Surga di bawah telapak kaki Ibu

Surga di bawah telapak kaki Ibu

Ku habiskan sarapan kue ku, sembari menatap layar laptop yang masih kosong, tak terisi sepatah katapun. Aku bingung, ide apa sekiranya yang bagus untuk ku tulis, menjadi sebuah cerita. Sebab waktu pengumpulan tugas, sudah semakin dekat, sementara aku masih belum menulis apapun.

Hari ini kuputuskan, untuk pergi ke pasar tradisional yang berada di dekat rumahku. Berharap bisa mendapatkan inspirasi disana. Ku simpan kembali laptopku lalu, bergegas menuju ke pasar. Sesampainya disana, tempat yang pertama kali ku tuju adalah parkiran. Kenapa? Karena tempat itu adalah tempat lalu lalang kendaraan dan tempat keluar masuknya barang di pasar. Selain itu, alasannya adalah karena salah satu guru menulisku di the writers Om Bud pernah berkata bahwa pasar tradisional adalah gudang inspirasi. Sebagai murid yang ber sami'na wa atho’na aku pun mempraktekkan kata-kata itu. Benar saja setelah hampir 30 menit aku mengamati parkiran . Aku mendapatkan ide untuk tugas membuat cerita yang  berasal dari belakang truk.

“Surga di bawah telapak kaki ibu” tulisan di belakang bak truk pengangkut sayuran itu. Dengan gambar sebuah kaki yang menginjak muka seorang anak kecil. Gambar unik yang membawaku kembali ke cerita nostalgia masa lalu. Waktu aku masih berumur 8 tahun. Saat itu, aku sedang ikut pelajaran mengaji di masjid dekat rumah. Ketika guruku sedang meneranggkan hadist yang menjelaskan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Aku langsung memotong pembicaraanya. Kemudian bertanya karena ada hal yang sangat menggangguku pikiranku.

“Ka aku mau nanya kenapa surga adanya di bawah telapak kaki ibu? Kenapa Bukan di bagian tubuh yang lain, misalnya wajah atau tangan.” Tanyaku. Sontak teman-temanku langsung hening kebingungan dengan pertanyanku. Sementara Ka Adin guru mengajiku hanya tertawa mendengar pertanyaan dariku. Malah dia bertanya balik  kepadaku

“Kalo menurut kamu kenapa de?

Aku mengangkat kedua bahuku, sebagai tanda bahwa aku tidak tahu. Kemudian aku kembali melanjutkan perkataanku tadi.

“Gini ka, kalau surga berada di bawah telapak kaki ibu. Aku, nggak bisa membayangkan bagaimana bentuknya surgaku nanti. Karena ibuku orang yang sangat sibuk. Setiap hari saat pagi beliau berkebun dan saat dia berada di kebun dia tidak mengenakan alas kaki, hingga membuat kakinya kotor dan penuh luka goresan. Lalu siangnya, lanjut berjalan kaki cukup jauh, karena kami berjualan nasi campur di tempat yang agak jauh dari rumah. Bukannya aku nda kasihan, dan nda mau membantu. Seandainya sepeda bmxku bisa kugunakan untuk memboncengnya pasti sudah kulakukan. Tapi sayangnya sepedaku sudah penuh dengan bahan-bahan untuk jualan. Sebab aku adalah kurir nomor 1 ibuku yang bertugas mengangkut semua barang-barang jualan. Gegara itu kakinya setiap hari selalu pegal dan dalam keadaan kotor. Untuk sedikit  meringankan bebannya hal yang bisa ku lakukan hanyalah membantu membersihkan kakinya dan memijat kakinya. Namun itu belum cukup karena setelah kakinya bersih, yang terlihat malah goresan-goresan luka. Jadi aku berpikir, apakah surga tempatku nanti, tidak akan indah. Mengingat kondisi kaki ibuku yang seperti itu.

Aku lebih suka, apabila kata-kata itu di rubah menjadi surga berada di wajah ibu. Sebab aku sangat suka melihat wajah ibuku yang sangat cantik berkulit putih berwajah sedikit oriental khas perempuan-perempuan suku dayak. Di tambah lagi saat aku menatap wajah ibuku dengan seksama senyumanya selalu membuatku nyaman, dan tenang.

Atau begini kata-katanya surga berada di tangan ibu. Kenapa? Karena belaian lembut tangannya selalu membuatku bebas dari masalah seberapa besar pun  situasi yang ku hadapi. Misalnya saja waktu aku sakit. Ntahlah sakit apa namanya, tapi itu cukup untuk membuatku berjanji kepada Tuhan saat aku sembuh  aku janji tidak akan nakal lagi. Pengobatan pertama yang kulakukan adalah meminta tolong di urut kepada ibuku,  menggunakan minyak tanah, di campur minyak goreng  di beri irisan bawang merah. Aku kurang tau khasiat spesifiknya apa tetapi itu mujarab. Cuma dalam waktu semalam sakitku hilang. Setelah sembuh aku langsung lupa dengan janjiku kepada Tuhan bahwa tidak akan nakal lagi. Hehehe

Ka Adin hanya tersenyum mendengarkan ceritaku

“cerita kamu nda salah sih cuma jawaban pasnya bukan itu ade” Balasnya.

Lalu ka Adin melanjutkan penjelasannya 

Dalam hal apa pun, sebagai seorang anak sudah seharusnya kita mementingkan kepentingan seorang ibu dibanding kepentingan pribadi. Jadi kita tidak boleh melawan, membantah, membentak, bahkan sampai menyakiti hari ibu. Malahan, kita semua harus menyayangi ibu dan buatlah hari-harinya tersenyum bahagia atas setiap perbuatan dan perkataan yang diberikan untuk ibu. Sesungguhnya, surga berada di telapak kaki ibu.

Nah begitu penjelasannya Ade sudah ngerti ya, buat semuanya juga.

Kita akhiri pelajaran hari ini silahkan pulang ke rumah masing-masing.

Wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh.