Tante Mbok Ar

Tante Mbok Ar
Album kenangan almarhum Ibu bersamaku saat beliau menikah untuk kedua kalinya

Panggilan yang unik memang. Tante = bibik, Mbok = panggilan untuk kakak perempuan bagi orang Bali, Ar adalah singkatan dari namanya Ardari. Itu adalah panggilan saya untuk almarhum Ibu saya. Saya tidak tahu siapa yang mengajari saya memanggilnya dengan panggilan seperti itu dan sejak kapan panggilan itu menjadi panggilan sayang saya padanya. Diapun tidak pernah protes saya panggil dengan panggilan itu. Mungkin buatnya, itu adalah panggilan spesial dari sang buah hati, satu - satunya anak perempuan yang dimilikinya sepanjang hidupnya yang dia dapatkan dengan banyak luka dan air mata. Tak banyak cerita yang bisa saya tulis tentang sosoknya. Selain ketegarannya dalam menerima kodrat sebagai wanita kedua hingga akhirnya menjadi seorang single parent. Karena waktu saya bersamanya hanya dari dalam perut sampai saya berumur 4 tahun. Tentu tak mudah bagi saya mengingat semua tentang dia. Kisahnya berawal ketika dia yang masih polos jatuh cinta pada pria yang sudah berstatus. Cinta pertama dalam hidupnya, yang mengajarinya banyak hal dan cinta yang pastinya akan paling sulit dia lupakan. Entah karena takdir atau karena kesalahannya yang tidak bisa manjaga diri sebagai wanita, akhirnya dia mengandung anak dari sang pujaan hati. Tapi indahnya cinta hanya dia rasakan diawal. Pengorbanan dari keberaniannya jatuh cinta pada lelaki berstatus harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Ketika dia dan sang buah hati membutuhkan status yang sah, sang pujaan hatipun tak berani bertanggung jawab dan memilih kembali pada istri, anak & keluarga besarnya. Diapun tak dapat membantah karena itu adalah resiko dari pilihannya. Akhirnya dia memilih pergi menjauh dari tempat dimana luka itu tergores dan memulai hidup baru bersama sang buah hati, penyemangat hidupnya. Hingga pada suatu titik dia menyerahkan sang buah hati pada kakak lelakinya. Karena dia sadar kalau kakak lelakinya lebih layak memiliki dan merawat sang buah hati. Diapun melanjutkan hidupnya dan bertemu dengan cintanya yang baru. Lelaki yang sosoknya memiliki banyak kesamaan dengan cinta pertamanya. Walau lelaki kedua bukanlah lelaki yang bisa memanjakannya dengan materi tapi dia bahagia. Diapun melahirkan 2 anak lelaki dan 1 anak perempuan yang akhirnya meninggal saat bayi. Ujian datang bertubi - tubi, silih berganti, tapi dia tetap sabar menghadapinya. Setelah kehilangan Ibunya saat mengandung anak ketiganya dan setelah dia melahirkan anak ketiganya, kondisi kesehatannya menurun drastis. Kelainan jantung yang dideritanya dari kecil kambuh karena jarak melahirkan yang terlalu dekat dan kesibukan yang harus di kerjakannya sebagai ibu, istri dah wanita bekerja. Diapun berjuang lagi. Untuk sembuh agar dapat mendampingi kedua anak lelakinya yang masih kecil - kecil. Bertahun - tahun dia berjuang dengan sakitnya sampai tubuhnya menjadi kurus kering. Tak ada lagi sosok wanita muda yang begitu energik dengan tubuh sintal, kulit putih dan berwajah cerah. Berganti dengan sosok wanita tua yang berjalan tertatih - tatih dan tulang pipi yang menonjol. Semangatnya untuk hidup dan kasih sayang yang tulus yang terpancar dari kedua matanya untuk anak - anaknya adalah 2 hal yang tak pernah hilang darinya. Satu hal yang saya selalu ingat adalah malam terakhir saat saya bisa tidur di dekatnya ketika dia berkunjung ke rumah saya untuk berobat. Merasakan elusan tangannya yang ringkih di rambut saya. Saya lupa cerita apa yang dia katakan pada saya malam itu. Keesokan harinya saya yang masih duduk di kelas 2 SMP ngambek padanya. “ Ayuk, cepat mandi. Hari sudah sore, “ pintanya. Saya juga lupa apa saat itu saya mau mandi atau tidak. Yang jelas malamnya saya berlari ke kamar Mama ( bibi = istri dari kakak lelaki almarhum Ibu, yang merawat saya dari umur 5 thn ) saya. “ Kenapa tidak tidur di kamarmu, “ tanya Mama. “ Gak mau, “ jawab saya dengan wajah cemberut. Mama akhirnya menyerah karena tahu sifat saya kalau lagi ngambek. Mama pasti mendengar kejadian tadi sore. Keesokan harinya, saya masih ngambek. Sayapun berangkat sekolah. Siangnya almarhum Ibu sudah pulang ke kampung. Tak ada firasat apapun sebelumnya. Beberapa hari setelah kejadian itu, saya mendengar kabar bahwa Ibu telah menyerah pada sakitnya. Air mata saya mengalir deras. Perasaan bersalah karena mendiamkannya di saat pertemuan terakhir dan tidak meminta maaf adalah penyesalan yang akan saya bawa seumur hidup saya. Walau waktu yang saya jalani bersamanya hanya sebentar dan tak ada banyak kenangan yang bisa saya ingat, tapi satu yang tak pernah hilang adalah saya begitu menyayangi dan merindukannya sampai kapanpun. Jika waktu dapat saya putar kembali, saya hanya ingin mengulang 2 malam terakhir saya bersamanya dengan kenangan manis. AVSW, 130320.