Tentang Ketakutan Akan Laut dan Keagungan Gunung

Tentang Ketakutan Akan Laut dan Keagungan Gunung

​​​​​​Setelah ledakan besar dan proses yang begitu rumit, yang tidak akan pernah kita pahami secara pasti. Sekitar tiga koma delapan miliar tahun lalu, di planet bumi, molekul tertentu bersatu padu membentuk struktur-struktur besar dan rumit yang disebut organisme. Dan ratusan juta tahun yang lalu, melalui berbagai macam mutasi dan evolusi yang sangat panjang nan melelahkan, leluhur kita berhasil beradaptasi dan merangkak keluar dari laut.

 

Suka atau tidak, sepertinya kita memang berasal dari laut. Sebenarnya masih hipotesa, belum menjadi fakta yang nyata. Tapi faktanya, hipotesa itu sulit diterima, memang. Namun, Sains membuktikan ada semacam pertalian peluh dan darah yang panjang, terjadi di sana.

 

Kisah tentang spesies penguasa bumi, khususnya daratan yang justru berasal dari laut adalah pil pahit yang sulit ditelan. Sungguh sakit mendengar bahwa pada suatu waktu, sistem pernapasan kita adalah insang sebelum paru-paru. Begitu pula dengan hiruk-pikuk komet, meteor, ledakan dan asal mula kehidupan itu sendiri. Sekali lagi, sulit untuk menerima gagasan bahwa laut adalah tempat berpulang yang paling purba.

 

Tapi entahlah, lagipula ini bukan tulisan tentang Evolusi maupun Biologi. Bukan juga tulisan tentang laut. Karena sejatinya, aku sampai sekarang masih belum bisa berenang, juga mabuk laut (juga darat), bahkan memiliki phobia pada laut dan air yang banyak. Tapi dari kedalaman skeptis dan sisi akademis, laut memang menyimpan misteri dan jejak historis yang dalam, sedalam palung. Menarik untuk dikaji, asik untuk diselami.

 

Namun apabila aku dihadapkan pada pertanyaan yang sedikit klise berbunyi, "Lebih suka laut atau gunung?", dan aku harus memilih salah satunya maka aku akan memilih gunung.

Meskipun nanti, di masa depan, Sains dapat membuktikan secara gamblang bahwa manusia berasal dari laut, maka aku akan tetap menanggap gunung sebagai rumah. Selain karena rumahku yang berada tepat ditengah-tengah Gunung Salak, dan Gunung Gede Pangrango, aku menganggap gunung sebagai rumah karena aku merasa seperti di rumah saat di gunung. Rumah disini, merujuk pada perasaan atau lebih tepatnya kerinduan dan rasa "pulang". Semacam "Hiraeth", kalau kata orang-orang dari negara Wales.

 

Sejauh yang aku rasakan, gunung memang memiliki daya tarik tersendiri yang tidak dapat aku jelaskan. Seperti magnet, yang menarik tubuhku agar sejenak merenovasi otak di keheningan dan kedamaian hutan. Dan katanya, bagi para pencinta gunung dan alam, selalu ada bunyi lonceng yang berdentang memanggil-manggil mereka dari puncak sana.

 

Namun sebenarnya, mendaki gunung tidak perlu alias tidak wajib dan harus sampai puncaknya. Puncak itu "bonus", dan nikmat setelah bermandikan keringat justru adalah "klimaks" yang sesungguhnya. Di sisi lain, kesunyian dan kesegaran alam yang dirasakan ketika di perjalanan menuju puncak juga adalah klimaks.

 

Bayangkan saja, setelah sekian lama mengalami depresi dan ereksi di sempit nan kejamnya kehidupan kota, kita dapat merasakan udara segar di alam yang terasa seperti alunan musik, dengan frekuensi Solfeggio. Begitu menentramkan raga dan jiwa. Namun tetap saja, "musik" akan tetap dianggap dan diperlakukan seperti tinja, oleh orang-orang yang sibuk berlari dan tidak bisa menari.

 

Tapi yang terpenting dari gunung adalah Sisifus. Ia yang mendorong batu menuju puncak, lalu jatuh dan mengulanginya lagi, hingga mampu merubah pandanganku tentang makna kehidupan. Bahwa hidup memanglah absurd, sialnya kita dikutuk untuk menjalani kehidupan yang kaotis, dan hanya dengan cinta beserta ketulusan, yang mampu membuat kita menghidupi hidup.

 

Dan mendaki gunung adalah simbol paling filosofis untuk perjuangan dan penaklukan. Perihal mempecundangi rasa letih, merebut kembali kehidupan yang telah dirampas oleh takdir dan waktu. Waktu-waktu saat kita terlalu payah dan lelah, bahkan untuk menarik oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida lalu berdikari. Berdiri di kaki sendiri.

 

Kata-kata di atas mungkin terlampau hiperbolis, tanpa ada hubungan nyata dengan fisologis. Tapi mendaki gunung adalah perihal empiris, yang tidak akan pernah dimengerti oleh orang-orang yang terlalu rasionalis. Juga mereka yang membeci kesunyian, kesendirian, kekosongan, dan terlanjur menjadi Homo Homini Socius (senang bergerombol) apalagi Homo Homini Lupus.

 

Sebab gunung, adalah puncak dari hasrat manusia akan keindahan dan seni yang tidak dapat dibahasakan. Setidaknya, memberi perspektif pada kita semua bahwa kecantikan dan kegagahan dapat melebur menjadi satu, dalam bentangan alam. Dan metafora dari keanggunan hingga kebijaksanaan tidak hanya berasal dari wanita atau pria, tetapi juga alam raya.

 

Membuatku mengerti, bahwa tidak begitu penting kita berasal dari laut, darat, surga, neraka, cahaya atau kegelapan, selama kita dapat menghidupinya. Tapi menjadi penting, ketika kita sudah terlanjur dungu, dengan menganggap bahwa alam diciptakan hanya untuk dieksploitasi dan diperkosa. Apalagi menjadikan bumi sebagai tempat membuang sampah, dan berbagai sumpah serapah secara massal dan sembarangan.

 

Terakhir, ketika dehumanisasi dan demoralisasi terjadi secara kolektif, yang menyebabkan vandalisme makna, dimotori oleh egoisme menjadi pemuncak rantai makanan hingga menabuh genderang kerusakan ekosistem stadium akhir, maka sepertinya laut dan gunung akan murka lalu memulai hari akhir. Mengakhiri peradaban dan kisah dari semua yang bernyawa, lalu menyirat simpulan pendek dari tulisan ini:

 

"Manusia adalah bukti paling nyata bahwa tidak semua kehidupan dan petualangan itu menghasilkan manusia, apalagi manusia dewasa."

Sekian, semoga semua makhluk berbahagia!