Mama Maya Di Afrika.

Terinspirasi dari Koalisi Mapogo di Taman National Kruger

Mama Maya Di Afrika.



Keluarga kami tinggal di Taman National Kruger di daerah Sabi Sand, Afrika. Aku memiliki seorang anak laki-laki remaja berumur 2 tahun, namanya Simba.
Dan 4 anak yang masih kecil, baru berumur 6 bulan saja.
Kami dijaga oleh 6 jantan gagah.
Mereka paling ditakuti di daerah kami, bahkan terkenal se Afrika.
Koalisi Mapogo namanya, Makulu pemimpinnya.
Anggotanya adalah Pretty Boy, Kinky Tail, Mister T, Scar dan Rasta.
Umur mereka sudah lebih dari 10 tahun, sudah tidak muda lagi.
Makulu yang tertua 15 tahun, tahun ini.
Kalau dalam umur singa, sudah aki-aki.
Ada 10 wanita dewasa, 6 remaja dan 30 anak kecil di kelompok Pride kami,
Semua wanita dewasa di sini bersaudara, entah sepupu atau kakak beradik.
Walaupun hanya 6 wanita yang memiliki anak kecil, tapi semua wanita bekerja-sama menjaga bayi dan anak-anak kami.
Semua anak kami berayahkan 6 pria dari Koalisi Mapogo ini.
Kami sudah biasa berbagi suami. Tidak ada saling iri. Kami saling menyayangi.

Selain 10 wanita dan anak-anak di sini, Suami kami juga memiliki beberapa keluarga lain.
Mereka tinggal di daerah lain, Koalisi Singa Mapogo sering mengunjungi mereka, secara bergantian. Saat suami kami pergi mengunjungi Pride wanita lain, itu adalah saat yang paling berbahaya bagi keluarga kami. Karena kami tidak memiliki perlindungan suami kami. Hanya para wanita dan anak anak.
Bila ada kelompok singa jantan lain yang datang. Mereka akan membunuh semua anak kami.
Para wanita dewasa tidak akan dibunuh, tapi dipaksa menjadi istri mereka. Diperkosa agar melahirkan bayi-bayi baru untuk mereka.
Ini namanya perebutan kekuasaan.
Bila ada ibu yang bersikeras untuk melindungi anaknya dan tidak mau tunduk pada penguasa baru, ibu itu akan ikut dibunuh juga.
Kadang-kadang anak laki-laki yang sudah remaja bisa beruntung melarikan diri. Tapi anak-anak yang masih kecil sudah pasti mati.


“Maya, Kinky Tail meninggal!” kata Binta, kakak perempuanku, memberitahu keluarga kami.
“Dia dibunuh sekelompok singa muda!” Kata Binta.
“Kok bisa?” tanyaku yang tahu kekuatan Koalisi Mapogo yang terkenal.
“Mereka terpisah, 3 suami kita sedang berada di Pride lain. tinggal 3 yang tersisa melindungi daerah ini. 3 singa tua bukan tandingan 4 singa muda!” kata Binta.
Beberapa hari yang lalu koalisi singa muda itu berada di dekat rumah kami. Mereka masih berumur sekitar 5-6 tahun.
Sedang gagah gagahnya dalam usia singa. Sebanding dengan usia 20-an pada manusia.
Sedangkan suami kami berumur 10- 15 tahun. Sebanding dengan usia 50 -70-an tahun pada manusia. Dengan kepergian sebagian anggotanya, 3 suami kami yang tersisa, menghadang mereka sebelum mereka memasuki kompleks kediaman kami. Terjadilah terkelahian ganas antara 3 singa tua suami kami, dan 4 singa muda. Hingga Kinky Tail meninggal. Tapi koalisi singa muda itu kalah, terluka dan pergi meninggalkan daerah kami.
Keluarga kami berduka dengan meninggalnya Kinky Tail, salah satu suami kami.
Koalisi Mapogo tinggal 5 singa tua sekarang. Berkurang sudah perlindungan kami.

Tak lama kemudian Koalisi muda itu kembali lagi menantang Koalisi Mapogo.
Mereka kembali saat Koalisi Mapogo terpisah lagi. Rupanya mereka tahu jadwal suami kami mengunjungi istri mereka di daerah lain. Saat 3 suami kami pergi. Hanya 2 yang tersisa untuk menjaga kami, Koalisi 4 singa muda itu menyerang lagi. 2 singa tua bukan tandingan 4 singa muda. Kali ini suami kami Mister T tewas di tangan mereka. Untunglah 3 suami kami yang sedang pergi mendengar lolongan permintaan tolong dan segera kembali untuk membantu perkelahian. Sehingga kelompok singa muda itu tidak bisa mengambil alih kekuasaan di keluarga kami. Mereka pergi lagi meninggalkan kami. Anak-anak kami masih bisa selamat.

Beberapa bulan setelah itu hidup kami tenang kembali
Koalisi singa muda itu belum datang lagi.
Tapi bukan cuma koalisi singa jantan yang perlu diwaspadai.
Turis dari mancanegara selalu berlalu-lalang melihat kami setiap hari.
Taman National ini memiliki banyak penjaga.
Tapi jangan mengira kami aman dijaga mereka.
Seringkali ada turis kaya yang menyuap penjaga, agar mereka bisa menembak singa.
Belum lama ini suami kami Scar dan Rasta meninggal dibunuh oleh turis, dibantu pemandu wisata yang menyogok penjaga kami.
“Katanya kita Raja hutan, tapi kok kalah sama manusia?” tanya anakku Simba.
“Apakah manusia lebih kuat dari kita Ma?” tanya Simba.
“Nggak, manusia itu lemah, kita bisa mudah memakan mereka.” kataku.
“Tapi kenapa kita selalu kalah?” tanya Simba.
“Karena mereka pintar, mereka bersenjata!” kata Binta, kakakku.
“Makanya kamu harus belajar yang pintar agar bisa mengalahkan manusia!” kataku.
“Apakah singa bisa mengalahkan manusia Ma?” tanya Simba.
“Suatu saat pasti bisa!” kataku.
“Kakekmu pernah mengalahkan manusia!” kata Binta bangga.
“O ya? bagaimana ceritanya tante, ceritain dong!” tanya Simba senang.
“Manusia bodoh itu asik memotret keluarga kita, lupa menutup kaca jendelanya. Jadi kakekmu bisa masuk ke mobil mereka!” kata Binta.
“Tapi itu langka terjadi, Kebanyakan manusia tidak bodoh begitu, mereka selalu naik mobil yang kuat, ada yang pake jeruji besi, ada yang pake kaca. Mereka biasanya bersenjata!”
“Kita bisa curi senjata mereka!” kata Simba.
“Kita tidak perlu senjata mereka! Kita jauh lebih kuat dari mereka! Lihat tangan dan gigi kita ini senjata kita!” kataku.
“Kalau mereka tidak naik mobil, sudah habis mereka!” kata Binta.
“Kenapa mereka jahat suka membunuh kita?” tanya Simba.
“Memang sudah sifatnya manusia. Dari dulu jahat begitu! Kita bangsa singa cuma membunuh kalau lapar, cuma untuk makanan. Tapi manusia membunuh untuk rekreasi, karena mereka suka aja membunuh. Padahal mereka tidak suka memakan daging kita.” kataku.
“Mereka species yang paling berbahaya ya Ma?” tanya Simba.
“Betul!” jawabku.


Aku sedang bermalas-malasan tiduran di rumput yang hijau, sambil menyusui keempat anakku yang masih kecil. Tiba tiba Binta kakakku berlarian.
“Maya, ….Gawat Maya…!” katanya sambil terengah-engah.
“Ada apa Binta?” tanyaku.
“Ada Koalisi singa muda itu mendekat lagi ke rumah kita!” teriak kakakku Binta
Buluku berdiri, aku tahu bahwa anak-anakku dalam bahaya.
Mungkin mereka tahu bahwa Koalisi Mapogo tinggal dua,
Tinggal Makulu dan Pretty boy yang tersisa.
Itupun mereka  sedang tidak berada di rumah, sedang mengunjungi istri mereka di Kelompok Pride lain, jauh di seberang sana.

Simba ketakutan.
“Dengar Simba, sebelum mereka tiba, kamu harus lari!” kataku.
“Aku mau melindungi keluarga ini, aku tidak mau lari!” kata Simba.
“Simba, kamu masih remaja, kamu tidak bisa melawan koalisi singa jantan dewasa!” kataku.
“Tapi kita lebih banyak, ada 10 wanita dewasa dan 6 remaja di sini!” kata Simba.
“10 wanita dewasa dan 6 remaja, bukan tandingan 4 jantan dewasa!” kataku.
“Apalagi cuma ada 2 remaja pria, yang 4 lagi remaja wanita!” kata Binta
“Kamu dan sepupu laki-laki mu harus lari berdua. Remaja wanita aman di sini. Mereka tidak akan membunuh wanita yang sudah akil-balik.” kataku.
“Tapi bagaimana dengan keempat adikku dan sepupu-sepupuku yang masih kecil?” tanya Simba.
“Kami bersepuluh akan berusaha melindungi mereka, tapi kau tahu tidak banyak yang bisa kami lakukan, kemungkinan besar kami tidak mampu menyelamatkan mereka.” kataku.
“Kami akan lari dan pergi mencari ayah!” kata Simba.
“Jangan Simba, ayahmu ada di kelompok Pride wanita lain, Kamu tidak akan diterima di situ! Kalau kalian ke sana, ayahmu akan membunuhmu!” kata Binta.
“Masa ayah membunuh anaknya sendiri?” tanya Simba.
“Kamu tidak mengerti Simba, Kamu bukan anak-anak lagi, sudah remaja. Jantan dewasa tidak akan membiarkan Jantan lain mendekat ke Kelompok Pride mereka. Walaupun itu anak mereka sendiri. Sebab mereka bukan ibu dan tante kandung kamu. Mereka wanita lain!” kata Binta.
“Sudah jadi naluri singa jantan untuk membunuh bayi dari singa jantan lain. Ayahmu tidak akan mengambil resiko keselamatan anak-anaknya di Pride wanita lain itu.” kataku menjelaskan.
“Tapi aku  tidak akan membunuh saudaraku sendiri. Aku kan anak baik Ma!” kata Simba.
“Dengar Simba, jangan mencari ayahmu! Kamu sudah cukup besar untuk hidup mandiri. Pergilah bentuk koalisi berdua dengan sepupumu. Jangan masuk ke kelompok lain. Tunggu hingga kalian cukup dewasa, sekitar 5 tahun. Baru kalian bisa mencari istri.” kataku.
“Pergilah cepat sebelum Koalisi muda itu datang ke sini!” kataku.
Simba meneteskan air matanya, Mengeluskan kepalanya padaku dan Binta, Lalu dia pergi bersama sepupu laki-lakinya.

Tak lama kemudian Koalisi 4 singa muda itu sudah berada di rumah kami.
Kesepuluh wanita berlarian berusaha melindungi anak-anak kami dari serangan keempat singa muda itu.
Tapi apalah daya. Satu persatu anak-anak kami yang masih kecil dibunuh mereka.
Hanya ada 2 pilihan bagi wanita seperti kami.
Bila kami berusaha melindungi anak kami mati-matian, kami akan dibunuh mereka.
Bila kami ingin hidup, kami harus tega membiarkan mereka membunuh anak kami.
Dan Singa jantan penguasa baru akan memperkosa kami, agar kami melahirkan bayi mereka.
Aku memilih pilihan pertama.
Walaupun aku lemah, satu-persatu anakku terbunuh.
Tinggal satu yang masih hidup.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk melawan keempat singa muda itu, agar anakku bisa lari.
Tapi anak sekecil itu tidak bisa berlari jauh.
Aku sudah berlumur darah, tubuhku habis tercabik-cabik mereka.
Kuhembuskan napas terakhirku.
Semoga anakku Simba dan sepupunya bisa menyelamatkan diri. Bisa membangun koalisi baru. Gagah seperti ayah-ayah mereka. Menguasai rimba Afrika.
Bila seandainya aku bisa diberi kesempatan hidup lagi, aku ingin jadi manusia, tidak mau jadi singa!

 

“Maya, cepat bangun, kita mau tur safari hari ini!” kata suamiku.
Kubuka mataku, Kulihat George sedang membersihkan senjatanya.
“Aku ingin menembak Singa yang paling besar!, nanti aku kuliti dan kepalanya aku pajang di kantorku!” kata George.
“Bukannya dilarang nembak singa di sini? Ini kan tempat perlindungan singa?” tanyaku.
“Ah gampang, Tur guide bilang asal aku berani sogok penjaganya, semua bisa diatur!” katanya.
“Jangan ditembak, kasihan!” kataku.
George tertawa,"Ngapain kamu kasihan sama singa?"
"Kalau kamu ketangkap Polisi gimana?" tanyaku berusaha melakukan mendekatan dari sisi lain. George tidak peduli orang lain, apalagi binatang. Cuma peduli dirinya sendiri.
"Kamu kira aku turis pertama yang hunting di sini?" kata George.
"Kalo Polisi di sini nangkepin turis yang hunting, sudah lama taman ini bangkrut! Kamu kira berapa gaji polisi di Afrika?" kata George.
"Tapi nanti mereka akan punah kalau terus diburu, nggak bagus buat keseimbangan ekosistem kita, Kalau mereka punah......" Aku berusaha menjelaskan kepada George.
“Ah kamu ini, jangan ikut campur urusan laki laki. Ayo cepat siap-siap!” kata George memotong pembicaraanku.

 

Terpaksa kuturuti kemauan George suamiku. Memang aku sudah tahu bahwa tujuan wisata kita ke Taman National Kruger adalah untuk menembak Singa. Tapi sejak mimpiku kemarin, aku jadi berubah pikiran. Kenapa aku mimpi jadi singa kemarin?
Cuaca hari ini cerah. Kami membawa banyak daging mentah untuk memancing singa mendekat. Pemandu wisata juga membawa rekaman suara singa, untuk memancing singa mendekat. Setelah kami tiba di daerah yang strategis, Pemandu wisata mulai memainkan rekaman suara singa itu. Tak lama kemudian beberapa singa jantan mendekat. Kelihatannya mereka sebuah koalisi. Pemandu wisata menyiapkan kamera untuk merekam petualangan George. Suamiku ingin memamerkan video itu ke teman-temannya. George sudah siap dengan senapannya.
George menembakkan senapannya pada seekor singa yang mendekat. Singa itu terluka, tapi belum mati. Dia berlari menghindar. Tapi bau daging mentah membuat singa lainnya tetap mendekat ke mobil kami.
George memperbesar bukaan kaca mobil hingga terbuka semua.
“Jangan dibuka lebar pak, bahaya!” kata pemandu wisata.
“Ah kalau cuma dibuka sedikit susah nembaknya. Yang tadi belum mati! Lagian biar rekaman video kamu lebih jelas, kalau terhalang kaca nanti kurang bagus gambarnya!” kata George
“Aku takut sayang!” kataku.
Tapi George cuma tertawa mendengarku.
“Dasar perempuan, penakut!” katanya.
Secepat kilat seekor singa besar meloncat ke jendela, mengigit leher George dan menyeretnya keluar. Singa lainnya menggigit pemandu wisata itu.
Aku menjerit ketakutan dan berusaha menutup kaca mobil.
Tapi terlambat. Seekor singa lain menggigitku leherku dan menyeretku keluar mobil.

Kurasakan rasa sakit yang teramat sangat. Tapi rupanya mereka belum membunuhku.
Aku diseret ke semak-semak. Kulihat ada banyak singa lain di situ.
“Selamat Kimba!  Kamu memang hebat. Baru kali ini ada singa yang bisa mengalahkan manusia!” kata seekor singa.
Entah mengapa aku bisa mengerti percakapan mereka.
“Dulu sekali pernah ada. Tapi sudah beberapa generasi, tidak ada lagi yang bisa melawan manusia!” kata singa yang lain.
“Hebat, hebat cucuku Kimba!” kata seekor singa tua.
“Berkat Kakek Simba yang selalu menyemangati aku dan mengajari aku!” kata singa yang dipanggil Kimba itu.
“Mamaku Maya dulu bilang, kalau kita belajar jadi singa yang cerdas, suatu hari nanti kita bisa mengalahkan manusia!  Aku selalu ingat itu. Walaupun aku tidak bisa mengalahkan mereka, Tapi cucuku Kimba sekarang bisa! Aku bangga sekali!” kata singa tua yang dipanggil Simba itu.
Simba? Mungkinkah dia Simba anakku di mimpi semalam?
Ternyata dia berhasil menyelamatkan diri dan membangun keluarga besarnya sendiri.
Apakah mimpi itu benar? Apakah aku dulu hidup sebagai singa betina?
Apakah Tuhan mengabulkan doaku untuk menjadi Manusia?
Tapi menjadi manusiapun hidupku tidak lebih baik? Aku tetap wanita yang tidak berdaya, tidak mampu mencegah suamiku melakukan kekerasan.
“Ini hadiah buat kakek Simba!” kata Rimba, menaruh tubuhku di hadapan kakeknya.
“Terima kasih cucuku!” kata Simba.
Simba mengigitku dengan lahapnya.
Simba tidak menyadari bahwa aku adalah Maya.
Mamanya dulu yang sangat sayang padanya, yang mengharapkan keselamatannya.
Tubuhku merasakan sakit yang teramat sangat.
Kuhembuskan napas terakhirku tanpa daya.
Bila aku diijinkan hidup lagi, aku ingin menjadi laki-laki saja.
Bisakah aku memperbaiki diri, bila diberi kesempatan?
Bisakah putaran kekerasan ini dihentikan ?
Atau memang ini sudah takdir dunia, Tuhan?