SURAT CINTA

Pengalaman berharga di awal masa pacaran

SURAT CINTA

SURAT CINTA

Ini kisahku di usia awal dua puluhan, lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Ya, tentu tidak jauh dari percintaan lah, namanya juga masih muda. Kalau ada generasi Z sekarang yang bertanya “emang nenek dulu pacaran ?“ pasti kujawab “ya iya lah kan nenek juga pernah muda, tidak selalu tua seperti sekarang” he he he he …. Jadi mohon dipahami, nenek-kakek juga pernah jatuh cinta, pernah putus cinta, pernah konyol karena cinta, sekaligus juga bahagia karena cinta. Cinta itu ada di mana-mana, pada siapa saja, kapan saja.

Nah, ketika itu aku sedang jatuh cinta sehabis daya kepada kakak kelas lain jurusan. Bukan karena tampangnya (dia samasekali tidak tampan) tapi lebih karena wawasan dan kecerdasannya, dan juga aktivitasnya sebagai pemuka organisasi mahasiswa waktu itu. Ngomong dengan dia terasa nyaman dan menyenangkan, kami bisa diskusi tentang segala macam hal. Ketika itu, bisa berdiskusi merupakan daya tarik utama seorang laki-laki bagiku. Maklum, masih di masa-masa berambisi jadi “intelektual “ he he he … Menjadi mahasiswa di paruh pertama tahun 70an masih terasa sangat “elit” dan ukuran  “kekerenan” ketika itu bukanlah IP, melainkan ketokohan dalam organisasi dan klub-klub diskusi.

Jadilah aku jalan sama dia. Berhubung dia termasuk tokoh, sebentar saja tersebar di kampus fakultasku bahwa kami pacaran (kampus kami kecil saja meskipun PTN). Aku sungguh sangat bahagia. Sejak SMA, baru kali itulah aku pacaran lagi. Dengan “tokoh” pula. Aku bahkan tidak peduli dengan sindiran ibuku bahwa pacarku itu cuma mampu parkir sepatu saja di depan pintu sementara adikku yang masih SMA punya pacar yang selalu memarkir motornya di halaman rumah.

Suatu siang aku bertandang ke tempat tinggal pacarku, asrama putra universitas. Hanya ingin sekadar menyapa (alasan, padahal kangen he he he) dan mungkin kongkow sejenak di warung kopi depan asrama. Tapi ternyata dia tidak ada, kata temannya sedang keluar untuk urusan organisasi. Aku diminta untuk menunggu saja karena sebentar lagi dia juga akan kembali. Sambil menunggu, aku melihat tasnya tergeletak di atas meja. Aku tahu persis tas itu milik pacarku, karena pertemuan kami cukup intens dan nyaris tiap hari kami ketemuan di kampus. Jadi aku hapal barang-barang yang biasa dia pakai dan bawa.

Ada kertas separuh keluar dari tasnya itu. Penasaran, aku ambil. Ternyata kertas itu penuh tulisan tangan pacarku, jadi kubaca karena ingin tahu apa yang ditulisnya. Sepertinya sebuah surat, dan bukan sembarang surat, karena isinya penuh kerinduan kepada sang kekasih. Aku langsung kegirangan. Ternyata kami memang  “nyambung”. Aku sedang kangen berat sama dia, eh ternyata dia juga. Dengan penuh gairah aku baca surat itu, kulahap kalimat-kalimatnya mulai dari awal.

Setelah beberapa baris (aku lupa persisnya isinya apa, sudah terlalu lama juga kan) aku sampai pada bagian di mana dia menyatakan penyesalannya bahwa kami tidak jadi menginap bersama di kota B. Aku jadi bingung, kapan kami pernah berjanji untuk menginap bersama? Kan baru mulai jalan, kok sudah “sejauh” itu? Jantungku mulai berdegup kencang dan perasaanku mulai tidak enak. Kutelusuri baris demi baris, mencari nama sang kekasih yang dirinduinya itu. Tidak ketemu juga. Maka cepat-cepat aku membaca surat itu sampai akhir. Di baris terakhir, tertulis nama seorang perempuan. Bukan namaku.

Kuambil tas dari atas meja, kumasukkan lagi surat itu ke dalam tas, dan kuletakkan tas itu di atas meja. Persis pada posisi seperti pertama kutemukan. Lalu kuedarkan pandangan keliling ruangan. Hening. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Jadi kenapa aku merasa sulit bernafas? Seolah ruangan penuh sesak sehingga tidak tersisa udara buatku? Cepat-cepat aku melangkah keluar. Langit biru cerah, matahari bersinar terik. Kuhirup udara dalam-dalam. Kulihat jam di pergelangan tangan. Ternyata sudah hampir pukul empat sore. Aku mesti pulang.

“Hai!” tiba-tiba ada yang memanggil. Aku menoleh, temanku datang menghampiri. “Mau kemana?” tanyanya. “Pulang” jawabku pendek. “Lho, ga jadi nunggu?” tanyanya lagi. “Gak” jawabku. “Laaah ... gimana ... nanti balik lagi kan? Atau besok? Tanggung, bentar lagi juga dia datang” katanya mecoba membujukku. Aku berbalik, memandang temanku, menatapnya lurus-lurus. “Eh, denger ya,” kataku, “aku ga bakal ke sini lagi. Selamanya, OK?” Lalu aku melangkah pergi meninggalkan temanku yang bengong tidak paham kenapa aku jadi “aneh” begitu.

Aku berjalan pulang membayangkan rumahku yang teduh dan nyaman. Tidak seperti asrama mahasiswa itu. Sepotong lirik lagu Bimbo yang sedang populer waktu itu berkelebat di benakku. “Cinta dan kasih sayang, pedoman hidup ...” Tiba-tiba rinduku membuncah. Pada ayah, ibu, adik-adik. Mereka yang mencintai dan menyayangi aku. Tanpa syarat. Tanpa batas.