Vaksin Covid-19, Cukupkah?

Kedatangan 2021 disambut dunia dengan gegap gempita. Karena, dianggap membawa berkah vaksin covid-19. Obat mujarab yang diharap akan membuat hidup kita kembali normal. #VaksinSajaTidakCukup

Vaksin Covid-19, Cukupkah?
"Nina…, Nina…,” kudengar sayup-sayup suara ayah memanggil.
 
Terbangun dari tidur, perlahan aku membuka mata.
 
“Lihat nih, ayah punya hadiah buat kamu".
 
Pandanganku tak fokus, berhubung panas badan yang masih tinggi. Wajah ayah hanya terlihat samar-samar. Tapi, senyum lebar penuh cintanya kulihat jelas. Dari kuping ke kuping. Kucoba melihat baik-baik apa yang ditunjukkan ayah padaku.
 
Ah! Sebuah boneka anak perempuan berkuncir dua. Aku suka sekali dengan boneka! Tingginya kira-kira 15-20 cm. Warna ‘kulitnya’ coklat. Bibirnya jambon pucat, tersenyum lebar. Matanya seperti ikut tersenyum dengan bibirnya. Alis tipisnya melengkung.
 
Dia memakai blus tak berlengan yang menutupi dadanya. Bagian atas celana panjangnya pas melekat di pinggul. Memperlihatkan pusarnya yang, lohkoq bolong?
 
"Lihat! Ini kamu banget!" kata ayah sambil menekan jemarinya di dua sisi pinggang si boneka.
 
Plop!
 
Dari pusarnya yang bolong itu, keluar sebentuk balon kecil berwarna seperti bibirnya. Lucu sekali! Aku tersenyum senang meski lemah, dan perlahan meraih boneka lucu itu. Memeluknya. Ayah tersenyum lagi. Tangannya yang sejuk memegang keningku. Aaah…, rasanya sungguh nyaman!!!
 
"Tidur lagi saja. Kalau sudah mau pulang, nanti ayah bangunkan lagi".
 
Aku mengangguk kecil, lalu mengatupkan kedua mataku lagi. Bahagia meski masih sangat terganggu oleh demam, aku segera kembali ke dunia mimpi yang absurd dengan boneka itu di pelukan.
 
Tadi ayah bilang bahwa boneka itu sangat saya, kan? Ada alasannya. Saya juga berkulit gelap, dan kebetulan saya juga punya pakaian yang modelnya mirip. Saya tak ingat lagi motif dan warna kain pakaian si nona coklat mungil itu. Tapi, saya masih cukup ingat yang saya punya. Batik kontemporer—untuk ukuran masa itu—dengan campuran warna kuning dan coklat.
 
Tapi, kemiripan paling utama antara saya dan boneka itu adalah, saat masih bayi entah sampai usia berapa saya lupa, pusar saya suka keluar seperti boneka itu. Plop! Persis sekali. Bedanya, pinggang saya tak perlu dipencet seperti terhadap si boneka. Saya cukup menangis sambil menjerit.
 
Sampai sekarang, mungkin sudah setengah abad berlalu, masih saja saya kagum bahwa ayah bisa menemukan si boneka yang identik dengan saya itu. Dibeli beliau di Jakarta Fair pada masanya, ketika lokasinya masih di Lapangan Medan Merdeka dekat Monas, Jakarta Pusat.
 
Sejak saat itu, tak sekali pun saya maupun ayah menemukan lagi penjualnya di Jakarta Fair. Atau, di mana pun. Tak pernah juga saya lihat orang lain memiliki boneka yang sama. Sungguh hadiah yang istimewa.
 
Ayah khusus membelikanku si cantik itu karena malam itu aku tepar demam di rumah opa dan oma. Sementara, yang lain ramai-ramai bersenang-senang di Jakarta Fair. Siangnya pada hari yang sama, di sekolah aku divaksin.
 
Usiaku saat itu sekitar 7-8 tahun. Masaku di sekolah dasar, vaksin memang selalu diadakan di sekolah. Di antara jam-jam pelajaran. Kami berbaris menunggu giliran, lalu satu per satu disuntik. Tidak gratis. Harus bayar dengan uang yang dibekalkan orangtua kepada kami. Tidak mahal koq, tapi saya lupa berapa nilainya per vaksin.
 
Biasanya yang memegang uang vaksin adalah abang saya. Pernah loh, satu kali, abang memakai uangnya buat jajan kami. Akibatnya, kami pun tak ikut berbaris untuk divaksin karena uangnya habis. Siangnya ketika ayah datang menjemput, kami sembunyi di toilet takut dimarahi. Tentu ketahuan, dan akhirnya divaksin juga.
 
Setiap kali divaksin, saya pasti demam. Kadang-kadang bisa sampai tak masuk sekolah selama 2-3 hari. Tak masuk sekolah dengan resmi sesungguhnya enak. Tapi, hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur, apa asyiknya? Berbagai kegiatan seru tak bisa saya lakukan. 
 
Entah di mana salahnya, sehingga pada hari tertentu itu rencana ke Jakarta Fair bersama para sepupu dengan ditraktir opa dan oma, jatuh pada hari yang sama dengan hari vaksin. Siang di rumah, tubuh sudah mulai tak enak. Mata, mulut, dan hidung terasa makin membara. Tapi, aku menggagahkan diri, pura-pura baik-baik saja. Supaya tetap bisa ikut pergi.
 
Sayangnya, badan yang semakin demam tak bisa lagi berbohong. Sesampainya di rumah oma dan opa, aku pun tumbang. Jangankan pura-pura baik-baik saja, duduk tegak pun sudah tak mampu. Untung dapat hadiah boneka cantik berpusar balon. Sangat mengobati hati meski demam jalan terus. Meredakan kekesalan; melihat abang, adik-adik, dan sepupu yang juga divaksin tadi koq baik-baik saja.
 
Selain demam, efek yang paling buruk dari segala suntikan vaksin yang kuterima adalah setelah disuntik BCG (Bacillus Calmette-Guérin), vaksin untuk melindungi manusia dari virus tuberkulosis (TB). Tak hanya demam, bekas suntikan di lengan atas dan tepat di bawah bahu itu, meruyak menjadi borok. Melebar sampai hampir memenuhi lengan atas.
 
Sampai sekarang saya masih ingat bau lukanya. Sembuhnya lama, meski mungkin itu juga karena saya suka mengorek-ngorek lukanya. Seseorang pernah berkata, luka itu adalah tanda bahwa tubuh saya sudah diserang vaksin TB. Ya, tak tahu sih kebenarannya.
 
Selesai pendidikan SD, selesai pula urusan hidup saya dengan vaksin. Demikian saya berpendapat. Dengan senang hati saya mengucapkan salam perpisahan pada dunia vaksinasi. Namun, siapa sangka bahwa saat sudah dewasa begini, ternyata saya masih akan berhadapan dengan vaksin? Gara-gara di abad ke-21 ini dunia dilanda pandemi mematikan. Covid-19.
 
Sebagai penyegar ingatan, saya kutip apa kata dokter ahli paru, Brigjen TNI Pur dr. Alexander K. Ginting Suka,Sp.P. (K) FCCP, tentang covid-19. Yang tercantum dalam materi untuk webinar Vaksin Saja Tidak Cukup, pada 28 Januari 2021.
 
Covid-19 adalah penyakit menular infeksius yang disebabkan oleh corona virus jenis baru SARS-CoV-2, yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina pada 31 Desember 2019. Suatu penyakit yang menyerang organ-organ tubuh multisistem.
 
Kasus pertama di Indonesia yang dilaporkan tercatat pada 2 Maret 2020. Pada 11 Maret 2020 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa covid-19 merupakan pandemic disease. Indonesia memasuki tahap tanggap darurat pada 17 Maret 2020.
 
Belum..., belum ada pencegahannya atau vaksinnya waktu itu. Maka, seperti yang kita semua tahu, kepada seluruh penduduk bumi keras disarankan untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu sebagai pencegahan. Social distancing, memakai masker, rajin mencuci tangan, dan lainnya—yang kita semua tentunya sudah sangat hafal. Banyak negara menutup diri. Lockdown. Seiring dengan naiknya grafik jiwa yang hilang akibat covid-19, dunia pun berupaya membuat vaksin untuk memerangi penyakit mematikan ini.
 
Dengan adanya vaksin diharap akan menurunkan kesakitan dan kematian akibat covid-19. Dan, demi tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity) untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat. Dengan demikian, akan dapat melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh. Sehingga dapat menjaga produktifitas, serta meminimalkan dampak sosial dan ekonomi.
 
Kita masih ingat bagaimana dunia menyambut kedatangan 2021, yang dianggap sebagai tahun pembawa vaksin covid-19. Vaksin yang sangat diharap-harap itu dipercayai akan menjadi satu-satunya penyelamat dunia. Agar manusia dapat kembali ke kehidupan normal seperti sebelum masa pandemi.
 
Dalam gegap gempita penuh harapan itu, saya adalah salah satu orang yang menyatakan siap untuk divaksin. Dengan harapan pandemik akan segera tuntas. Meski diam-diam cemas akan kemungkinan menjadi demam setelah disuntik. Sementara, sudah tak ada lagi ayah yang tangannya nyaman di dahi, dan yang akan menghadiahi boneka cantik sebagai penghibur.
 
Namun, sebetulnya vaksin tidak akan langsung menuntaskan pandemik. Apalagi, tidak semua orang bisa divaksin. Orang-orang dengan penyakit tertentu (komorbit), penyintas penyakit berat seperti kanker, dan penyandang otoimun merupakan orang-orang yang tak bisa divaksin. Sebenarnya begitulah kondisi vaksin secara umum, bukan kasus khusus vaksin covid-19.
 
Di lain sisi, vaksin covid-19 untuk anak-anak juga belum ada. Untuk lansia barangkali juga belum cocok. Jelaslah, kita benar-benar harus paham akan kenyataan yang sebenarnya. Apakah betul vaksin covid-19 saja sudah cukup untuk melindungi kita.
 
Harus dipahami juga bahwa vaksin covid-19 tidak membuat tubuh kebal akan virus mematikan tersebut. Yang terjadi adalah, vaksin hanya akan meningkatkan imunitas tubuh. Kita menjadi tak terlalu gampang terpapar virus covid-19. Secara umum, kerja vaksin memang untuk meningkatkan imunitas tubuh manusia.
 
Contohnya, sebagaimana diingatkan oleh dr. Alexander K. Ginting adalah, bahwa vaksin BCG juga tak membuat kita kebal virus TB. Namun, daya tahan tubuh kita yang akan meningkat, menjadi lebih kuat dalam menghadapi serangan TB.
 
Jelaslah artinya bahwa vaksin saja tidak cukup. Dengan demikian, kita tetap harus disiplin menjalankan segala aturan prokes yang ada. Teruslah menjaga kesehatan tubuh supaya kebugaran tetap prima. Ketahui juga apakah orang-orang di sekitar kita sudah divaksin. 
 
Siapa tahu mereka merupakan golongan yang tak dapat menerima vaksin. Kepada golongan ini, kita yang sudah divaksin harus lebih waspada. Jangan sampai mereka malah terpapar oleh kita. Vaksin hanya melindungi orang yang sudah disuntik.
 
Harus diingat baik-baik , bahwa sehat kita bukan hanya untuk diri kita sendiri saja. Tapi, untuk semua. Untuk keluarga, untuk masyarakat. Ingat juga, kalau kita, atau siapapun, terpapar covid-19, tak hanya diri kita sendiri yang susah. 
 
Tolong, pikirkan juga para tenaga kesehatan. Mereka sudah lelah. Pakaian hazmat yang sehari-hari memerangkap mereka sampai-sampai urusan sederhana seperti minum atau buang air kecil menjadi sulit dilakukan, ternyata tak menjamin mereka bebas dari paparan covid-19.
 
Nyaris setahun pandemi di Indonesia, kita sudah kehilangan lebih dari 600 orang nakes. Jumlah yang sangat sangat terlalu banyak…   =^.^=
#VaksinSajaTidakCukup