TAMAN DIRI

TAMAN DIRI
taken from Pinterest

TAMAN DIRI 

 

No man is an island. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Bahkan di saat seseorang begitu hebat sekalipun, hidupnya baru akan bermanfaat dan bermakna ketika ia membagikan pengetahuan dan kebijaksanaannya kepada orang lain. Dunia ini adalah dunia yang mengalir. Segala sesuatu ada kalanya mengalir masuk, dan ada kalanya keluar. Dan makna hidup seseorang ditentukan oleh seberapa banyak ia belajar dari dunia, dan seberapa banyak ia menginspirasi dunia. 

 

Mengalir dan terhubung. Begitulah setiap orang dan segala sesuatu di alam semesta ini. Setiap orang akan selalu memiliki hubungan memberi dan menerima dengan orang lain dan alamnya. Menariknya, semua hubungan itu bersumber dari dalam diri seseorang. 

 

"What we think, we become. What we feel, we attract. What we imagine, we create.” Apa yang kita pikirkan, itulah jadinya kita. Apa yang kita rasakan, itu yang kita tarik untuk hadir ke dalam hidup kita. Apa yang kita bayangkan, itulah yang kita ciptakan. 

 

Setelah memahami hal ini, cara pandang saya terhadap hidup menjadi berbeda. Juga cara pandang saya terhadap diri saya dan orang lain yang saya temui. Ketika berinteraksi dengan kehidupan dan dengan orang lain, saya membawa prinsip ini pula. Saya belajar memahami bahwa hidup dan orang lain di sekitar saya adalah cermin yang merefleksikan siapa diri saya. Baik dan tidak baiknya hubungan saya dengan orang lain menjadi salah satu cermin untuk saya berkaca. Cermin yang menuntun saya untuk menemukan diri sejati. 

 

Di dalam hubungan dengan orang lain, baik saat menerima ataupun memberi, ternyata selalu ada pesan untuk melihat refleksi diri. Hubungan saya dengan orang lain, sangat ditentukan oleh hubungan saya yang miliki dengan diri sendiri di dalam. Komunikasi saya dengan orang lain menggambarkan komunikasi saya dengan diri sendiri. Kesadaran tentang hal ini membuat perbedaan saat berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika seseorang masih menghakimi dirinya sendiri, maka ia akan dengan mudah menghakimi orang lain. Hal yang sama berlaku di sisi lain, ketika seseorang sudah mampu menghargai dirinya, ia pun akan sangat mudah menghargai orang lain.

 

Perbedaan sikap seseorang terhadap dirinya seringkali menentukan caranya menanggapi orang lain saat menjalin komunikasi. Seseorang bisa menjadi reaktif atau responsif. Reaktif adalah saat seseorang menempatkan diri di posisi bertahan, untuk mempertahankan hal yang ia sudah ketahui. Namun responsif, adalah saat seseorang menempatkan dirinya di posisi terbuka, untuk mengetahui hal yang belum ia ketahui. 

 

Ketika seseorang masih rentan terluka di dalam dirinya, taman di dalam dirinya masih sering mengalami hujan dan badai. Hal ini membuat seseorang mudah merasa tidak aman sehingga ia merasa rapuh dan perlu mempertahankan diri. Ia akan cenderung menanggapi dengan cara reaktif. Saat menjalin komunikasi reaktif, yang ada adalah lawan bicara. Ada perasaan perlu melawan dan bertahan. Perkataan yang diterimanya entah kenapa terasa menyerang. Bukan tentang apa yang dikatakan orang kepadanya, tetapi lebih karena luka di dalam dirinya sendiri. 

 

Ia mendengarkan orang berbicara dengan maksud untuk segera menanggapi, menyanggah, atau langsung berusaha memberi nasehat yang belum tentu diperlukan oleh lawan bicaranya, karena tujuan utama komunikasi reaktif adalah mempertahankan kebenaran diri.  Tidak ada kedamaian, kehangatan, atau solusi dari bentuk komunikasi ini. Yang ada hanya rasa menang atau kalah, benar atau salah, dan pada akhirnya, akan ada yang melukai dan yang terlukai. Sangat melelahkan dan menguras energi. Dan bentuk semacam ini bisa terjadi dalam hidup sehari-hari. Antara orangtua dan anak, pasangan, rekan kerja, teman. Dan semua berawal dari taman-taman diri yang belum tertata indah.

 

Namun, ketika seseorang sudah berdamai dengan dirinya, ia mampu menerima dan menenangkan hujan dan badai di dalam, ia akan bisa menata taman yang indah dan nyaman di dalam dirinya. Ia mampu melihat dan mendengar menggunakan hatinya. Rasa di dalam akan menuntunnya dengan jernih saat ia menjalin hubungan dengan orang di sekitarnya. Saat inilah seseorang akan bisa berkomunikasi dengan cara responsif. Tujuan utama komunikasi ini adalah untuk merespon. Dan tak ada lawan di sini, yang ada adalah teman bicara. Tidak ada benar dan salah, yang ada adalah kebenaran menurut pandangan yang satu dan kebenaran menurut yang lain. Kebenaran bisa hadir dalam bentuk dan jalan yang berbeda. Ada pemahaman bahwa berbeda itu wajar dan mengayakan. 

Di komunikasi responsif, seseorang mendengarkan untuk mengetahui hal-hal yang belum ia ketahui, sehingga ia bisa memahami lebih banyak. Ada 4 kebutuhan manusia untuk merasa penuh dan utuh, yaitu kebutuhan untuk dicintai, dihargai, diakui, dan dimengerti. Dan komunikasi responsif adalah cara komunikasi jiwa, karena dengan mendengarkan untuk memahami, seseorang sebenarnya sedang menunjukkan kepada teman bicaranya bahwa ia mengerti mereka, mengakui mereka, menghargai mereka, dan mencintai mereka. Bukan hanya kata yang tersampaikan, melainkan juga rasa. Dan rasa yang terpancar akan berbicara lebih kuat daripada kata yang terucap. Komunikasi responsif membangun tujuan bersama, maka hasil akhirnya adalah mendekatkan.

 

Semakin sembuh seseorang, semakin indah ia di dalam, dan semakin sejuk pancaran rasanya. Maka, tepat rasanya jika dikatakan bahwa komunikasi yang efektif dimulai dari kesembuhan di dalam. Dan komunikasi yang berhasil adalah komunikasi yang mengisi, menyembuhkan, menguatkan, dan mencerahkan.

 

Jika saja lebih banyak orang memahami kesembuhan diri sebagai jalan penerang komunikasi, maka dunia akan menjadi tempat yang lebih baik. Akan semakin banyak kolaborasi yang melahirkan karya hebat. Lebih banyak anak yang bertumbuh dengan bahagia karena ia bisa mengkomunikasikan dirinya kepada orangtuanya dan didengarkan serta dipahami. Lebih banyak orangtua yang bahagia karena berhasil menjadi pendamping dan pembimbing anak-anaknya. Pasangan saling jatuh cinta berkali-kali di sepanjang hubungan mereka. Salah paham diakhiri dengan tawa menertawakan kebodohan bersama. Masalah dipecahkan dengan solusi terbaik dan menjadi keberhasilan bersama. 

 

Dan semua ini dimulai dari taman-taman di dalam diri. Hubungan indah di luar adalah cerminan dari taman indah di dalam. Dimulai dengan refleksi ke dalam dan bersikap responsif terhadap diri sendiri. Ganti kutipan bahwa musuh terbesar adalah diri sendiri. Malah, diri sendiri adalah sahabat terbaik kita dan satu-satunya yang selalu bersama kita. Maka salah satu hubungan terpenting yang bisa seseorang miliki di dunia ini adalah hubungannya dengan diri sendiri. Mulailah menyembuhkan diri. Karena dengan menyembuhkan diri, seseorang juga menyembuhkan dunia. Dari dalam ruang diri yang kecil, cahaya yang bersinar akan terpancar terang keluar menerangi dunia. 

 

Sebuah mantra indah kuno dari Hawaii, mantra Hooponopono menggambarkan komunikasi responsif ini dalam 4 kalimat menyejukkan, “Aku menyesal. Maafkan aku. Terima kasih. Aku mencintaimu.” Mantra yang menyembuhkan taman di dalam, dan mempercantik taman dunia bersama di luar.