USAHA TANPA ADAB

berbisnis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Profit salah satu impactnya. Banyak cara elegan yang bisa dilakukan tanpa mencederai orang lain.

USAHA TANPA ADAB

Aku punya kebiasaan untuk menelusuri kebenaran sebuah pesan ataupun berita. Meskipun sekarang ini informasi yang masuk keSmartphone sudah seperti banjir bandang, tetapi Aku selalu menseleksi manfaat dari semua informasi itu. Saking selektifnya, terkadang Aku sama sekali tidak tahu tentang berita yang sedang Trending di media sosial. Lah kok bisa? Ya bisa aja, khan menurutku beritanya ga penting! sehingga tidak sempat terpikir untuk menyimpan lama-lama di otakku.

 

Sore itu Temanku mengirim pesan di setiap WAG yang ada. Yaaaa, Kami memang menjadi anggota dibeberapa WAG. Karena ada beberapa kesamaan, sehingga tidak sengaja Kami terdampar bersama-sama dalam satu kelompok diskusi, pengajian, bisnis dan kehidupan sosial lainnya.

 

Selama masa Pandemi Covid 19 ini, Ia sangat gencar mengirmkan beragam tulisan tentang Covid 19. Aku telusuri semua Chatnya di WAG, beritanya dimonopoli oleh Covid 19. Aku masih ingat ketika pertama sekali memposting tentang Covid 19, ia sangat bersemangat. Terkadang caranya memposting, menelaah pesan tersebut lebih pakar dari pakar peniliti. Ia menampilkan data yang komplit baik hasil penelitian dalam dan luar Negeri.

 

Sebenarnya Saya suka dengan kebiasannya, karena Ia seorang yang sangat melek internet. Kemampuannya mendapatkan data riset, ebook dan beragam jurnal sangat membantu Kami melakukan pekerjaan. Karena setiap kami kesulitan tentang data, cukup kirim pesan ke Beliau dan tidak perlu menunggu lama data yang dibutuhkan langsung tersedia.

 

Kali ini pesan yang Ia kirimkan agak berbeda dan jauh dari kebiasaannya. Postingannya dimuali dengan Kata “PENTING!!!!” dan disertai dengan Tanda empat buah tanda seru. Pesannya berisi tentang seorang Store Manager sebuah Supermarket terpapar Virus COVID 19. Pesannya disertai dengan daftar beberapa supermarket yang telah dikunjungi oleh Store manager saat Beliau dinyatakan positip terpapar Covid 19. Dan pesannya diakhiri dengan himbauan untuk tidak mengunjungi Supermarket tersebut Dua Minggu kedepan, karena sedang di lockdown.

 

Mendapat pesan seperti itu, Aku mencoba mencari tahu kebenarannya. Bisa Kita bayangkan cepatnya berita itu menyebar ke WAG lainnya, tanpa didukung oleh pernyataan resmi dari Pihak yang berwenang dan manajemen Supermarket. Aku coba bandingkan dengan kejadian yang menimpa salah satu supermarket dimana seorang Pramuniaganya terpapar virus. Ketika berita itu tersiar, Aku langsung searching mencari kebenaran informasi tersebut. Dalam hitungan menit, informasi kudapatkan dan ada pengumuman resmi dari pihak berwenang dan pengelola supermarket tersebut. OK infonya valid.

 

Untuk kasus Store Manager tersebut, tidak ada informasi dari pihak berwenang maupun dari pengelola Supermarket. Yang Aku temukan adalah postingan yang sama tentang khabar burung Store Manager yang terpapar virus. Kalau kejadian yang satu ini Aku lebih serius untuk mencari tahu. Karena lokasi salah satu supermarket yang dikunjungi oleh store manager itu dekat dengan lokasi Kami tinggal.

 

Aku juga mencari apakah ada hak jawab dari pengelola Supermarket untuk membantah berita-berita itu. Saat ini memang serba dilematis, Kalau dibiarkan maka pesan tersebut akan menyebar secara liar dan dipenuhi dengan bumbu-bumbu yang mencekam. Ternyata, tidak Aku temukan respon dari supermarket untuk menanggapi pesan-pesan itu. “Wuah gawat nih!!! Pikirku.

 

Sebenarnya aku kenal dengan Store Manager dari Supermarket itu. Ia tinggal di sebelah Barat Kecamatan sedangkan Aku tinggal di sebelah Timur. Jadi secara fisik lokasi tinggal Kami berjauhan. Dari Hasil Monitor lewat PEDULI LINDUNGI, Aku menemukan bahwa Daerahku termasuk zona Merah dan Wilayah Beliau Zona Kuning. Aku sering berdiskusi dengannya tentang dinamika bisnis retail, karena Kami sama-sama punya ketertarikan dengan Bisnis dan Pemasaran.

 

Sebagai Store manager, Ia orang sangat cekatan dan berwawasan luar. Selain pernah bekerja di salah satu supermarket di luar negeri, Ia juga memiliki latar belakang Pendidikan Magister Management. Itu sebabnya kalau Saya berkunjung ke Super Market itu, Saya selalu menemui dirinya untuk ngobrol. Tetapi momen yang bebas untuk berdiskusi biasanya disaat Ia libur dan kebanyakan Kami lakukan via Telepon, Apalagi saat sekarang tentu lebih aman secara virtual.

 

Siang ini Aku sengaja mendatangi Supermarket itu untuk menemani Istri belanja keperluan. Saat Mobil Kami keluar komplek perumahan, situasi lalu lintas ramai dan kemacetan mulai bisa kunikmati lagi. Lebih dari enam bulan aku tidak menikmati kemacetan, karena proteksi masyarakat terhadap penyebaran virus ini.

 

Hidup ini memang aneh yaaa! Aku selalu mencari sesuatu diluar sana. Sementara yang di depan mata Aku suka Abai. Saat situasi normal, jalanan macet dimana-mana dan Aku jalani dengan penuh keluhan. Saat Pandemi terjadi, masyarakat menahan diri untuk tetap di rumah, eeeeh yang kurindukan malah kemacetan. Dasar Koplak!!!!

 

Aku berbelok menuju portal parkir Supermarket dan mengambil tiket parkir untuk selanjutnya menuju parkir area.

“Hmmmmmm, kayaknya dugaanku benar deh Ma” kataku kepada Istri.

“Maksudnya apa Pa” tanya istriku.

“Itu Hoax tentang supermarket ini” jawabku sambil memarkir mobil.

“Kok sepi yaaa?” lanjut istriku.

“Iya, yaaa. OK deh Kita turun dulu” jawabku dan langsung menuju eskalator untuk naek ke Lantai dua.

 

Saat kami menuju Lantai dua, Kami melewati beberapa konter makanan dan pakaian. Tidak banyak pengunjung hilir mudik dan para pramuniaga juga asyik ngobrol dan bercanda ria. Kami tiba di lantai dua dan Saya mengamati pemandangan sekitar, sementara Istriku mengambil kereta belanja untuk memulai misinya “BELANJAAAA!!!!”.

 

Bisanya saat siang seperti ini pengunjung mulai ramai dan anak-anak juga banyak yang bermain di wahana Anak-anak dan para orangtua menunggu sambil menikmati makan siang. Hari ini berbeda, Wahan permainan sepi tanpa pengunjung, rumah makan hanya berisi pramuniaga ngobrol. Aku masuk lewat satu Lorong untuk melihat-lihat pengunjung. Yaaa, Aku tidak ingin berbelanja. Aku hanya ingin mencari tahu kebenaran informasi yang disebarkan oleh temanku di WAG.

 

Saat Aku berjalan lurus menuju konter buah dan sayuran, Aku berpapasan dengan Store Manager yang jadi trending tersebut. Mungkin karena Aku pakai masker dan topi, sehingga Ia tidak mengenal diriku dan Ia melanjutkan aktifitasnya. Setelah beberapa saat kemudian, Aku berbalik arah mendekati Store manager tersebut.

 

“Assalamuálaikum Mas Danu” Sapaku dari belakang.

“Wa’alaikum salam”Jawabnya sambil berbalik.

Aku buka topiku untuk sekedar memperkuat ingatannya tentang diriku.

“Eeeeeeeeeh , Bapaaaaak!” katanya setengah berteriak.

“Gimana khabarnya Mas Danu” tanyaku ragu.

“Alhamdulillah sehat, Pak” jawabnya.

“Aku lihat ga seperti biasanya, agak sepi” Sambil berjalan aku memulai pembicaraan.

“Apakah Bapak dengar berita tentang Supermarket Kami?” Tanya Mas Danu dan itu membuatku sedikit gugup.

“Ahhhh, engga’. Berita apa yaaa?” jawabku berlaga’ lugu.

“Ituuuu, pesan di Sosmed yang katanya Store manager Supermarket kami terpapar Virus Covid19”.

“Lhaa, Store Managernya khan Saya, Paaak!!!” Lanjut Mas Danu setengah protes.

“Terus gimana ceritanya kok ada HOAX seperti itu?” tanyaku penasaran.

 

Mas Danu menjelaskan bagaimana persaingan bisnis retail yang sangat tajam. Meskipun tingkat kebutuhan masyarakat meningkat selama masa Pandemi ini, Mereka tidak bisa asal hajar dengan mencari untung semata. Ia menjelaskan bagaimana  harus menjelankan konsep pemasaran yang berempathy kepada masyarakat.

 

Ia bercerita strategi bertahan yang dilakukan agar bisa menjaga keseimbangan antara peningkatan pembelian dengan penurunan daya beli masyarakat. Selain itu Mereka juga harus meningkatkan sensitivitas untuk bisa terlibat dalam membantu masyarakat yang dilanda PHK, kekurangan gizi dan lain sebagainya. Mereka melakukan terobosan-terobosan yang berpihak kepada masyarakat. Secara Internal, para pimpinan sepakat untuk dipotong gajinya agar tidak terjadi PHK.

 

Program ini ternyata sukses dan dampaknya adalah kenaikan omset penjualan yang tinggi dan melampaui target yang pernah ada. Manajemen menyadari “Memberi tidak akan mengurangi” malah semakin memberi semakin bertambah rezeki. Program ini tetap kami laksanakan hingga saat ini.

 

Strategi ini tentu membuat pesaing Kami panik, Mereka mencoba meniru dan bereaksi secara vulgar. Ternyata hasil yang Mereka raih tidak sesuai dengan harapan dan Mereka mencoba melakukan strategi yang kontra produktif.

 

“Terus, kenapa ga dilakukan hak jawab di sosmed mas Danu” tanyaku semakin penasaran.

“Saya sudah mengumpulkan data yang diperlukan untuk menindaklanjuti kelakuan Mereka!”

“Mereka sudah sangat keterlaluan dalam berbisnis” Kata Mas Danu dengan wajah memerah.

“Maksudnya gimana mas Danu?” aku semakin tidak mengerti.

“Kami memang salah menggunakan channel untuk menjawab. Harusnya kami juga jawab di Sosmed”

Mas Danu mengatakan dengan nada pelan.

 

“Wuaduh, gawat. Sekejam itukah berbisnis” Kataku dalam hati.

Dan lebih gawat lagi kalo Aku tidak menemui Istriku, untuk mengingatkan kalau keranjang belanjaannya sudah penuh.