Tenggelam

Terinspirasi dari kisah nyata.

Tenggelam

 

Aku menonton berita di Televisi.
Aku mengenali sosok di layar ini.
Bukan karena sosok itu terkenal di seantero negeri.
Tapi aku sudah mengenalnya sejak masa kecil kami.
Ingatanku melayang ke masa kecil kami.

Kami tinggal di Austria, di dekat sungai Passau. Saat itu masih liburan tahun baru 1894.
Cuaca hari itu buruk. Di luar salju sudah tebal. Sebagian air di sungai Passau sudah membeku menjadi es. Tapi cuaca tidak menghalangi anak-anak bermain di dekat sungai.
Sekelompok anak bermain cowboy dan Indian.
Tiba-tiba ada seorang bocah berusia sekitar 4 tahun yang jatuh ke sungai, hampir tenggelam.
Aku langsung berlari menyelamatkan anak itu. Aku juga masih kecil, tubuhku hanya sedikit lebih besar dari anak itu. Tapi untunglah aku mampu menyelamatkan anak itu.
Aku segera mengenali anak itu. Kami memanggilnya Adi. Orangtuanya menyewa rumah pada orangtuaku.
Adi tidak menangis, diam saja.
Mukanya sedih. Bukan takut.
Mukanya memang selalu sedih dan murung.
“Kenapa kau selamatkan aku?” tanya Adi.
“Aku melihatmu tenggelam, tentu saja aku selamatkan!” kataku.
“Aku tidak mau hidup, aku mau mati saja!” katanya.
“Aku tidak tenggelam, Aku menenggelamkan diri!” katanya.
Aku keheranan. Umurnya baru 4 tahun, kenapa sudah mau bunuh diri?

“Tiap hari aku dipukulin ayahku, dipaksa kerja berat. Ibuku cuma sibuk menangisi kakak-kakakku!” katanya.
Aku sering mendengar ayahnya memukuli dan memaki-maki Adi. Ketiga kakaknya sudah meninggal dunia karena sakit. Kakak laki-lakinya kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kekejaman ayah mereka.
Ibunya juga selalu murung. Mungkin karena kehilangan keempat anak-anaknya, ditambah memiliki suami pemarah.
“Adi, jangan bunuh diri! Kamu harus kuat! Nanti kalau sudah besar kamu bisa jadi orang hebat!
Jadi orang kuat yang ditakuti orang! Tidak akan ada lagi yang berani memukuli kamu!” kataku.
Sejenak matanya berbinar. Lalu kembali murung.


Ketika Adi berumur 10 tahun, adiknya meninggal.
Adi seperti terpukul. Setiap hari Adi selalu berkunjung ke kuburan adiknya di dekat rumah kami. Kelakuannya menjadi aneh. Dia bisa menghabiskan waktu sepanjang hari, hingga larut malam, termenung di kuburan.
Kadang-kadang kulihat dia berbicara sendiri pada pepohonan.
Kadang-kadang dia termenung di sungai.
 

Saat kami remaja, aku masuk ke Seminari. Aku sudah bercita-cita untuk menjadi Pastur sejak kecil.
Adi mendaftar di Sekolah Seni. Adi sudah bercita-cita menjadi pelukis sejak kecil.
Namun sayang Adi gagal diterima di Sekolah Seni di Vienna. Dua kali gagal test masuk.
Dia masih berusaha menjadi seniman. Tidak memiliki pekerjaaan lain. Dia menjadi miskin.
Akhirnya Adi terlunta-lunta menjadi tuna wisma.
Adi sering datang ke gereja untuk mendapatkan pembagian makanan gratis. Bukan untuk beribadah.

Setelah bertahun-tahun menjadi tuna wisma.
Di Tahun 1913, Adi pindah dari Vienna ke MunichJerman.
Adi meninggalkan Austria untuk menghindari wajib militer Austria.
Tapi setahun kemudian, entah kenapa, kudengar Adi malah masuk ke militer Jerman.
Kabarnya karirnya mulai membaik.
Namun Adi yang dulu vegetarian, tidak pernah menyentuh alkohol, tidak merokok. Dan sangat mementingkan kesehatannya, malah jatuh kecanduan narkoba.
Lama setelah itu aku tidak mendengar kabarnya lagi.


Setelah Adi menjadi pemimpin terkenal. Adi menjadi pembenci gereja.
Adi menganggap gereja bertolak-belakang dengan pandangan politiknya.
Prinsip hidup Kristen yang saling memaafkan dan membantu sesama adalah suatu kelemahan di mata Adi. Adi ingin bangsa Jerman kuat, tidak lemah.
Ayahnya juga dulu membenci agama, walaupun ibunya katolik.
Adi yang dulu membenci ayahnya, kini menjadi sama dengan ayahnya.
Sama-sama pembenci agama dan pemarah.
Mungkin malah lebih parah.
Kalau korban ayahnya hanya di lingkungan keluarga.
Karena Adi memiliki kekuasaan, korbannya tersebar di dunia.
Lebih dari 20 juta orang meninggal, menjadi korbannya.

Kurasa tidak mudah hidup seperti Adi. Sejak kecil sudah dianiaya ayahnya sendiri.
4 saudaranya meninggal. Gagal meraih cita-citanya menjadi pelukis. Menjadi tunawisma. Dan entah apalagi kepahitan hidupnya.
Aku telah menyelamatkan raganya dari tenggelam.
Tapi terlambat menyadari, bahwa jiwanya-lah yang tenggelam perlahan-lahan. Aku menyesal tidak dapat menyelamatkan jiwanya.
Maafkan aku, Adi!

“Pastur Johann Kuehberger! Anda melamun?” panggil seorang Pastur, rekan kerjaku, membuyarkan lamunanku.
“Itulah akhir hidup orang yang kejam, Pembantai jutaan orang!” kata Pastur itu geram, mengomentari acara di televisi, yang masih menyiarkan berita tentang kematian Adolf Hitler.
Mungkin dunia bersorak dengan kepergian Adi. 
Keinginan balas dendam mereka terpenuhi.
Aku menyeka air mata di pipi.
Selamat jalan, Adi!
Maafkan aku, Adi!

 

Catatan: Terinspirasi dari kisah nyata.
Pastur Johann Kuehberger pernah menyelamatkan Adolf Hitler ketika mereka masih kanak-kanak. Saat itu Hitler nyaris tenggelam.