Solusi Beredar dalam Komunikasi Bawah Sadar

Sebuah Komunikasi yang Jarang Disadari (6 menit baca)

Solusi Beredar dalam Komunikasi Bawah Sadar
Komunikasi itu sederhana, yang rumit pikirannya

Komunikasi, hal yang tanpa sadar kita lakukan sehari hari. Betapa tidak? Mulai dari bangun tidur, kita membangunkan keluarga di pagi hari adalah bentuk komunikasi, kita beribadah itu juga berkomunikasi dengan Tuhan, kita keluar menyapa tetangga, pergi ke pasar melakukan transaksi, atau pegawai kantoran yang melakukan rapat dengan atasan, pasien yang berkonsultasi tentang penyakitnya kepada dokter, sampai menyebrang jalan pun kita menggunakan komunikasi. 

Kita tidak bisa lepas dari komunikasi baik itu secara verbal maupun non-verbal karena manusia adalah makhluk sosial.

Komunikasi meliputi semua aspek kehidupan, ia merupakan kendaraan bagi semua manusia dalam mencapai tujuan, entah itu memberi informasi untuk orang lain atau mengajak orang lain menerima suatu pemikiran. 

Oleh karena itu, komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam bidang apapun, mulai dari keluarga, kehidupan sosial, lingkungan kerja, bisnis, sampai kehidupan bernegara. 

Tapi tak jarang dalam kenyataan, kita menemukan masalah yang kebanyakan disebabkan oleh komunikasi yang salah.

Komunikasi dikatakan tidak berhasil ketika terjadi kesalahpahaman dan perbedaan penafsiran. Sering kali kita memahami suatu informasi menggunakan pikiran sadar, karena disinilah logika digunakan, pertanyaan-pertanyaan kritis muncul, penyesuaian dengan ilmu eksak. 

Pengetahuan dan logika seseorang tentu berbeda dengan yang lainnya. Oleh karena itu muncul sudut pandang yang berbeda. 

Ketika seseorang memberikan informasi pada wilayah kesadaran milik orang lain agar selaras dengan pikirannya, ada dua kemungkinan yaitu orang akan mengikuti karena logika mereka sama atau mereka menentang karena logika yang tak sesuai dengan karakter masing masing. Hal inilah yang kerap kali jadi pemicu konflik dalam kehidupan.

Kebanyakan orang tidak sadar bahwa ada cara yang sangat ampuh untuk mencapai efektivitas dalam berkomunikasi, yaitu dengan menyentuh alam bawah sadarnya. 

Emanuel James Rohn, salah satu motivator Amerika, pernah berkata bahwa


“Efektivitas komunikasi itu berangkat dari 20% apa yang Anda tahu (rasionalitas) dan 80% apa yang Anda rasa (emosionalitas/subconscious)”

Memang penelitian ilmiah membuktikan bahwa tindakan manusia 88% dipengaruhi oleh pikiran bawah sadarnya. Berbeda dengan pikiran sadar, pikiran bawah sadar tidak mengenal prinsip baik dan buruk, salah atau benar. Hal negatif, hal positif, norma baik, norma buruk semua dianggap sebuah realita yang harus diwujudkan dalam tindakan.

Hipnotis adalah contoh komunikasi bawah sadar, yaitu tentang bagaimana seseorang mensugesti pendengarnya, sehingga pendengarnya melakukan apa yang dikatakan pemberi sugesti dalam kondisi sadar atau tidak sadar. 

Banyak sekali definisi hipnotis yang mungkin sangat bervariatif, hal ini menunjukan kekritisan pikiran banyak orang untuk mulai mengenali sesuatu yang baru bagi mereka.

Sebenarnya manusia sudah banyak menggunakan teknik ini, tapi banyak juga yang belum menyadarinya. 

Bagaimana tidak? Kita pasti sering melihat, bagaimana seorang ibu menidurkan anaknya dengan dekapan hangat, diiringi suaranya yang merdu membuat sang anak semakin lama semakin nyaman dan akhirnya tertidur.

Kita pasti pernah melihat ibu-ibu sampai sedih bahkan menangis melihat adegan drama yang menyedihkan di televisi. Hal itu menunjukkan bahwa ketika kita bisa memunculkan nilai atau memasukkan informasi yang diinginkan ke dalam pikiran bawah sadar pendengar kita, kemungkinan besar komunikasi yang kita lakukan akan menuai hasil.

Contoh yang saya dapatkan dan saya alami sendiri adalah ketika Kang Asep dalam kelas hypnopywritting mengajarkan mengenai TDS (Trans Derivational Search). Kang Asep hanya menuliskan kata kata berisi sekumpulan instruksi yang mensugesti para peserta untuk membayangkan sesuatu yang sangat membahagiakan di masa lalu. 

Kemudian kang asep membuat permisalan suatu ‘tanda’ dimana jika tanda itu diaktifkan maka orang tersebut akan merasakan suasana yang sama saat membayangkan hal yang bahagia tadi.

Faktanya, banyak peserta yang membenarkan hal itu, ada yang tertawa bahagia, ada yang merasakan suara ombak seakan kenangan itu terulang kembali dengan suasanana yang sama, bahkan ada yang sampai menangis bahagia karena momen haru yang benar benar tercipta saat itu, saya sendiri sampai senyum senyum sendiri mengalami hal tersebut.

Kemudian ada lagi contoh dari Kang Asep Herna saat membuat iklan untuk kegiatan kemanusiaan pada waktu terjadi Gempa di Palu 2018 lalu. Beliau bercerita bahwa hanya dengan tulisan didukung dengan video dan musik yang mendukung, iklan ini membawa dampak begitu besarnya sehingga banyak penyumbang dana yang tergerak hatinya untuk membantu korban gempa di Palu.

“Selasa sore di-blast, kemudian Jumat atau Sabtu penggalangan dan ditutup hasilnya kira-kira mencapai 18,7 miliar Rupiah”, tutur Kang Asep Herna. Inilah contoh keberhasilan dari komunikasi yang menyentuh bawah sadar manusia.

Lalu Apakah Semua Manusia dapat Menerima dengan Alam Bawah Sadarnya?

Menurut Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSC), tingkat kemampuan manusia menerima saran atau sugesti terbagi ke dalam 3 kelompok.

1. Kelompok Pertama, orang yang mudah disugesti atau mudah menerima pesan. Populasinya 10%.

2. Kelompok kedua, orang moderat, tidak sulit tidak mudah, populasinya 85% (paling banyak).

3. Kelompok ketiga, tipe yang sulit disugesti, populasinya 5% saja (paling sedikit).

Dari data ini kita dapat mengidentifikasi audiens kita, untuk menghindari munculnya konflik yang disebabkan komunikasi. Tentunya kita tidak bisa selalu memaksa orang lain untuk mengikuti sebuah pemikiran, maka disinilah perlunya toleransi untuk menghindari masalah.

Lalu Bagaimana Menerapkan Komunikasi Bawah Sadar?

Kunci dari teknik ini adalah makna komunikasi yang diterima sesorang merupakan respon yang akan anda dapatkan. Misal ada seorang pegawai mengingatkan atasan yang sedang lupa, kemudian direspon dengan marah-marah, maka secara tidak sadar pegawai telah menciptakan makna yang negatif kepada atasan sehingga membuat respon yang negatif. 

Entah itu karena pemilihan kata yang kurang tepat, intonasi suara yang tinggi, dan masih banyak faktor lainnya yang membuat komunikasi menjadi sulit. 

Ketika anda berhasil memunculkan makna yang kita inginkan dalam alam bawah sadar audiens maka kemungkinan berhasilnya komunikasi menjadi lebih besar.

Salah satu tokoh komunikasi terkenal Nick Bothman Memberikan teorinya tentang komunikasi dari Amerika menggunakan prinsip KFC. Teorinya sebagai berikut :

K (know) 

Cari tahu apa yang menjadi tujuan anda atau lawan bicara anda berkomunikasi. Jika telah mengetahuinya pasti anda menjadi paham betul ke arah mana pembicaraan akan berjalan dan menjadi lebih mudah untuk diarahkan. Selain Tujuan anda juga harus mengetahui tempat dan waktu yang pas untuk melakukan komunikasi tersebut.

F (find)

Pastikan anda menemukan teknik untuk mengalihkan pembicaraan agar bisa mencapai tujuan anda yang sebenarnya. Ada teknik Modelling, Anchor, Reframing, Rapport dan masih banyak lagi. 

Hal ini mungkin terasa sulit bagi yang belum pernah melakukan, karena teknik ini membutuhkan jam terbang atau praktik yang lebih lama.

Meski demikian beberapa metode ini mudah dicari dalam kehidupan sehari-hari, dalam buku tentang NLP atau bertanya kepada ahli dan bisa dilakukan siapa saja baik anak kecil sampai orang tua sekalipun.

C (change)

Mengganti cara komunikasi tak kalah pentingnya jika tujuan anda belum tercapai, tergantung suasana dan kondisi yang dialami saat berkomunikasi. 

Dengan menggunakan teknik komunikasi bawah sadar secara benar tentu dapat meminimalkan munculnya berbagai konflik, yang mana disebabkan oleh makna negatif ataupun kesalahpahaman dalam komunikasi. 

Tanpa kita sadari, berita hoax, pertikaian politik, demonstrasi, korupsi, peperangan negara, bahkan provokasi di media sosial adalah contoh penyebaran makna negatif yang terjadi saat ini. Bayangkan betapa mengerikannya, Apabila makna seperti ini terus dikonsumsi alam bawah sadar dan pada akhirnya berdampak negatif pada sikap, cara berbahasa dan tindakan kita. 

Saya setuju dengan perkataan Om Budiman Hakim “ Susunan kata-kata di media sosial bisa lebih berbahaya daripada dentuman sebuah bom nuklir”, betapa mengerikannya bukan? 

Bayangkan jika teknik ini komunikasi ini diterapkan untuk menyebarkan energi positif dalam lingkup yang lebih luas, misal dalam ranah negara. Para ahli NLP bekerja sama dengan seluruh media dalam menyebarkan berita atau membuat konten, pemerintah juga menggalakkan pelatihan komunikasi bawah sadar (Unconscious Communication) untuk Indonesia yang lebih baik.

Kita dapat menganalisis bagaimana negara Taiwan tanpa melakukan lockdown bisa menekan laju penyebaran virus covid-19 sehingga menjadi negara dengan tingkat kematian terendah, hal ini juga contoh keberhasilan komunikasi yang transparan antara pemerintah dan masyarakat sipil di Taiwan agar tidak panik dan membantu menangkal kampanye disinformasi. 

Saya yakin banyak orang akan menyadari bahwa peran komunikasi (baik verbal maupun non-verbal) yang baik sangat dibutuhkan masyarakat, penerapan yang begitu mudah dan ilmiah membuat kita semangat untuk terus mengasah kemampuan berkomunikasi sehingga memunculkan dampak yang positif bagi diri, keluarga, orang lain sampai bangsa dan negara kita.

Oleh karena itu kita harus belajar dan memanfaatkan komunikasi bawah sadar dalam kehidupan sehari hari, karena pada kenyataannya memang seseorang sudah sering menggunakannya tapi jarang yang memanfaatkannya. 

Dengan mampu memanfaatkannya berarti kita semua mampu menyadari setiap kata, kalimat atau tulisan yang keluar dari kita merupakan hipnosis bagi diri sendiri dan orang lain yang menangkapnya.


Referensi :

https://www.dictio.id/t/komunikasi-interpersonal-sebagai-dasar-berkomunikasi/139628

http://www.nlpindonesia.com/about_nlp

https://international.sindonews.com/read/17723/40/mengintip-cara-taiwan-taklukkan-covid-19-tanpa-lockdown-total-1588655131?showpage=all