Terjebak Nostalgi

Terjebak Nostalgi

    Deretan koleksi KARTU POS dari beberapa negara yang pernah kukunjungi berjejer rapi menggantung di dinding kamarku. Sejenak, memoriku melesat ke kenangan indah saat menapaki negara-negara tempat muasal kartu pos tersebut untuk pertama kalinya. Seperti mimpi saja, bahagia sekali rasanya. Mengingatkanku momen saat menonton pertunjukan cabaret di Pattaya bersama keempat teman kantorku yang berujung dengan membayar mahal hanya untuk sekedar berswafoto dengan si talent cantik yang (maaf) seorang waria. Aku masih ingat betul temanku yang tidak berhenti mengomel sampai kami menaiki mobil pulang. Sementara gambar Menara petronas di Kuala Lumpur Malaysia itu mengingatkan momen honeymoon kami yang syahdu di negeri Jiran setahun lalu. Indahnya Kota Brussel, ibukota negara Belgia mengingatkanku pada waffle hangat dengan topping coklat dan stroberi yang kami nikmati di depan patung Maneken Pis yang terkenal itu. Juga dengan menahan hawa dingin yang menusuk pasca hujan mengguyur kota. 
    Sementara kartu pos bergambar Duomo di Milano membesit kenangan girangnya hati saat pertama kali menjejakkan kaki di tanah Eropa saat turun dari pesawat di Bandar Udara Milano Malpensa. Yang diujung itu, yang bergambar Chapel Bridge adalah kartu pos paling mahal yang kupunya. Maklum, Swiss dengan mata uang Swiss Franc-nya memang memiliki nilai tukar yang lebih tinggi dibandingkan Euro. Ah, negara yang laksana titisan surga di dunia. Indah betul! Kartu pos bergambar Menara Eiffel selalu membuatku berbunga-bunga. Pasalnya Paris memang seromantis itu di setiap sudutnya. Dan satu lagi kartu pos yang paling memorable yang kupunya, sebab untuk mendapatkannya aku harus mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan. Ya, aku nyaris dirampok, atau istilah turisnya kena scam saat berjalan sendirian di Volendam, Belanda untuk menyusul kawan-kawanku yang lebih dulu meninggalkanku. Aduh rasanya malas untuk mengingat pengalaman pahit itu.
    Seperti halnya malasnya pikiran ini kalau harus mengingat kapan aku bisa mendorong koperku dan  traveling lagi di tengah situasi yang makin tidak pasti ini. Hanya tumpukan BUKU di atas meja yang kini menjadi teman karibku. Menenggelamkan diri dalam khayal dan fiksi yang disajikan dalam lembaran-lembaran buku, membuatku sedikit terhibur. Itu pun baru bebas aku lakukan selepas bayi kecilku terlelap tidur karena di siang hari setumpuk pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah lain menanti untuk dikerjakan di masa WFH ini. 
    Kubuka LAPTOP untuk mengecek kembali beberapa pekerjaan kantor yang belum tuntas. Layar desktop menampilkan foto akad nikahku satu setengah tahun lalu. Berbalut busana putih kami tersenyum menghadap kamera. Satu foto dengan berjuta rasa, sebab si empunya, yaitu suamiku sedang berjarak ribuan kilo jauhnya. Ya, kami memang menjalani Long Distance Marriage karena suami harus berdinas di pulau seberang. Situasi saat ini pun semakin mengurangi frekuensi pertemuan kami. 
    Bukannya menyelesaikan apa yang diniatkan di awalnya, fokusku justru berbelok. Malam ini rasanya ingin kudedikasikan untuk kenangan saja. Jadi kuputuskan untuk membuka HARDISK berisi ribuan foto-foto lama. Hardisk baru yang kubeli setelah untuk kedua kalinya hardisk lamaku jatuh dan rusak sehingga data pun tidak dapat diakses. Untunglah masih ada jasa servis yang bisa mengembalikan data berhargaku walaupun harus merogoh kocek yang sangat dalam untuk membayar kecerobohanku itu. Data yang sesungguhnya hanya berisi foto-foto kenanganku. Sebab itulah yang paling berharga dan tidak ternilai harganya. Mana bisa diulang lagi momennya bukan?
    Aku memandangi CERMIN di dalam kamarku yang seakan berbicara. Hanya tampak wajahku yang lesu pilu. Mau sampai kapan mengeluh dan terjebak nostalgi? Sudah bukan masanya lagi untuk mengulang-ulang toxic words yang justru berimplikasi negatif buat kewarasan di masa ini. Di sisi lain, bukan juga saatnya untuk membentuk toxic positivity dan seolah sedang baik-baik saja padahal tidak. Tumpahkan rasa itu, merdekakan rasa itu. Kamu berhak untuk melepas beban dan membahagiakan diri dengan pelarian produktif apapun. Jangan melulu menyalahkan keadaan, tapi perbaiki pola pikirmu. Kobarkan lagi asamu. 
    Ah mulai melantur. Sepertinya sudah saatnya mengistirahatkan pikiranku yang mulai berkelana kemana-mana. BANTAL di hadapanku seolah sudah melambai mengajakku terbuai dengannya. Good night universe!