Trauma Salah Ucap Dalam Berkomunikasi

Semua masalah harusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi. Namun, ada proses komunikasi yang menciptakan trauma. Berikut trauma yang kerap dialami dalam berkomunikasi & cara mengatasinya!

Trauma Salah Ucap Dalam Berkomunikasi

Pernahkah kalian gagap dalam berkomunikasi? Atau kesulitan menjelaskan sesuatu di depan publik? Jika iya, mungkin kamu harus merenung sejenak. Jangan-jangan ada kejadian di masa lalu yang membuatmu kesusahan dalam menyampaikan pendapat. Bisa jadi kamu mengalami trauma salah ucap. Trauma ini berbahaya apalagi jika tidak diatasi dengan baik. Apalagi kamu pebisnis atau seseorang yang mulai memasuki dunia kerja. Sebelum membahas trauma salah ucap, saya akan membahas apa itu komunikasi yang baik.

Menurut saya, komunikasi yang baik adalah pembicara dan lawan bicara bisa menyampaikan pendapat dan keinginannya secara jelas tanpa melukai dan membuat takut satu sama lain. Saya setuju dengan rumus komunikasi yang disampaikan Oh Su Hyang bahwa Communication = Question X Praise X Reaction (C=QXPXR).

Sayangnya, banyak yang mengabaikan poin praise atau pujian dalam berkomunikasi. Sehingga komunikasi akhirnya menjadi tidak baik, saling melukai, dan menciptakan trauma.  Trauma ini dapat berupa seperti trauma salah ucap.

Tidak banyak orang membahas mengenai trauma salah ucap dalam berkomunikasi. Padahal trauma salah ucap kerap dialami oleh banyak orang dan menjadi faktor penghambat dalam penyelesaian masalah. Hal ini tercipta karena tidak adanya afirmasi positif dari lawan bicara, seperti contoh kasus yang kerap terjadi pada seorang Public Relations suatu perusahaan. Ia melakukan kesalahan saat melakukan presentasi dihadapan klien. Kemudian ia mendapat peringatan dan posisinya dipindah ke divisi lain. Semenjak itu Public Relations tersebut memutuskan untuk tidak berbicara atau melakukan presentasi lagi. Padahal ia memiliki potensi menjadi komunikator yang bagus. Jika menyampaikan kritikan, sebaiknya jangan sampai membuat trauma. Hal itu akan membuat komunikasi yang harusnya menjadi solusi untuk memecahkan masalah, malah menjadi penambah masalah.

Lalu bagaimana ciri-ciri orang yang mengalami trauma salah ucap? Menurut Oh Su Hyang, ciri-ciri orang yang mengalami trauma dalam berucap memiliki ciri-ciri seperti ini:

1) Berbicara terbata-bata/ gagap

Jika ada orang yang bilang bahwa orang yang berbicara terbata-bata atau gagap itu sudah bawaan dari lahir, salah besar. Orang yang bicaranya gagap atau terbata-bata kebanyakan mengalami hal traumatis dalam berkomunikasi, seperti diabaikan, tidak didengarkan, diserang secara mental dan fisik.

 2) Suara kecil & bergetar

Orang yang bersuara dan bergetar rata-rata menyampaikan apa yang diinginkan dengan bahasa yang tidak jelas. Sehingga harus mengulang kalimat beberapa kali agar orang mendengarkannya. Mereka yang berkomunikasi dengan suara kecil dan bergetar menandakan bahwa ada hal yang mereka takuti.

3) Tidak berani menatap mata orang lain atau lawan bicara

Jika kamu sering melihat orang yang berkomunikasi denganmu namun tak berani menatap matamu, mungkin orang tersebut takut berhadapan dengan kamu. Rasa takut dalam berkomunikasi ini kemudian membuat masalah yang harusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi, jadi terhambat. Akhirnya komunikasi yang baik tidak bisa tercipta.

Kesalahan dalam berkomunikasi adalah hal yang wajar. Justru untuk menciptakan proses komunikasi yang lebih baik, kita harusnya belajar dari kesalahan sebelumnya. Jika dalam proses komunikasi kita melakukan kesalahan dan malah mendapatkan serangan hingga memicu trauma, hal ini akan menghambat proses komunikasi selanjutnya. Sehingga tidak seharusnya kita menciptakan komunikasi yang memunculkan rasa takut atau trauma.

Jika kamu pernah mengalami trauma akibat salah ucap, ini hal yang perlu kamu lakukan  agar bisa berkomunikasi dengan baik kembali:

1) Seringlah latihan berbicara apapun di depan kaca

Cobalah untuk berlatih berbicara di depan kaca sendiri secara rutin setiap hari paling tidak 5 menit. Cara ini akan membantumu untuk berbicara dengan lancar dihadapan orang lain juga.

2) Percaya diri

Percaya bahwa diri sendiri mampu menciptakan komunikasi yang baik. Jika salah ucap, meminta maaflah! Kesalahan dalam berucap adalah hal yang wajar dilakukan manusia.

Tak hanya itu, trauma dalam berucap yang dialami banyak orang juga kerap membuat bingung lawan bicaranya. Tak banyak yang membahas bagaimana cara menghadapi orang yang memiliki trauma salah ucap dalam berkomunikasi. Nah, berikut beberapa tips yang perlu kamu lakukan saat berhadapan dengan orang yang memiliki trauma salah ucap!

1) Berikan senyuman

Ada seorang profesor yang memiliki prestasi luar biasa dan terkenal. Namun ia kerap memberikan tatapan galak dan menaikkan satu sudut di bibirnya saat menjadi dosen. Ia dikenal galak oleh mahasiswanya karena masalah komunikasi dan tidak pernah tersenyum. Menurut Prof. McConell dari jurusan Psikologi, Universitas Michigan bahwa senyuman penting dilakukan dalam berkomunikasi untuk menciptakan koneksi di awal. Bagaimana kita menjadi pengajar yang baik, jika kita tidak mampu menciptakan koneksi dengan yang baik juga dengan murid?

2) Berikan pujian atau afirmasi positif.

Tak banyak yang tahu jika memberi pujian adalah pelumas terbaik dalam komunikasi. Pujian juga mampu memperbaiki hubungan dan merangsang motivasi antara pembicara dan lawan bicara. Tapi jangan memuji berlebihan agar tidak terkesan seperti penjilat. Memujilah secara realistis! Utarakanlah pujian yang jelas dan spesifik sehingga lawan bicara dapat mengerti dan merespons. Dampak positif menerapkan komunikasi positif dengan pujian juga dirasakan oleh perusahaan kosmetik Mary Kay Inc yang awalnya merupakan perusahaan kecil lalu melejit menjadi sukses dan mendunia. Perusahaan tersebut sukses karena menetapkan pujian sebagai budaya bisnis mereka.

3) Bicara dengan jelas

Sampaikan hal-hal yang ingin kamu komunikasikan dengan jelas apalagi dihadapan lawan bicaramu yang memiliki masalah trauma dalam berkomunikasi. Jika hal-hal tersebut tidak disampaikan dengan jelas maka hal-hal yang disampaikan akan kehilangan nyawa dan efeknya seperti roti selai coklat yang didalamnya tidak ada selai coklatnya. Maka sampaikanlah semuanya secara jelas agar lawan bicaramu yang memiliki masalah trauma dalam berkomunikasi mengerti kemauanmu dan tidak terjadi miskomunikasi.

4) Gunakan gestur tubuh saat berkomunikasi

Gunakan gestur yang tepat untuk mendukung dan meyakinkan ucapanmu.Seperti tertawa saat kamu menceritakan hal yang menyenangkan atau melakukan gerakan tangan saat menerangkan suatu hal. Gestur tubuh juga membantu mereka yang memiliki trauma dalam berucap menjadi mudah menangkap hal yang kamu bicarakan. Kamu juga akan terlihat sebagai komunikator handal jika pintar menempatkan gestur tubuh saat berkomunikasi. Seperti kata Tonya Reiman dalam bukunya The Power of Body Language bahwa orang yang memakai gestur berkesinambungan dan mirip dengan pola bahasanya akan terlihat seperti komunikator handal dengan wawasan.

Semoga artikel ini membantu kamu yang memiliki masalah dalam berkomunikasi! Yuk ciptakan komunikasi yang sehat dan baik! Komunikasi harusnya menyelesaikan masalah. Bukannya menambah masalah baru lagi dengan menciptakan trauma dan ketakutan. Apalagi dalam membangun bisnis atau membangun usaha, komunikasi adalah hal yang penting.