TUTUP PINTUNYA

TUTUP PINTUNYA
koleksi pribadi


Melepaskan sesuatu mungkin harusnya adalah perkara yang sederhana.
Tapi di pikiranku terkadang itu jadi perkara yang sulit dan rumit.

Seseorang berkata padaku
"Tutup saja pintunya. Dan lepaskan. Tidak usah berusaha untuk melupakan. Lama-lama akan hilang sendiri."

Benarkah begitu saja?
Pikiranku membandel

Bagaimana kalau aku masih terus terpikir tentang pintu itu setiap saat?
Bagaimana kalau aku masih ingin membuka pintu itu lagi?
Bagaimana kalau aku malah sibuk menghabiskan waktuku untuk memikirkan apakah menutup pintu itu keputusan yang tepat dan tidak akan kusesali?
Bagaimana kalau aku masih berharap apa yang kutinggalkan di balik pintu itu akan masih ada di sana ketika suatu hari aku ingin kembali membukanya?
Lihat, mengapa aku bahkan masih memikirkan tentang membuka kembali pintu itu?!

Mungkin aku hanya perlu menguatkan diriku untuk melangkah maju.
Satu langkah demi satu langkah toh akan membuatku semakin berjarak dengan pintu itu suatu waktu nanti.
Aku hanya perlu lebih sering melihat ke depan, melihat pada tujuan Diri Sejatiku, walaupun tak apa jika sesekali aku masih ingin menengok ke belakang dan memandang pintu itu beberapa saat.
Asal aku tetap pada tempatku, tetap dengan Diriku.

Mungkin, mungkin suatu hari aku akan tersadar aku sudah berada di tempat yang berbeda dan jauh dari pintu itu.
Begitu jauhnya hingga aku tak lagi bisa membuka pintu itu.

Mungkin, suatu hari nanti aku tak ingin lagi kembali untuk membuka pintu itu.
Aku akan mensyukuri langkah demi langkahku yang membawaku ke tempat saat itu aku berada.
Dan aku akan tersenyum mengingat betapa pintu itu tetap menjadi bagian dari buku cerita hidupku.

Atau mungkin, aku akan berjalan jauh sekali dari tempatku meninggalkan pintu itu.
Jauh dan berbelok-belok.
Hanya untuk menemukan diriku ternyata sampai di depan pintu yang sama lagi.
Bagaimana ini?

"Aku tak akan meninggalkanmu."
Suara-Nya begitu kokoh

"Hidup ini bukan tentang pintu yang benar atau salah.
Melainkan tentang kesadaranmu sendiri.
Bertumbuhlah, temukan kesadaran-Ku di dalam Diri Sejatimu.
Satu pintu bisa jadi pintu yang salah untukmu karena kesadaranmu belum berada di tempat yang benar, bukan karena pintu itu sendiri.
Saat kesadaranmu selaras, ia akan menuntunmu ke pintu-pintu yang tepat untukmu.
Mungkin pintu yang berbeda.
Atau mungkin juga pintu yang sama dengan pintu yang saat ini perlu kau lepaskan.
Tak perlu kau pikirkan.
Urusanmu hanyalah kesadaranmu."

"Berjalanlah, ikuti kesadaranmu, bukan pikiranmu.
Aku tak akan menghakimimu benar atau salah.
Aku akan tetap berjalan bersamamu.
Sedihmu, sepimu, takutmu, tidak kau tanggung sendirian.
Belajarlah melepaskan dan menyerahkannya pada-Ku."

"Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai langkahnya sendiri.
Kamu memiliki hari ini, sadari setiap saat, jalani setiap saat, rayakan setiap saat, syukuri setiap saat. 
Maka kau sudah melangkah untuk hari ini."

"Melangkahlah.. 
Lepaskan pintu yang kau tutup kemarin.
Jika itu memang pintu yang tepat, maka kau akan sampai di depan pintu itu lagi dan pintu itu akan terbuka untukmu.
Jika tidak, maka kau akan menemukan pintu lain yang tepat yang akan terbuka untukmu juga."

"Sekarang, tutup pintunya, lepaskan, dan mulailah melangkah.
Damai sejahtera-Ku menyertaimu selalu."