Tentang Amador dan Benedicta

Tentang Amador dan Benedicta
Sumber imaji: instagram Europe on Screen
Fire will Come (2019), dari Spanyol dengan judul asli O que arde, adalah film keenam yang saya tonton di festival film online Europe on Screen 2020—berlangsung pada 16-30 November 2020. Berbahasa Spanyol, dengan sutradara Oliver Laxe. Durasi 90 menit.
 
Amador Coro (diperankan oleh Amador Arias), residivis dengan latar belakang kejahatan pembakaran, keluar dari penjara setelah selesai menjalani hukumannya. Ia kembali ke rumah ibunya, Benedicta (aktris Benedicta Sánchez), petani renta dan miskin yang tinggal di rumah sederhana di sebuah daerah pedesaan nan sangat dingin.
 
Tak mempunyai pekerjaan yang menghasilkan uang, Amador membantu ibunya. Melakukan pekerjaan sehari-hari demi bertahan hidup untuk mereka berdua. Semisal, meggembalakan dan mengurus sapi sumber susu mereka. Atau, lainnya. Amador yang cenderung tertutup, tak pun hendak bekerja pada tetangganya yang tengah membangun kembali property lama. Yang rencananya akan disewakan ke turis.
 
Amador menjalani saja hari-harinya dengan melakukan berbagai pekerjaan di rumah. Atau, mengantar ibunya dengan mobil milik si ibu. Pun menemani sang ibu ke ladang atau ke mana saja.Duo ibu dan anak ini, kadang bertiga dengan Luna si anjing, tampak hidup terasing dari penduduk desa lainnya. Mungkin karena latar belakang Amador yang residivis. Mendorongnya untuk menjaga jarak.
 
Lelaki itu sama sekali tak berusaha untuk bergaul dengan sesama penduduk. Kalau pun pergi minum bir ke bar terdekat, ia menikmainya sendirian saja di tengah hingar-bingar orang di bar. Begitulah ia menjalani hidupnya yang sepi, dengan tenang dan damai. Sampai terjadi kebakaran yang membakar hutan dan sebagian desa di dekatnya. Amador langsung dituduh sebagai pelakunya karena masa lalunya.
 
Fire will Come adalah film yang terasa dan terlihat cukup muram. Suasana muram dan suram demikian terbangun oleh kehadiran warna-warna yang cenderung gelap dan kelam. Warna-warna monokrom hitam, putih, dan abu-abu.
 
Mood kesuraman yang terbangun oleh warna-warna kelabu itu, terlihat jelas baik di warna-warna pada pakaian, maupun pada pemandangan sekitar. Pemandangan yang lebih sering diselimuti oleh kabut daripada tidak. Di saya, kesuraman ini tersampaikan sebagai rasa dingin yang bahkan bagai menusuk tulang. Kesan dinginnya memang sungguh kuat.
 
Demikian pula dengan mood tokoh-tokohnya, terutama duo Benedict dan Amador. Berdua, mereka jalan kaki bersama menunju tujuan tertentu. Atau, duduk diam memandang entah apa. Kadang berbicara yang tak dapat didengar oleh penonton. Membuat film ini terasa sangat misterius.
 
Tambah misterius karena saya tak paham bahasa Spanyol. Oh, tapi di film ini ada subtitle berbahasa Inggris untuk membantu yang tak paham bahasa Spanyol sih.
 
Hanya pada adegan kebakaran saja kita bisa melihat warna kuning kemerahan yang terang. Tapi, warna cerah ini adalah api yang sedang mengamuk. Tak membawa keceriaan sama sekali. Merangsek apa saja di depannya. Panasnya membunuh segala mahluk hidup.
 
Meski tampak begitu suram, buat saya film ini menarik untuk ditonton. Sebagaimana hidup kan, ada juga yang muram dan suram. Pasti banyak orang yang tak sependapat dengan saya. Terserah saja. Saya juga yakin banyak orang, terutama yang suka dan sangat akrab dengan film-film Hollywood yang bergerak cepat dan penuh action, akan berpendapat bahwa film ini membosankan.
 
Bahkan, akan menganggap ceritanya berjalan lambat sehingga tak ada daya tariknya sama sekali. Pendapat yang kemungkinan akan keluar karena, selama hampir satu jam sejak film dimulai, tak ada adegan yang dapat membangkitkan adrenalin. Semua sepertinya datar-datar saja. Ditambah, film berakhir begitu saja, tanpa keputusan atau kejelasan apa penyebab kebakaran yang sesungguhnya.
 
Pendapat-pendapat seperti itu biasanya cepat terdengar bila festival dilangsungkan secara fisik. Di mana kita bisa bertemu langaung dengan sesama penonton. Kenal atau tak kenal. Seseorang pasti akan segera memulai pembicaraan tentang betapa membosankannya film Fire will Come. Saat kita kebetulan bekumpul bersama sambil menunggu pemutaran film berikut.
 
Terserah sajalah itu. Sementara saya sih menikmati apa adanya. Mencoba memahami susahnya kehidupan petani miskin, dan ikut kedinginan bersama Amador dan ibunya, Benedicta. Tak terbayangkan bagi saya, bagaimana bila setiap malam tidur harus memakai berlapis pakaian dan selimut tebal seperti Bendicta. Sudut hangat di rumah itu hanya ada di dapur ketika kompor menyala.
 
Buat saya, sungguh tak soal bagaimana film ini berakhir. Namun, film ini meninggalkan dua tanda tanya besar dalam kepala saya. Pertama, apa yang terjadi dengan Luna, anjing Benedicta? Ia terakhir terlihat berlari mengikuti mobil yang dikendarai oleh Amador, yang beranjak meninggalkan rumah. Selang beberapa saat kemudian, Benedicta yang sedang bekerja di rumah, tiba-tiba menyadari heningnya suasana tanpa Luna.
 
Apa yang dirasakan oleh Benedicta ini adalah sebuah perasaan yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang memiliki binatang peliharaan. Dan, terikat perasaannya dengan si binatang. Rasa seperti kehilangan sesuatu, yang muncul mendadak di hati. Mendorong Benedicta untuk keluar rumah dan memanggil-manggil Luna. Namun, tak pernah ada penjelasan apa-apa tentang nasib Luna. Saya sungguh khawatir dan penasaran.
 
Tanda tanya kedua adalah, pada adegan ketika seorang petugas pemadam kebakaran (PMK) mengosongkan sebuah desa yang dekat dengan hotspot kebakaran. Dalam sebuah rumah, si PMK menemukan dua ekor kambing di dapur. Dan, sebuah foto yang sudah robek sebagian (mungkin dimakan kambing?). Si PMK memungutnya, dan memperhatikan foto tersebut. Adegan selesai di situ, tanpa ada penjelasan.
 
Omong-omong, ada tambahan catatan lain yang menarik tentang film ini. Tokoh Benedicta, ibu Amador, diperankan oleh Benedicta Sànchez yang berusia 84 tahun. Untuk perannya di film ini, Sànchez memperoleh piala Goya, sebuah ajang penghargaan film tertinggi di Spanyol. Yang paling menarik adalah kategorinya, sebagai pendatang baru.
 
Fire will Come merupakan film pertama Sànchez. Penampilannya memang bagus. Penghayatan pada perannya begitu dalam. Saya bahkan sempat menduga, mungkin dia memang perempuan petani sejati yang dicabut untuk main di film ini. Aktingnya memang sangat meyakinkan.
 
Ternyata, saya salah telak. Karena, Benedicta Sànchez dalam kehidupan nyata adalah seorang fotografer.