Teke Maling Kucing

Teke Maling Kucing
"Stop!" teriak saya.
 
Di tengah jalan di depan sepeda motor kami, seekor anak kucing tergeletak tidur. Sahabat saya sih sudah hafal benar dengan kebiasaan saya memungut anak kucing begini.
 
Cepat saja saya turun dari motor, memungut si kucing, lalu melompat balik ke motor yang mesinnya tak dimatikan. Di latar belakang ada terdengar suara tangis anak kecil. Disusul suara seorang bapak memanggil-manggil. Ah, apa urusan? Saya minta sahabat saya untuk segera menjalankan motor kembali.
 
Tapi, si sahabat malah mematikan mesin motornya. Lalu, menengok ke saya. Mukanya merah padam. Heran saya melihat tanda-tanda amarah di wajahnya.
 
"Tarok lagi kucingnya. Ada yang punya! Anaknya sampai nangis tuh!!!" perintahnya dengan geram.
 
Hah!?
 
Barulah saya menangkap apa kata si bapak di latar belakang tadi: "Itu kucing saya!!!"
 
Hehe, pantesan kucingnya cakep. Ya sudah, saya letakkan lagi saja anak kucing itu. Di pinggir jalan nan berumput.
 
Bagi saya, kejadian itu lucu. Tapi, yang paling membuat saya tak kunjung berhenti terpingkal-pingkal adalah sikap sahabat saya. Dia marah!!! Marah besar!
 
"Malu gue! Masak kayak gini dianggep maling kucing!" katanya sambil menggebuk dadanya sendiri.
 
Dia itu cowoq berbadan kekar karena hobi panjat tebing. Potongan rambut macam teke. Profesi fotografer. Bajunya hitan-hitam. Sepatunya but koboi macam Marlboro Man. Naik motor model off-road.
 
Makin keras saja tawa saya. Kena deh dikacangin dia selama seminggu.