Tanjakan Ke-9

Tanjakan Ke-9

Sampai hari ini pihak berwajib tidak dapat memecahkan kasus orang hilang yang terjadi di sekitar kawasan perkemahan Tanjakan ke-9. Tidak ada jejak sama sekali. Tak satu pun orang yang dinyatakan hilang telah ditemukan kembali. Semuanya masih menjadi misteri.

********** 

Matahari masih menampakkan kegagahannya siang itu sebelum beberapa jam kemudian kembali ke peraduannya ketika mobil yang dikendarai Haris tiba disebuah warung kecil yang letaknya tidak jauh dari badan jalan utama menuju kawasan Tanjakan ke-9. Setelah beberapa jam berkendara dari kota, Haris dan beberapa orang teman hendak mampir membeli minuman hangat untuk mengusir rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.

“Ris, kita ngapain berhenti di sini?” tanya Bella yang duduk di kursi penumpang sambil celingak celinguk menatap ke luar jendela.

“Astaga Bell, jangan tulalit gitu donk! mampir di warung emang mau ngapain coba selain beli minuman atau makanan,” jawab Haris sambil tersenyum mengejek.

“Enak aja ngatain orang tulalit, kan aku habis bangun tidur monyettttt, mana aku tahu itu warung,” sengit Bella sambil menonjok pelan kepala Haris yang disambut tawa lepas teman-temannya yang lain.

“Lagian ya Ris, kamu yakin itu warung beneran? Coba kamu pikir deh. Jalan sepi begini, jauh dari rumah penduduk tapi ada warung. Udah gitu hampir sore, mana ini tempat berkabut lagi, itu kan horor banget Ris,” ujar Sinta tiba-tiba sambil kedua telapak tangannya memegang pipi dan menatap dengan tatapan ketakutan.

“Sintaaaa!!” pekik teman-temannya serempak.

“Kebanyakan nonton film horor ya begini ini. Gini aja, yang perempuan tinggal di mobil. Biar aku dan Yuda yang ke warung. Kalian mau dibelikan apa?” tanya Haris sambil menoleh ke belakang kursi penumpang.

“Kita pesan teh panas aja deh Ris tapi kita gak mau minum di warung, takeaway aja ya,” jawab Bella.

Yuda yang sedari tadi diam kemudian ikut berkomentar,”Bell, kamu pikir ini café apa? yang punya warung bakal gak punya wadah seperti yang di café-café itu.”

“Nihhh, taruh di sini.” Bella menyodorkan termos air panas kecil ke Yuda untuk diisi dengan teh panas.

“Wahhh bawa termos ternyata,” seru Haris sambil membelalakan kedua bola matanya.

“Berarti kamu yang tulalit Ris, mau kemahan sudah pasti bawa termos air panas. Walaupun dijulukin anggota geng skincare tapi kita gak bodoh ya.” Kali ini gantian Haris yang ditertawakan oleh teman-temannya. 

Haris dan Yuda segera turun dari mobil kemudian mengayunkan langkah menuju warung kecil tersebut. Suasana begitu sepi dan lengang. Mereka segera saja masuk ke warung dan membuka pembicaraan dengan sang empunya warung setelah menyapa dengan sopan. Sesaat kemudian mereka sudah terlibat dalam obrolan santai, basa basi ala budaya timur.

“Ananda berdua ini pasti dari kota. Kalau boleh tahu, ke mana tujuan ananda?” tanya bapak si pemilik warung.

“Kami mau berkemah di sekitar Tanjakan ke-9, Pak,” jawab Yuda.

“Sebaiknya ananda berdua mencari lokasi perkemahan di tempat lain saja. Sebelum mencapai Tanjakan ke-9 ada lokasi perkemahan yang lain. Tempatnya juga bagus dan lebih aman. Saya bisa tunjukan jika kalian mau.”

“Lebih aman?” tanya Haris.

“Sudah dua tahun ini tidak ada orang yang berkemah di Tanjakan ke-9.” Si pemilik warung masih akan meneruskan pembicaraan tapi segera saja di potong oleh Yuda.

“Maaf pak, kami permisi dulu. Kami harus segera tiba di Tanjakan ke-9 karena masih harus mendirikan kemah terlebih dahulu sebelum malam tiba.”

Haris dan Yuda segera meninggalkan warung setelah mereka menghabiskan kopi dan mengambil teh panas pesanan mereka. Tak lupa juga mereka membeli beberapa buah pisang rebus dan singkong goreng. Diperjalanan menuju mobil Yuda sempat berpesan pada Haris untuk tidak menceritakan mengenai pembicaraan singkat mereka dengan pemilik warung, jika tidak, si Sinta yang paranoid dengan kisah-kisah horor bisa memaksa mereka untuk kembali ke kota. Begitu keduanya masuk ke dalam mobil, segera saja Sinta sudah memberondong mereka dengan berbagai pertanyaan.

“Gimana, itu warung beneran kan? yang jualan manusia? itu termos isinya teh panas ya, bukan darah manusia atau hewan gitu?”

Haris yang berada di kursi kemudi hanya menghela napas dan mengangkat bahu lalu bersiap-siap menjalankan mobil. Ia enggan meladeni pertanyaan Sinta. Kemudian Yuda yang duduk di sebelah Haris menoleh ke arah Sinta dan menjawab,” Menurutmu?”

“Kok malah balik nanya sih.”

Dan sisa perjalanan itu mereka lalui dalam keheningan sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Hamparan perbukitan yang indah dan kebun teh benar-benar membuat muda mudi dalam kendaraan itu berdecak kagum. Bella yang terkenal dengan julukan ratu selfie memaksa Haris untuk menghentikan kendaraan di suatu tempat yang menurutnya instagramable dan terlihat beberapa kali mengambil gambar diri di sana.

Ketika mereka hampir mencapai tempat tujuan, tiba-tiba dari kejauhan mereka melihat seorang bapak tua dengan jenggot putih menjuntai dan keseluruhan rambutnya pun panjang memutih, berdiri di pinggir jalan dan memberi tanda dengan lambaian tangan seperti meminta pengendara untuk menghentikan kendaraannya.

“Haris, jangan berhenti! siapa tahu itu manusia jadi-jadian,” seru Sinta.

“Masih mending manusia jadi-jadian, dibacain doa langsung kabur. Kalau ternyata pembunuh berantai gimana?” sahut Bella kemudian.

“Otak kamu di mana Bell? masa iya pembunuh berantai tua renta begitu. Mana kuat melawan kita semua. Itu akibatnya kalau gaulnya cuman sama bedak dan lipstik,” ujar Sinta sengit.

Ketika mobil hampir mendekati bapak tua tadi, Yuda tiba-tiba menyahut,”Ris…itu kan bapak tua yang di warung tadi.” Haris hanya menoleh sekilas kemudian menatap lurus ke depan dan menambah kecepatan kendaraan tanda ia tidak ingin menghentikan kendaraan. Haris tidak ingin mengambil resiko apa pun. Lagipula kepalanya sudah cukup pusing mendengar ocehan Sinta yang tiada henti persis seperti kereta api. Untung saja parasnya yang cantik dengan hidung mancung dan lesung pipi yang menawan menahan emosi Haris agar tidak tersulut dengan ketakutan Sinta.

Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, tibalah mereka di tempat tujuan. Haris dan Yuda segera mendirikan dua buah kemah. Yang satu untuk laki-laki dan satunya lagi untuk perempuan. Setelah makan malam mereka semua masuk ke dalam kemah dan segera tidur. 

“Bell, aku mau buang air kecil. Temenin ya,” pinta Sinta. Mereka kemudian bergegas keluar dari kemah dan berjalan sedikit menjauh mencari toilet yang memang tersedia di lokasi perkemahan. Setelah menemukan toilet alangkah terkejutnya mereka karena toilet tersebut tidak terawat dan terlihat kotor serta mengeluarkan bau yang tidak sedap. Akan tetapi mereka tetap saja menyelesaikan tujuan mereka ke toilet karena sudah tidak dapat menahannya lagi.

Ketika Sinta dan Bella hendak kembali ke kemah, tiba-tiba mereka mendengar suara dari arah belakang. Seperti suara langkah kaki yang menginjak ranting pohon yang memang berserakan di sepanjang jalan menuju  kemah. Mereka menghentikan langkah dan menoleh pelan-pelan. Sinta dan Bella kemudian saling berpegangan tangan ketika tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing yang panjang. Sontak saja kedua gadis tersebut berlari sekencang-kencangnya menuju kemah. Sesampainya di sana mereka merebahkan diri dan saling berebut selimut kemudian merapatkan tubuh satu sama lain lalu tertidur sampai keesokan paginya.

Matahari masih tersenyum malu-malu ketika sekumpulan anak muda itu baru akan memulai hari mereka. Sebelum menuju air terjun Tanjakan ke-9 terlebih dahulu mereka sarapan pagi. Dan sepanjang sarapan Sinta dan Bella menceritakan pengalaman mereka semalam. Sinta mulai berimajinasi jika semalam mereka telah diikuti oleh makhluk halus. Tentu saja Haris dan Yuda tidak terlalu menanggapi cerita kedua gadis cantik itu. 

Mereka menghabiskan hari di sekitar air terjun. Menjelang sore barulah mereka kembali ke kemah. Setibanya di sana muda-mudi tersebut terkejut ketika mendapati kemah mereka dalam keadaan berantakan. Mereka segera memeriksa barang-barang bawaan mereka tetapi tidak satu pun ada yang hilang. 

“Ehhh udah, gak usah parno. Semalam kalian berdua mendengar suara anjing melolong. Palingan ini perbuatan anjing-anjing itu,” tuding Yuda sambil menatap Sinta dan Bella secara bergantian.

Lalu mereka segera merapikan kemah. Haris, pemuda gagah dengan tinggi menjulang itu dengan tatapan elang terlihat sangat terampil menyiapkan segala sesuatunya. Tangannya sangat cekatan memotong batang-batang pohon kecil untuk menyalakan api unggun. Tanpa sengaja Bella menatap Haris dari pintu masuk kemah. Pemuda itu merasa bahwa seseorang tengah memperhatikannya. Ia menoleh ke arah Bella dan menatapnya sinis tanpa berkedip sambil terus memotong batang-batang kayu tersebut.

Bella membuang pandangannya dan bergegas masuk ke kemah. Tiba-tiba ia takut melihat Haris. Ia duduk sambil memeluk kedua kakinya.

“Hei…Bell…ada apa ?

“Aku takut melihat Haris.”

Kemudian mereka mendengar suara Haris memanggil mereka dengan lembut. Gadis-gadis itu segera keluar kemah namun Bella berjalan di belakang Sinta, ia masih takut melihat Haris. Di mata Bella, Haris pemuda dingin dan cerdas tetapi seketika bisa berubah menjadi humoris dan lembut. Satu-satunya yang membuat Bella betah berkawan dengan Haris karena wajahnya yang tampan. Tetapi setelah tatapan tajam Haris sesaat yang lalu membuat Bella sedikit khawatir. 

“Aku  mau ke toilet dulu,” ujar Yuda. Mengetahui Yuda hendak ke toilet, Bella segera berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti Yuda dari belakang. Gadis itu setengah berlari untuk menyamakan langkah dengan Yuda.

“Yud…Yuda…tunggu, aku ikut.”

“Bell, kenapa gak sama Sinta aja sih?”

“Sinta masih asik berbincang-bincang. Aku malas ikutan mereka,” jawab Sinta sembari memeluk lengan kiri Yuda dengan lengan kanannya. Tak lupa Sinta menceritakan perihal prilaku Haris sore tadi.

“Bell, kamu seperti baru mengenal Haris kemarin sore. Haris kan emang begitu orangnya. Dingin…ngalahin kulkas,” celoteh Yuda sambil tertawa renyah. 

Mereka  berjalan meninggalkan toilet setelah menyelesaikan urusan panggilan alam. Namun langkah mereka melambat tatkala semakin mendekat mereka melihat Sinta telah tergolek lemah bersimbah darah di dekat api unggun yang masih menyala.

“Sinta!!!” pekik Bella. Gadis itu menangis meraung-raung. Susah payah Yuda menahan Bella karena ia meronta-ronta hendak mendekati Sinta dan segera menarik Bella untuk menjauhi kemah. Yuda tidak melihat Haris di sana. Seketika bayangan tentang pembunuhan berantai mencuri sejenak ruang nalarnya. Ia terus berlari bersama Bella ke sembarang arah. Yuda baru menyadari bahwa lokasi mereka mendirikan kemah sangat jauh dari badan jalan.

“Yuda, aku capek,” keluh Bella dengan napas memburu. 

“Bell, tunggulah sebentar di sini, diam, dan jangan bersuara!” bisik Yuda. Bella mengangguk perlahan. Yuda bergegas mencari jalan keluar dari areal perkemahan tetapi setelah beberapa saat ia kembali lagi untuk menemui Bella karena tidak menemukan badan jalan

“Bell…Bella.” Yuda mengguncang-guncangkan tubuh Bella tapi gadis itu sudah tak bernyawa. Dari mulutnya keluar cairan berbusa. Yuda lalu kembali lagi berlari ketakutan. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia menatap seseorang dan ia mengetahui dengan pasti bahwa orang itu adalah Haris. Tapi tunggu dulu, mengapa Haris berjalan sempoyongan?. Tak lama kemudian tubuh Haris ambruk ke tanah. Yuda berlari mendapati Haris. Ia terkejut menatap Haris yang sedang memegang leher dengan kedua telapak tangannya yang telah berlumuran darah segar. Yuda duduk bersimpuh, sejenak mereka bersitatap. Haris seperti hendak mengucapkan sesuatu tetapi kemudian ia menutup matanya pelan-pelan dan kedua telapak tangannya pun perlahan terlepas dari lehernya. Tak ada suara. Hening….

**********

“Bu Rianti, sedang apa di sini?” Sapa Bella hangat kepada seorang perempuan muda yang berdiri tidak jauh dari mobil yang sedang terparkir di pinggir jalan. Wajahnya yang baby face menyembunyikan usianya yang hampir menginjak kepala tiga. Bella sengaja turun dari mobil untuk membuang kejenuhan yang sejak tadi hanya duduk di dalam mobil. Ketika melihat Rianti, ia segera menyapa.

“Saya mau menuju ke Tanjakan ke-9 tetapi mobil yang saya sewa tidak bersedia membawa saya ke sana ketika mengetahui arah tujuan saya,” jawab Rianti.

Rianti lalu bercerita bahwa ia hendak menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu tiba di lokasi perkemahan. Ia menyusul karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum berakhir pekan di Tanjakan ke-9. Bella lalu mengajaknya untuk ikut di mobil Haris karena masih bisa menampung satu orang penumpang.

Haris dan Yuda yang telah keluar dari warung melihat Bella dan Rianti sedang bercakap-cakap kemudian mendekati mereka. Bella menceritakan perihal Rianti yang hendak pergi ke tujuan yang sama. Dengan senang hati Haris menawarkan tumpangan kepada ibu dosen termuda di kampusnya.

**********

“Aku haus,” ujar Sinta ditengah-tengah obrolan mereka. Perempuan cantik disebelahnya lalu menyerahkan botol minumannya. Sinta tiba-tiba merasa pusing lalu terjatuh ke tanah tak sadarkan diri. Dan perempuan itu segera mengeluarkan pisau dan melakukan apa pun yang menjadi niatnya mengikuti muda mudi tersebut. Haris yang baru saja kembali dari semak-semak setelah membuang air seninya terkejut mendapati Sinta dalam keadaan bersimbah darah. Ia lalu berlari ke arah mobilnya tetapi keempat ban mobil telah tersayat oleh benda tajam.

“Haris, sebelah sini,” teriak seorang perempuan. Haris menoleh ke arah sumber suara dan mengikuti langkah perempuan cantik itu. Mereka terus berlari nyaris tanpa jeda. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah tempat. Rianti lalu menyerahkan botol minumannya dan tanpa pikir panjang Haris lalu menenggak habis tanpa sisa.

“Tunggu dulu, anda sepertinya sangat hapal dengan tempat ini. Di mana teman-teman anda ?” tanya Haris. Seketika Haris merasa pusing dan mulutnya mulai mengeluarkan cairan seperti busa. Ia lalu menyadari ada sesuatu yang salah tetapi ia terlambat menyadarinya. 

“Kenapa harus saya?”

“Kamu harus bertanggungjawab,” ucap wanita itu sambil tersenyum dingin dengan ekspresi menakutkan.

“Aku tidak melakukan apa pun,” ujar pemuda itu putus asa. Ia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan perempuan bernama Rianti itu.

“Kau ada di sana tapi kau diam saja. Kau tidak menolongnya. Kau sama jahatnya dengan mereka. Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini.” Wanita itu kembali tersenyum sinis dan sesudahnya ia berlalu dan meninggalkan jejak luka irisan benda tajam dileher pemuda itu..

**********

“Yuda, lakukan seperti yang aku perintahkan dan aku jamin kau akan baik-baik saja.”

Berkali-kali pemuda bertubuh sedikit tambun itu menelan salivanya. Seketika ia merasa sesak dan ia begitu tidak berdaya menghadapi perempuan berkulit putih mulus dengan bibir sensual yang sedari tadi mengintimidasinya dengan senyuman iblis dan tatapan tajam bak belati yang siap menghujamnya. 

Sekilas Yuda hanya terlihat seperti berbincang-bincang biasa dengan perempuan berparas manis keibuan itu. Letak mereka yang berdiri agak menjauh dari lokasi air terjun membuat teman-temannya yang lain tidak mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.

“Anggap saja kau sedang membayar dosa masa lalumu,” seringai perempuan itu.

“Ibu Rianti, sebenarnya itu adalah kecelakaan. Kami tidak benar-benar ingin mencelakainya. Saat itu kami kembali lagi. Tapi adik anda…” Yuda tidak melanjutkan ucapannya, ia terhenti di kalimat terakhir.

“Adik kecilku mati, bodohhh!!! dan itu semua karena tingkah konyol kalian, mempermainkan orang yang lemah. Kalian sudah mengurung seseorang dengan tangan dan kaki terikat serta mulut yang dilakban di rumah kosong. Kau bilang tidak benar-benar ingin mencelakainya? Apa kau pikir aku bodoh? Kau tahu diusia berapa aku mendapatkan gelar S3 dan berapa banyak penghargaan yang aku terima dibidangku ?” cecar Rianti.

Yuda bergidik mencium aroma dendam disetiap kata yang dilontarkan Rianti. Memorinya serasa ditarik mundur pada peristiwa empat tahun yang silam. Keisengan masa SMU yang membawa malapetaka. Ia dan teman-teman sekelasnya mempermainkan seorang gadis pendiam berparas ayu dan juga lugu. Menggiringnya ke sebuah rumah kosong, mengunci serta meninggalkannya di sana. Beberapa hari kemudian ia dan beberapa orang temannya kembali ke tempat itu karena orang tua gadis tersebut kebingungan mencarinya. Namun terlambat, gadis itu sudah tidak bergerak. Mereka ketakutan dan memutuskan untuk mengumpulkan semua teman-teman sekelasnya yang berjumlah dua puluh lima orang di suatu tempat. Mereka bersepakat bahwa gadis lugu itu akan menjadi rahasia selamanya.

**********

“Yuda, cepat singkirkan teman-temanmu! Buang di tempat yang sudah aku tunjukkan kepadamu!” perintah Rianti. Yuda melakukan tepat seperti instruksi Rianti. Ia tidak dapat melawan karena saat ini perempuan itu sedang menodongkan pistol ke arahnya. 

“Aku sudah melakukan tugasku. Tolong bebaskan aku. Harislah yang menyuruh kami membersihkan TKP dari jejak sidik jari,”  ujar Yuda dengan tatapan memelas.

“Kamu pasti haus Yuda. Ini minum dulu.” Rianti menyodorkan sebuah botol minuman ke arah Yuda sambil menyunggingkan senyum misteriusnya. Lelaki itu terlihat menelan salivanya sekali lagi dan ia segera sadar bahwa ia tidak akan pernah lolos dari sana.

Rianti menyaksikan adegan demi adegan Yuda yang sedang meregang nyawa dengan tenang dan sesekali tersenyum penuh kemenangan. Ketika Yuda sudah dalam posisi berlutut, segera saja Rianti mendekati dan mendorongnya  kencang dengan kaki kanannya. Yuda dan teman-temannya berakhir dalam sebuah lobang berdiameter sedang tetapi sangat dalam yang mirip dengan sumur tua yang sudah kering. Rianti menutup lobang tersebut sedemikian rupa sehingga tak seorang pun tahu jika di tempat itu ada sebuah lobang.

Perempuan itu mengayunkan langkahnya perlahan meninggalkan Tanjakan ke-9. Sesekali ia menyibakkan rambut lurus sebahunya. Diperjalanan ia membuang pistol mainan sambil tersenyum sinis, melepaskan sarung tangan hitam, dan mengantonginya. 

“Mahasiswa bodoh,” umpatnya.

**********

Matahari mulai menyingsing seiring langkah Rianti. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket kulit berwarna coklat yang dikenakannya. Ketika ia melihat bapak tua pemilik warung kecil, ia berhenti dan menatap tajam. Gadis itu mengeluarkan tangan kanan dari saku jaketnya kemudian meletakkan jari telunjuk di depan bibir, berdesis pelan, dan menggelengkan kepalanya berulang secara perlahan. Lelaki tua itu berlari ketakutan. Walaupun dalam penglihatan yang samar tapi ia tidak lupa bahwa ia melihat gadis yang sama sekitar dua tahun yang lalu.

Rianti tertawa pelan dan segera kembali berjalan menuju mobil yang ia parkir di suatu tempat tersembunyi. Di balik kemudi, tangan kirinya meraih sebuah buku harian, mendekapnya erat seolah ia sedang memeluk adik kecilnya. Dalam isak tangis ia berujar,“Tenanglah adik kecilku, mereka akan membayarnya satu persatu.”

Perempuan itu menatap nyalang sambil mengemudikan mobilnya lalu kemudian berubah sendu dalam sekejap. Tak lama ia tersenyum manis.

“Sisy, ini baru permulaan,” gumamnya.

**********

Bagi segelintir perempuan, 

Perpaduan kecantikan dan kecerdasan bisa menjadi mimpi buruk yang menakutkan.