Ulasan 3 Versi Film 'Perfect Stranger'

Ulasan 3 Versi Film 'Perfect Stranger'
Perfect Stranger

It's movie time!

Enggak terasa akan ada tujuh hari lagi sebelum akhirnya kembali menjalani aktivitas di kantor. Well, kerjaan memosting di akun instagram kantor enggak masuk hitungan sihBut, let's stop talking about it. I wanna show you my review on one of the new Netflix Movies. Here we go!

Awalnya, saya tertarik dengan satu judul cerita, yaitu "Nothing to Hide". Dengan konsep cerita tujuh orang sahabat dengan tiga pasang di antaranya merupakan pasangan. Mereka memutuskan melakukan sebuah permainan di mana masing-masing ponsel harus diletakkan di atas meja. Kalian pasti bisa menebak kelanjutannya, bukan? (bukaaan...)

Konsep dan premis dari cerita ini bisa dikatakan berhasil membuat saya tetap duduk di atas kasur nan penuh debu di kamar. Setiap jeda masalah yang timbul hingga berbagai fakta seputar pertemanan dan pernikahan di antara mereka menjadikan film ini berhasil menarik emosi penonton secara dinamis. Bagaimana tidak, kedekatan alur cerita dengan perubahan gaya hidup di zaman sekarang tuh deket banget!

 

Dua Pendahulu Nothing to Hide

Setelah berselancar di twitter, saya menemukan bahwa film ini bukanlah yang pertama. Ada dua film dengan versi negara lainnya. Ternyata, Nothing to Hide dibuat ulang dari film Italia besutan Paolo Genovese dengan judul asli "Perfetti Sconoscciuti" atau Perfect Stranger di tahun 2016. Kemudian, disusul kembali dengan versi Spanyol dengan saduran judul yang sama "Perfectos Desconocidos". Bukan hanya tokoh serta alur yang sama, hampir setiap detil cerita dibuat amat serupa. Penasaran?

 

Perbedaan Ketiganya

Karena penasaran, di hari yang sama, saya memutuskan untuk ikut menonton dua film pendahulu Nothing to Hide. Yang terasa jelas dari ketiganya adalah perbedaan dalam membolakbalikkan masalah setiap karakter meski tentulah tidak semua. Latar budaya yang disajikan tiap penulis naskah pun enggak bisa ditampik. Secara singkat, kalian bisa melihat kebiasaan awal temu orang-orang Perancis, Italia, atau Spanyol. Belum lagi sajian yang jelas-jelas di-highlight di film ketiganya. Enggak heran sih, ketiga negara pembuat film ini kental dengan budaya kumpul dan makan besar

 

Naskah Apik dan Epik

Jujur saja, dari ketiga film yang menceritakan polemik 'keasingan' di antara ikatan silaturahmi (sebut saja begitu) disusun rapi lewat set dan percakapan sederhana. Saya bisa bilang, film ini membuktikan bahwa set yang sedikit dapat menghasilkan cerita penuh 'Aha momen' yang tak terduga. Nothing to Hide masih jadi film dengan naskah favorit saya. Tanpa perlu bridging latar belakang mereka masing-masing, set meja makan sudah dirasa cukup untuk membangun konflik film. Namun, film utama dan pertama karya Paolo Genovese takkan luput dari acungan jempol saya. Kekuatan karakternya membuat setiap scene semakin terasa hingga ke akhir cerita.

 

Akhir yang Berbeda

Meski secara umum, format film ini tampak sama, film Perfect Stranger versi Spanyol memiliki akhiran yang agak berbeda. Apa itu? Tonton saja sendiri, ya. He he... . Untuk urusan ending terfavorit, pilihan saya jatuh di versi aslinya. Sebisa mungkin saya objektif menonton ketiganya. Namun, daya tarik tone dan manner film Perancis yang disutradarai Fred Cafaye lebih kuat (coba tebak yang mana..?). Bisa dilihat dari karakteristik tokoh yang di-switch sesudah terpancing konflik satu sama lain.

 

Gerhana Bulan

Satu set waktu yang disorot pada ketiga film ini adalah waktu gerhana bulan. Menurut saya, bukan hanya sekadar pemilihan waktu saja yang 'ah, gerhana bulan pas nih' tetapi ada pesan tersendiri yang ingin disampaikan kepada penontonn. Sempat saya bertanya kepada seorang teman sekaligus teman di komunitas Rumah Remedi, yaitu Bentara bumi mengenai hal ini. Ini twit yang saya ambil :

"Secara sains sih karena tubuh kita kan sebagian besar terdiri dari air. Jadi, pas purnama ada efeknya. Kayak air yang pasang saat purnama."

Jadi, selesai menonton, kalian bisa simpulkan sendiri pesan dan premis utama yang disampaikan pada cerita. 

Secara keseluruhan, dua jempol tetap saya acungkan untuk ketiganya terutama film asli dari trio produksi ini. IMDb dan Rotten Tomatoes pun menjatuhkan pilihan terbaik pada versi aslinya meski Tomatometers Nothing to Hide belum terpampang di website RT.

Jadi, sekian review film dari saya. Semoga bisa jadi salah satu rekomendasi film untuk ditonton selama libur panjang kali ini. Adios...!

---

Nothing to Hide (2018)

Sutradara: Fred Cafaye

Penulis Naskah: Fred Cafaye

Rating dariku: 9/10

 

Perfectos Desconidos (2017)

Sutradara: Toni Bestard

Penulis Naskah: Arturo Ruiz Serrano

Rating dariku: 8.5/10

 

Perfetti Sconosciuti (2016)

Sutradara : Paolo Genovese

Penulis Naskah : Paolo Genovese, Rolando Ravello, Filippo Bologna, Paolo Costella, Paola Mammini

Rating dariku : 8.7/10

---

Sumber gambar: Google