini aku tak lagi bisa tertawa saat kedua mertuaku pun dinyatakan positif. Batuk sesaat tempo hari ternyata bukan lantaran tersedak. Tapi merupakan sebuah gejala, dengan sang virus berada di dalamnya. 

Ya, lingkaran itu kini sudah semakin merapat. Korbannya pun bukan lagi orang-orang jauh tapi sudah sampai para kerabat dekat. Mataku seketika nanar membayangkan seisi keluarga. Si sulung yang sedang banyak bertanya dan si kembar yang bahkan belum genap setahun. 

"Lu masih punya bayi, tolong selalu jaga kondisi." Pesan Iwan suatu hari lewat chat singkat dari whatsapp. 

Tak ada gunanya juga Swab PCR tiap minggu ataupun vaksin berkali-kali jika pola hidup kita masih saja sama. Tak ada juga yang perlu disanggah karena ini beneran ada. Jelas vaksin saja tidak cukup, obat, jamu, suplemen pun sama jika kita tidak selalu menjaga jarak, mencuci tangan rutin, memakai masker, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. 

Yang paling penting justru mematuhi protokol kesehatannya bukannya murni mengandalkan vaksin, vitamin atau jejamuan. Karena dengan mematuhi prokes artinya setengah diri kita sudah terlindungi, sisanya tinggal berserah diri kepada sang Pencipta dan selalu berikhtiar menjaga imun tubuh. Seperti slogan pemerintah, "Dengan iman, aman dan imun kita tanggulangi covid-19." 

Patuh, itu saja. Memang banyak yang berhasil melewati masa isolasi. Tapi banyak juga di antara kita yang tak mampu melampaui masa 14 hari.

Kembali kutatap air di depanku, tampak segerombolan sepat berenang mendekat. Tatapan matanya begitu teduh dan bersahabat. Jauh dari caci maki dan hujat. 

#vaksinsajatidakcukup