Tamu dari Selatan

Tamu dari Selatan
Image by <a

“Gday Mate. Can I have coffee, please?”

Muss tergeragap bangun. Usai nyapu dan ngepel kedai, Muss tiduran di bangku kayu, di halaman depan Kedai Musang yang rindang dinaungi pohon . Matahari pagi hangat mengelus mendekap hingga Muss jatuh terlelap. Sampai sebuah suara berlogat aneh membangunkannya.

Sambil mengerjap-erjapkan mata, Muss mencoba memandang dengan teliti tamu yang datang. Tubuhnya tergolong kecil, lebih pendek dari Muss, meskipun tampak sedikit berotot. Ia mengenakan kaos putih bersih yang ditutup dengan jaket katun warna beige. Ada senyum ramah di wajahnya.

Tumben ada tamu menjelang siang begini. Tidak biasanya. Meskipun Klub  Musang buka nonstop alias tidak pernah tutup, biasanya tamu-tamu datang antara sore hingga dini hari. Tapi, rejeki harus diterima dan disyukuri, kan?

“Sure. Let’s go inside. What can I get for you?” Nyawa Muss akhirnya 100 persen kembali, dan ia siap menyajikan kopi. Ia mengajak tamunya masuk ke dalam kedai.

“Can I have skinny cap, please?” tanya si Jaket Beige.

HhmmmI am so sorry, we only serve plant based food and drinks,” jelas Muss, sambil mengangsurkan menu.

Sejenak tamu itu membaca menu, membolak-balik mencari sesuatu, namun terlihat tak menemukan yang diinginkannya.

“Can I have Long Black?” tanya si Jaket Beige ragu.

Muss kembali menatap wajah tamunya. Sebuah pesanan kopi yang tidak tertulis di menu. Tetapi Muss adalah Muss. Ia selalu berusaha menyenangkan hati customer kedai kopinya. Ia mengangguk dan bergegas menyiapkannya.

Si Jaket Beige, yang kemudian mengenalkan DinGo sebagai namanya, tidak langsung duduk setelah berada di dalam kedai. Ia melihat-lihat isi Klub Musang. Ia menemukan beberapa kardus tergeletak bertumpuk di pojokan. Isinya frame-frame foto jepretan Arcto dan lukisan karya Guma.

“Seminggu lalu, kami mengadakan pameran seni. Barang-barang itu belum semuanya diberesin. Ada beberapa yang akan dipajang di tembok kedai ini,” Muss menjelaskan alasan kedainya  berantakan kepada DinGo.

This one is a masterpiece, don’t you think?” tanya DinGo menunjukkan sebuah lukisan. Guma melukiskan suasana Klub Musang saat penuh tamu, lengkap dengan Arcto bermain piano.

“Iya. Waktu itu suasananya benar-benar asyik dan meriah di sini,” jawab Muss sambil menyiapkan kopi pesanan DinGo. Ia meletakkan cangkir berisi air panas lalu mengucurkan espresso ke atasnya.

“Anda pemesan Long Black pertama di sini. Lebih sering tamu minta Americano. Makanya  tidak ada di dalam menu. Saya letakkan di sini ya, kopinya?” kata Muss sambil meletakkan pesanan DinGo di salah satu meja. DinGo masih asyik melihat-lihat lukisan-lukisan.

“Dari logat bahasa dan kopi yang dipesan, Anda berasal dari Selatan, ya?’ tanya Muss tidak bisa menahan keponya. Ia membuang ampas kopi ke wadah khusus, lalu membersihkan portafilter serta memasangnya kembali di tempatnya.

DinGo tidak menjawab pertanyaan Muss. Ia sedang duduk dan menghirup aroma kopinya. Ia menyesap kopinya perlahan, memejamkan mata untuk menikmatinya. Senyum tersungging di wajahnya, tanda ia puas dengan pesanannya.

“Bolehkah saya lihat menu tadi?” DinGo balik bertanya. Muss menyodorkan menu Klub Musang.

“Pernahkah Anda mendengar tentang NAP?” tanya DinGo usai membaca menu dan mengembalikannya ke Muss.

Muss menggelengkan kepala. Ia agak heran dengan tamunya ini. Dia tanya tentang apa tadi? Apa hubungannya dengan menu?

“NAP. Noah Ark Project. Sebuah organisasi yang sangat peduli dengan kaum kita. Pernah dengar cerita tentang Noah Ark?”

Muss mengangguk. Kisah tentang Noah alias Nuh, diceritakan secara turun-temurun di tiap keluarga, klan dan kelompok. Muss mendengar kisahnya pertama kali dari kakeknya. Betapa hingga kini kaum binatang sangat bersyukur, bahwa Noah menyelamatkan leluhur mereka dari bencana air bah.

“Saya lihat menu Anda berbeda dengan menu kedai atau tempat makan lain. Tidak ada menu hewani sama sekali. Mengapa?” DinGo memandang Muss sambil menyeruput kopi.

Muss membalas pandangan DinGo dengan alis bertaut. Muss merasa bicara tamunya melompat-lompat. Tak dimengertinya jalan pikiran si tamu. Tetapi Muss adalah Muss. Ia senang berteman dengan siapa saja, bahkan dengan individu-individu yang tidak biasa.

“Sejak kecil saya dianggap aneh,” Muss memulai penjelasannya. “Karena saya selalu memilih makan atau minum hanya dari bahan nabati. Hampir semua mengolok dan memanggil saya Muss si Herbivora.”

Kakek Muss selalu membesarkan hati jika ada saudara atau teman yang membully Muss. Kakek menyuruh Muss bersabar dan berlapang dada.

“Kalian harusnya ikut bangga," begitu kakek Muss berkata pada siapa pun. "Pada saatnya nanti Muss akan bergabung jadi Seven Hearts,” begitu selalu kata kakek membela Muss.

“Kakek Anda bilang begitu?” DinGo bengong mendengar cerita Muss. “Anda tahu apa itu Seven Hearts?” tanyanya lagi.

“Kakek tidak pernah menjelaskan tentang Seven Hearts. Tetapi dari cara Kakek menyebutkan istilah itu, terlihat Kakek sangat menghormatinya. Emangnya, apa itu Seven Hearts?”

“Saya berani bertaruh, Anda termasuk salah satu Seven Hearts,” jawab DinGo yakin.

“HA???? Saya? Seven Hearts?” giliran Muss yang bengong.