TERPELAJAR DAN TERDIDIK

Mendidik memiliki arti yang berbeda dengan mengajar. Mendidik berarti memproses agar menjadi baik, sedang mengajar adalah memproses agar seseorang menhadi pintar. Banyak orang baik namun tidak pintar, dan juga sebaliknya.

TERPELAJAR DAN TERDIDIK
Bergelar belum tentu Terpelajar dan terdidik

Masihkah kita ingat makna mendidik dan mengajar? Mendidik memiliki arti yang berbeda dengan mengajar. Mendidik berarti memproses agar menjadi baik, sedang mengajar adalah memproses agar seseorang menhadi pintar. Banyak orang baik namun tidak pintar, dan juga sebaliknya.

Banyak lembaga pendidikan yang memilih kurikulumnya untuk mencetak out-put menjadi orang yang pintar(terpelajar) bukan orang yang baik.(terdidik). Banyak para orang tua mencari menantu orang-orang yang pintar bukan orang yang baik. Perusahaan, Dinas, lembaga membuka lamaran pekerjaan untuk calon-calon yang terpelajar bukan yang terdidik.Syarat untuk dapat diterima di suatu pekerjaan adalah tingginya nilai IP bukan tingginya nilai moral.

Di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang meyakini jika suatu permasalahan bangsa ini akan dapat teratasi oleh orang-orang terpelajar (orang pintar) bukan orang yang terdidik. Banyak institusi pemerintah, perusahaan, dan lembaga yang bangkrut, ratusan milyard lenyap dan puluhan trilyun hilang karena di dalamnya terdapat orang-orang pintar yang tidak terdidik.

Mewujudkan manusia terdidik ternyata tidak sekedar membalikkan telapak tangan harus membutuhkan proses waktu yang panjang. Bahkan untuk mewujudkan bangsa yang terdidik akan membutuhkan waktu satu kurun waktu atau satu generasi. Adapun untuk mencetak orang pintar dan terpelajar tidak terlalu butuh waktu panjang, bahkan dapat menggunakan jalan pintas. Tidak aneh jika banyak orang tua yang mengirim anaknya ke bimbingan belajar agar pintar. Banyak pemimpin yang lahir karena pandai orasi yang penuh penciteraan. Banyak pejabat yang pintar dilahirkan dari kebijakan politik sedikit melalui proses terdidik.

Orang terdidik butuh proses waktu yang panjang dan penuh kesabaran, sehingga banyak orang yang tidak menyukainya. Berhasil menjadi pejabat, pemimpin, kepala dinas, kepala sekolah dan sebagainya tentu sangat terpelajar. Namun hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat nista manakala banyak tindakan-tindakannya yan menyimpang dari norma hukum dan norma kemanusiaan. Saat ini kita banyak memanen insan hasil pengajaran dan sedikit dari hasil pendidikan. Akibatnya banyak orang pintar tetapi kurang terdidik.

 Pandemi Covid 19 telah mewabah ke seluruh lapisan masyarakat dunia, termasuk negara Indonesia. akibat dari wabah covid 19 menyebabkan porak porandanya sistem kehidupan berbangsa, bermsyarakat, sosial budaya. Sistem Pendidikan Nasional yang selama ini berjalan normal sesuai standar nasional pendidikan karena adanya wabah covid 19 maka terjadi disrupsi besar-besaran. Proses pendidikan dan pengajaran yang biasa dilakukan di sekolah oleh guru terpaksa harus dilaksanakan secara jarak jauh atau dari rumah. Proses pendidikan dan pengajaran yang biasa dilakukan oleh guru telah bergeser dilakukan oleh orang tua siswa. Proses pendidikan yang biasa dilakukan oleh guru untuk pembentukan karfakter siswa saat ini tidak dapat mutlak dilaksanakan. Guru seolah dituntut hanya memberikan materi atau bahan ajar serta tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa di rumah. Sedangkan pengembangan karakter siswa telah terabaikan. Meskipun secara materi pelajaran tersampaikan kepada siswa namun proses pendidikan telah hilang. Ibaratnya pendidikan dengan sistem daring atau belajar dari rumah itu seperti mengisi botol kosong saja. Siswa dijejali materi dan tugas tanpa ada keseimbangan proses mencerdaskan rasa. 

Pendidikan di saat pandemi covid 19 hanya mengejar target proses pengajaran dan  mengabaikan makna mendidik, Fungsi  saka guru tri centra pendidikan rumah, sekolah dan masyarakat telah roboh. Rumah yang mestinya tempat pembentukan karakter siswa, dikembangkan oleh sekolah, dan diterapkan di masyarakat sekarang talah terjadi tumpang tindih fungsi. Kondisi pendidikan seperti ini jika berlangsung lama maka akan berdampak kepada sumber daya manusia yang dihasilkan. Generasi yang dilahirkan hanyalah generasi hasil pengajaran yang hanya mengandalkan otak namun jauh dari budi pekerti luhur, Padahal permasalahan negeri ini akan dapat diselesaikan oleh orang-orang yang baik yang terdidik, bukan orang terpelajar yang pintar saja. Semoga Covid 19 bukanlah konspirasi penjajahan akhlak bangsa Indonesia, sehingga pandemi segera teratasi menuju kehidupan normal baru yang menekankan nilai-nilai peradaban bangsa.